Mengenal Sindu Prasetyo dan Komunitas Sapu Salatiga

1695
RAMAH LINGKUNGAN: Produk tas berbahan baku ban dalam truk made in Komunitas Sapu dipasarkan di website distributor Belanda untuk wilayah Eropa. (kiri) Sindu Prasetyo di depan bengkel kerjanya. (ISKANDAR/RADAR SEMARANG)
 RAMAH LINGKUNGAN: Produk tas berbahan baku ban dalam truk made in Komunitas Sapu dipasarkan di website distributor Belanda untuk wilayah Eropa. (kiri) Sindu Prasetyo di depan bengkel kerjanya. (ISKANDAR/RADAR SEMARANG)

RAMAH LINGKUNGAN: Produk tas berbahan baku ban dalam truk made in Komunitas Sapu dipasarkan di website distributor Belanda untuk wilayah Eropa. (kiri) Sindu Prasetyo di depan bengkel kerjanya. (ISKANDAR/RADAR SEMARANG)

Sekelompok pemuda yang tergabung dalam Komunitas Sapu di Salatiga, Jawa Tengah, mengubah ban bekas menjadi aksesori menawan bercita rasa internasional. Sebagian besar pengguna produk-produk komunitas ini justru berasal dari luar negeri. Seperti Belanda, Belgia, Italia, Perancis, Inggris, Amerika, dan Australia.

APA jadinya jika ban-ban truk teronggok di halaman rumah, bengkel, atau tepi jalan begitu saja? Selain membuat pemandangan tidak elok, keberadaan ban-ban bekas itu bisa menjadi tempat genangan air hujan dan ujung-ujungnya jadi sarang nyamuk penyebar virus demam berdarah. Jika dibakar, dampaknya pun membahayakan.

Sebab, sejatinya ban tidak dirancang untuk dibakar, karena mengandung zat berbahaya. Karet ban dalam, misalnya, mengandung minyak extender 25 persen berasal dari benzena, stirena, turunan benzena, dan butadiena. Baik benzena dan butadiena, disinyalir merupakan zat berbahaya/bersifat racun bagi manusia.

Maka, jika ban dibakar, asap yang dihasilkan mengandung partikel-partikel halus zinc oxide. Menghirup partikel halus yang mengandung zinc akan menyebabkan peradangan di paru-paru. Pembakaran ban juga akan meningkatkan kadar emisi dioksin dan merkuri di udara. Dioksin sendiri salah satu penyebab timbulnya penyakit kanker. Tidak ada tingkat yang aman dari asupan dioksin oleh manusia. Satu sisi, dioksin terakumulasi pada tanaman, daging, dan susu hewan.

Prihatin melihat ban-ban bekas— utamanya ban dalam truk— yang teronggok begitu saja menjadi sampah tak berguna, komunitas yang sebagian anggotanya penyuka tato ini, membuat sebuah inovasi yang ramah lingkungan. Mereka lantas menyulap ban-ban bekas itu menjadi aksesori menawan. Seperti gelang, gantungan kunci, aneka jenis dompet, dan aneka tas.

”Semuanya kami buat dari ban dalam bekas truk,” ucap Sindu Prasetyo, 35, inisiator komunitas kreatif ini, saat ditemui di workshop-nya, di sebuah rumah joglo, di Desa Tetep Gembir, Salatiga. Sebuah desa yang berada di kaki Gunung Merbabu.
Mereka mengusung konsep up-cycle. Yaitu, pemanfaatan dan modifikasi bahan bekas menjadi barang berguna. ”Kami menyebutnya up-cycle karena proses perubahan bentuk dari barang bekas ke barang berguna yang kami ciptakan, tak butuh waktu lama,” ucap pemuda yang lengannya bertato, itu. Beda dengan recycle yang butuh proses agak lama. Konsep kreatif ini berawal dari kepedulian mereka, yang ingin mengurangi sampah ban-ban bekas.

Setiap hari, Komunitas Sapu mampu menghasilkan 30 jenis aksesori. Dalam sebulan, mereka mampu mengerjakan pesanan sebanyak 1.000 hingga 1.500 item. Ide menjadikan limbah ban bekas menjadi aksesori bernilai ekonomi, ucap Sindu, berawal saat dirinya aktif berkegiatan di LSM Tanam untuk Kehidupan (TUK), pada 2006-2010. TUK merupakan organisasi non-pemerintah yang bergerak di bidang lingkungan di Salatiga dan sekitarnya. Di situlah, pemuda ini banyak belajar dan mengembangkan ide memproduksi barang-barang daur ulang.

Tapi, ide menciptakan sesuatu dari ban bekas, lanjut Sindu, baru muncul pada 2010 silam. Awalnya, ia mencoba dari plastik. ”Namun, menurut saya, plastik kurang kuat dan awet untuk memproduksi sesuatu.” Setelah melewati banyak eksperimen, akhirnya Sindu menemukan ban bekas sebagai bahan baku utama membuat tas dan aksesori.

Selain kuat dan awet, kelebihan ban bekas tersedia dalam jumlah berlimpah. ”Kami ambil ban-ban bekas dari bengkel-bengkel sekitar dan ada juga pemasoknya dari Semarang,” kata Sindu.

Mulanya, ban-ban tak terpakai itu hanya diambil begitu saja. Tapi, setelah tahu ban bekas dijadikan sesuatu yang bernilai ekonomi, Sindu tak bisa lagi memperoleh ban secara gratis. Per ban dalam truk, sekarang dihargai Rp 11 ribu.

