Tak Gegabah Realisasikan DED

286

BALAI KOTA – Konsep pembangunan Pasar Peterongan yang rencananya akan dilaksanakan pada 2015 mendatang, diharapkan bisa mengurangi permasalahan yang selama ini ada di wilayah Peterongan. Di antaranya, kesemrawutan pedagang di luar gedung hingga persoalan parkir. Menariknya, Dinas Pasar Kota Semarang justru masih mempertimbangkan apakah akan menebang pohon asam yang dianggap keramat dan mengubah detail engineering design (DED).

”Kami membangun pasar sekaligus menyelesaikan semua permasalahan pasar. Tidak hanya (pedagang) di dalam, tapi juga para PKL (pedagang kaki lima) yang selama ini berjualan di luar pasar. Kami mencoba menghilangkan kekumuhan dan ketidaktertiban kawasan pasar tersebut, termasuk masalah parkirnya,” terang Kepala Dinas Pasar Kota Semarang, Trijoto Sardjoko, kepada Radar Semarang, kemarin (7/11).

Trijoto menambahkan, selama ini kondisi lalu lintas di kawasan Pasar Peterongan memang sangat semrawut. Hal itu terjadi lantaran desain pasar memang tidak menyediakan ruang parkir kendaraan bagi para pengunjung. Oleh karena itu, di dalam detail engineering design (DED) Pasar Peterongan yang baru akan dilengkapi fasilitas parkir.

”Parkirnya kami akomodasi di dalam (gedung), di basement dan lantai satu. Sehingga nantinya dapat mengurangi kepadatan arus lalu lintas di luar pasar,” katanya.

Pasar Peterongan baru akan dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 3.700 meter persegi. Disinggung mengenai kios-kios yang berada di bagian depan (menghadap Jalan MT Haryono), Trijoto mengaku tidak semua kios yang ada di depan direvitalisasi. ”Ada batasnya, kalau dari MT Haryono yang termasuk Pasar Peterongan hanya bangunan yang berwarna hijau. Kalau di luar itu milik pribadi, jadi tidak ikut direvitalisasi,” jelasnya.

Dalam desain baru, posisi pasar tetap menghadap ke arah Jalan MT Haryono, pembangunan gedung menjorok ke dalam hingga Jalan Peterongan. ”Lokasinya tetap seperti semula di atas lahan sekitar 3.700 meter persegi,” terangnya.

Disinggung mengenai tempat alternatif relokasi pedagang, Trijoto menegaskan, satu-satunya hanya di kawasan Pasar Inpres, tepatnya di belakang gedung Pasar Peterongan. ”Di sana yang paling representatif. Kalau dulu memang ada wacana di Lapangan Kendondong, tapi itu sangat jauh dan hampir semua pedagang menolak. Kalau di belakang pasar induk (Peterongan) semua pedagang sudah sepakat,” tandasnya.

Nantinya, lanjut mantan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) itu, di lokasi relokasi sementara akan dibangun kios dan lapak. ”Di belakang bangunan induk Pasar Peterongan ada lahan seluas 6×30 meter, akan dibangun kios dan lapak sementara menggunakan rangka baja, dengan sistem panggung, karena di bawahnya itu kali,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai keberadaan pohon asam Mbah Gesang yang dianggap keramat oleh warga sekitar, apakah akan dihilangkan atau tetap dibiarkan? Trijoto menjelaskan, berdasar DED, pohon tersebut memang harus dihilangkan. Namun tidak menutup kemungkinan akan ada perubahan DED, jika memang pohon itu tidak ditebang.

”Kalau lihat DED harus ditebang juga, karena nanti ada bangunan di sana. Tapi kami lihat perkembangan di lapangan seperti apa, karena perlu komunikasi dengan sejumlah pihak,” ujarnya.

Kendati begitu, pihaknya berharap bisa sesuai konsep. Namun kalaupun tidak, nantinya bersama konsultan pembangunan akan berkoordinasi terkait pergeseran DED.

Diketahui, berdasar kisah yang beredar dan kepercayaan warga setempat, barang siapa yang menebang pohon beringin keramat tersebut akan tertimpa musibah. (zal/ida/ce1)