Perajin Tempe Lirik Kedelai Lokal

385
TURUT BERDAYAKAN PETANI : Kedelai lokal mulai digunakan para perajin tempe, setelah ada kepastian harga dan stok yang memadai. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
 TURUT BERDAYAKAN PETANI : Kedelai lokal mulai digunakan para perajin tempe, setelah ada kepastian harga dan stok yang memadai. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

TURUT BERDAYAKAN PETANI : Kedelai lokal mulai digunakan para perajin tempe, setelah ada kepastian harga dan stok yang memadai. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

SEMARANG–Para perajin tahu dan tempe mulai melirik kedelai lokal yang harganya cenderung stabil. Menyusul banyaknya petani yang mulai tertarik menanam kedelai. Sedangkan kedelai impor yang selama ini digadang-gadang para perajin, semakin tidak ada kepastian harga.

Ketua Pusat Koperasi Tahu Tempe (Puskopti) Jateng, Sutrisno Supriantoro mengakui para perajin tahu dan tempe selama ini memang bergantung dengan kedelai impor, lantaran kedelai lokal di pasaran tidak bisa memenuhi kebutuhan perajin.

Menurutnya, peralihan para perajin tahu dan tempe ke kedelai lokal disebabkan keputusan dari Kementrian Perdagangan yang mematok harga beli petani (HBP) kedelai lebih tinggi dari semula sekitar Rp 7.400/kg menjadi Rp 7.500/kg, membuat para petani memilih menanam kedelai.

“Keputusan tersebut membuat para petani mau menanam kedelai, karena harga jualnya tinggi. Dengan demikian, pasti hasil pertanian kedelai lokal bisa mencukupi kebutuhan perajin yang selama ini masih memakai kedelai impor,” ujarnya.

Jumlah perajin sendiri, lanjut dia, di Jawa Tengah yang menjadi anggota Puskopti Jateng lebih dari 9 ribu orang dengan kebutuhan 6 ribu ton perbulan dengan hasil produksi sekitar 25 ribu ton perbulan.

“Harga kedelai impor sekarang naik turun, kada Rp 8.500/kg, kadang naik menjadi Rp 9.000/kg. Karena itulah, kami melihat kebutuhan kedelai sangat besar. Saya harap para petani bisa memanfaatkan peluang yang terbuka lebar untuk menanam kedelai,” harapnya. (den/ida)