Proses menjadikan sampah ban menjadi barang bernilai cukup mudah. Ban dalam awalnya dicuci menggunakan detergen hingga bersih. Setelah proses pengeringan, dicuci lagi menggunakan cairan terpentin. Untuk membuat motif, maka ban dalam dipres. Sedangkan untuk membuat pola, langkah selanjutnya, dipahat dengan alat ukir wayang. ”Waktunya tak terlalu lama. Dalam sehari, kami bisa membuat 100 item,” ucap Sindu yang saat kami temui sedang mengerjakan pesanan tas dari Semarang.

Distributor dari Belanda
Ketika memutuskan menggunakan ban bekas, Sindu optimistis aksesori buatannya akan laku. Meski, awalnya, dia harus nombok, karena omzetnya masih relatif kecil. ”Ketika baru memulai, skalanya masih kecil. Saya masih bekerja sendiri. Omzet juga maksimal hanya Rp 1 juta sebulan, dan tak jarang harus nombok,” kenangnya.

Toh, ia tetap yakin produk buatannya bisa berkembang, karena di Indonesia belum ada yang menggunakan ban bekas untuk membuat aksesori dan tas. Yang selama ini ada, ban bekas digunakan untuk membuat sandal, pot, tempat sampah, kursi, dan meja.
Untuk pemasaran, Sindu tak merasa kesulitan. Ia menitipkan barang-barang karyanya ke dua toko kerajinan di Jogjakarta. Di sanalah, sambutan pasar cukup menggembirakan. ”Utamanya dari wisatawan asing yang mengunjungi Jogja.” Sindu juga rajin mengikuti pameran di Kuta, Bali. Ia punya link di sana, komunitas penggiat lingkungan. Salah satunya, kelompok band Navicula, yang personelnya sangat konsen pada isu-isu lingkungan.

Pameran di Kuta, Sindu menyasar turis-turis asing. Hasilnya cukup menggembirakan. Produk-produknya laris manis, sebagai buah tangan para turis itu kembali ke negerinya. ”Nah, sekembalinya mereka ke negeri masing-masing, dari mulut ke mulut, mereka menyatakan bahwa aksesori yang mereka pakai terbuat dari ban dalam bekas dari Indonesia.”

Kagum melihat produk Komunitas Sapu, seorang warga Belanda bahkan mengajukan diri menjadi distributor produk-produk aksesori made in Sindu untuk wilayah Eropa. Yang menarik, justru distributor itu rela membuatkan website bagi pemasaran produk buatan komunitas kreatif ini. ”Saya sendiri baru tahap membuat website, malah distributor kami sudah membuat lebih dulu,” ucapnya sembari tersenyum.

Kini, omzet Sindu melonjak. Dalam sebulan, ia bisa meraup omzet kotor Rp 50 juta-Rp 70 juta. Itu pun belum maksimal, karena ia masih terbatas memproduksi. Faktor sumber daya manusia yang masih sedikit dan modal yang belum cukup kuat, masih menjadi ganjalan.

”Untuk mencari pinjaman lagi ke bank, saya harus mikir, Mas,” ucap Sindu yang kini sudah mempekerjakan 10 orang, dari sebelumnya cuma 5 orang. Tiga orang sebagai penjahit, lainnya dengan job masing-masing: pembuat pola, finishing, dan packing.
Dengan omzet yang cukup lumayan, ia bisa menggaji karyawan, mencicil utang di bank, dan berencana membeli lahan untuk produksi. Per bulan, Sindu dan kawan-kawannya, sanggup mengerjakan pesanan sekitar 1.250 item. Sebanyak 1.000 item adalah pesanan pembeli di luar negeri. Antara lain Belanda, Perancis, Inggris, Amerika dan Australia. ”Sisanya kami kirim ke sejumlah toko di Jogja dan Bali. Untuk harga, ia mematok tas seharga Rp 300 ribu-Rp 400 ribu, dompet Rp 100 ribu-Rp 200 ribu dan gelang Rp 20 ribu-Rp 40 ribu.

Soal karyawan, Sindu merekrut teman-temannya sendiri. Ke depan, ia akan mengajari warga sekitar tempat workshop komunitasnya. Untuk pembeli lokal, Sindu mengakui, sejauh ini belum terlalu menggembirakan. ”Produk kami justru lebih dihargai oleh orang asing.”

Untuk itu, Sindu tak semata memproduksi ban bekas menjadi aksesori berharga. Tapi, ia dan teman-temannya, juga rajin mengampanyekan kepada warga lokal— utamanya pelajar dan mahasiswa— untuk lebih peduli pada lingkungan, dengan membeli produk-produk daur ulang, seperti buatan komunitasnya.

”Kami tak cuma berkutat pada up-cycle yang menjadi bagian ekonomi kreatif. Tapi juga masih mengampanyekan isu-isu lingkungan, mendaur ulang sampah menjadi sesuatu yang menarik dan bernilai ekonomi.”

Karena itu, selain sibuk dengan up-cycle-nya, Sindu juga sibuk menjadi pembicara pemanfaatan limbah menjadi barang berguna. Sasarannya, sekolah-sekolah dan kampus. Ia bahkan pernah diundang ke Papua.

Kini, workshop Sindu di lereng Merbabu, kerap menjadi jujukan pelajar dan mahasiswa yang ingin melihat proses up-cycle ban bekas menjadi tas dan aksesori bernilai ekonomi. ”Kebanyakan dari kampus yang mengajak kami berpameran di kampus mereka, ketika mereka punya acara.”

Hando, seorang karyawan Sindu mengaku sebelumnya seorang pengangguran. Ia kini bersyukur bisa mencari penghasilan di workshop Sindu. ”Penghasilan ya lumayan. Tapi, terpenting, misi komunitas ini untuk menggelorakan kepedulian lingkungan pada kaum muda.” (iskandar/bersambung/aro/ce1)