Produksi Garam Rakyat 94 Ribu Ton

345
PANEN GARAM : Kabid Kelautan Suharto saat panen garam rakyat di Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
 PANEN GARAM : Kabid Kelautan Suharto saat panen garam rakyat di Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)

PANEN GARAM : Kabid Kelautan Suharto saat panen garam rakyat di Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)

DEMAK-Produksi garam rakyat yang dikelola para petani garam di wilayah pesisir utara Demak hingga Oktober 2014 ini, mencapai 94.042 (94 ribu) ton. Bahkan, dilihat dari potensinya, produksi garam bisa bertambah antara 20 ribu hingga 25 ribu ton.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Demak, Hari Adi Susilo melalui Kabid Kelautan, Suharto, kemarin. Dengan hasil produksi yang melimpah itu, kata dia, bisa meningkatkan kesejahteraan petambak garam. Dalam catatan DKP, rata-rata pendapatan petambak garam rakyat per kepala keluarga (KK) perbulan per musim mencapai Rp 4 juta. Ini artinya, Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (Pugar) masih menjadi potensi besar yang akan terus dikembangkan dikemudian hari.

Menurut Suharto, jumlah bantuan langsung masyarakat (BLM) Pugar pada 2014 mencapai Rp 782.500.000 dengan jumlah petambak sebanyak 1.250 orang. Para petambak ini tergabung dalam 127 kelompok. Mereka mengelola garam rakyat di lahan seluas 1.222 hektare. Para petambak garam yang menjadi sasaran BLM Pugar ini tersebar di 10 desa. Yaitu, Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang (ada 2,72 hekatare). Kemudian, di wilayah Kecamatan Wedung berada di Desa Tedunan (41,86 hektare), Kendalasem (195,65 hektare), Kedungkarang (181,96 hektare), Kedungmutih (267,17 hektare), Babalan (269,03 hektare), Berahan Wetan (115,24 hektare), Berahan Kulon (7,1 hektare), Mutih Wetan (25,76 hektare), dan Mutih Kulon (66,47 hektare).

Menurut Suharto, lahan potensi untuk garam rakyat luasnya mencapai 1.834,67 hektare dengan jumlah keseluruhan petambak 1.339 orang. “Sejauh ini, teknologi dan metode usaha garam yang digunakan adalah tradisional, geomembran dan sejenisnya. Dengan metode tradisional, harga garam Rp 350 perkilogram. Kalau pakai metode lain, harga bisa meningkat antara Rp 400 hingga Rp 500 perkilogram.

Menurut dia, tata niaga usaha garam di Demak selama ini masih melalui mata rantai antara petambak kemudian dibeli tengkulak, lalu baru dijual ke pasar. Selain itu, kendala yang masih dihadapi petambak garam beranekamacam. Antara lain, jalan produksi rusak dan saluran air utama dangkal. Kemudian, modal petani saat memulai awal penggarapan masih kurang memadai. Pun, saat panen harga garam tidak stabil.

Faktor lain, sarana berupa peralatan tambak garam cepat rusak, lemahnya sistem kelembagaan dan keorganisasian petambak dan pola pikir mayoritas masyarakat masih menggunakan sistem tradisional. “Karena itu, kami terus mengembangkan yang ada ini supaya kondisinya lebih baik dimasa mendatang,” ujarnya. (hib/ida)