Semburan Lumpur Tidak Berbahaya

427

GEDUNG BERLIAN – Meski semburan lumpur bercampur gas di Desa Waton, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati menunjukkan intensitas penurunan, masyarakat diminta tetap tenang dan tidak panik. Sebab dari hasil penelitian yang dilakukan, semburan gas dan lumpur tersebut tidak membahayakan. Bahkan air semburan di lokasi, bisa dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, Teguh Dwi Paryono mengatakan bahwa munculnya semburan lumpur di Sukolilo sejak Sabtu (1/11), karena lokasi tersebut merupakan bagian formasi ngrayong. Yakni, lokasi yang sering terjadi akumulasi jebakan minyak. Munculnya luapan lumpur dan air karena pengeboran sampai kedalaman 140 meter, mata bor menembus rembesan gas hidrokarbon. ”Akibatnya ada tekanan gas dan ada akuiver pembawa air tanah, maka air keluar dengan tekanan kuat. Dari analisis yang dilakukan, gas yang keluar aman dan tidak berbahaya,” katanya.

Teguh Dwi menambahkan, potensi air yang muncul cukup besar dan bisa dimanfaatkan masyarakat. Meski begitu, ia masih melakukan uji laboratorium terkait dengan kegunaan air di lokasi tersebut. Dari hasil analisis, air sudah bisa dimanfaatkan. Air yang keluar merupakan air tanah dan tidak ada kandungan logam berat. ”Tapi memang di dalam airnya ada kandungan minyak. Ini masih kami lakukan uji laboratorium,” imbuhnya.

Ia menegaskan, semburan lumpur air di Sukolilo Pati tidak akan sebesar di Sidoarjo. Sekarang pun, intensitas lumpur dan gas sudah mulai berkurang cukup besar. Kondisi permukaan tanah di Pati bukan mud volcano atau berlumpur seperti di Sidoarjo. ”Tekanannya mungkin bisa sama, tapi untuk kondisi tanah berbeda. Di Pati struktur tanahnya keras, sedangkan di Sidoarjo lembek. Jadi tidak akan ada potensi seperti di sana (Sidoarjo, Red),” tambahnya.

Masyarakat diimbau untuk tidak cemas, karena semburan aman dan sudah mengecil. Ia menegaskan, untuk pengeboran sumur mestinya harus mendapatkan izin dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng. Hal ini dilakukan, agar pengeboran tidak sembarangan dan bisa dipetakan mana-mana lokasi yang bisa dilakukan pengeboran untuk mencari sumber air. ”Jika ingin melakukan pengeboran harus izin, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan,” tambahnya.

Seperti diketahui sejumlah warga di Desa Waton, Kecamatan Sukolilo, Kabupatan Pati panik karena muncul lumpur setinggi 30 meter dari sumur bor. Lumpur bercampur gas ini muncul kali pertama Sabtu (1/11) saat pengeboran sudah mencapai 140 meter. Warga yang panik kemudian mengungsi. Namun semburan lumpur tersebut, akhirnya mereda dan berganti dengan air. (fth/ida/ce1)