Damaikan Bangsa lewat Mural

670
MELUKIS: Belasan seniman mural melukis tembok di kompleks Gedung Sinode Jalan Sompok, Kelurahan Lamper Kidul, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang dengan tema Damai Bagi Bangsaku, Minggu (9/11) kemarin. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)
 MELUKIS: Belasan seniman mural melukis tembok di kompleks Gedung Sinode Jalan Sompok, Kelurahan Lamper Kidul, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang dengan tema Damai Bagi Bangsaku, Minggu (9/11) kemarin. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)

MELUKIS: Belasan seniman mural melukis tembok di kompleks Gedung Sinode Jalan Sompok, Kelurahan Lamper Kidul, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang dengan tema Damai Bagi Bangsaku, Minggu (9/11) kemarin. (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)

SOMPOK – Ulah tangan-tangan jahil yang suka mencorat-coret tembok di kompleks Gedung Sinode Jalan Sompok, Kelurahan Lamper Kidul, Kecamatan Semarang Selatan, membuat geram masyarakat. Pasalnya, tembok yang berada tepat di depan SMP 39 Semarang tersebut, dipenuhi kata umpatan yang tak pantas dan tak mendidik.

Hal itu memantik kepedulian perkumpulan anak muda yang tergabung dalam Sinode Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) untuk melakukan gerakan positif. Karena itulah, kaum muda ini mengajak seniman mural dari Kota Semarang, Jogjakarta, Kudus, Magelang, Jakarta dan Bandung untuk melukis atau menggambar tembok di kompleks Sinode tersebut dengan tema Damai Bagi Bangsaku.

Jefri Yeconia, ketua panitia acara mengatakan jika pihaknya sangat kecewa dengan ulah jahil orang yang tidak bertanggung jawab dengan mencoret-coret tembok gedung Sinode. ”Jelas estetika gedung yang merupakan tempat singgah menjadi hilang. Makanya kami meminta izin kepada pemilik gedung untuk menutupi coretan tersebut dengan mural,” katanya, Minggu (9/11) kemarin.

Ada 11 mural yang digambar sejumlah seniman. Di antaranya, menceritakan tentang perjuangan bangsa Indonesia ketika merebut penjajahan. Ada juga mural yang menggambarkan keinginan Indonesia menjadi negara yang damai dan tidak terpecah belah. ”Kami ingin menyebarkan kedamaian dengan mural. Sehingga tidak lagi ada tangan jahil yang nekat mencorat-coret tembok tanpa izin pemiliknya,” harapnya.

Menurut dia, selain terdapat unsur seni, mural bisa menjadi sarana kritik terhadap pemerintah dan keadaan sekitar. ”Kami ingin mengkritik agar warga Indonesia bisa hidup damai dengan segala perbedaannya,” pungkasnya. (den/ida/ce1)