Perhatian Terhadap ABK Minim

363
Ketua Penyelenggara Seminar dan Workshop Anak Berkebutuhan Khusus, Leila Nugroho menyerahkan ABK Kit pada peserta yang semuanya adanak orang tua dan tenaga pendidik ABK. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
Ketua Penyelenggara Seminar dan Workshop Anak Berkebutuhan Khusus, Leila Nugroho menyerahkan ABK Kit pada peserta yang semuanya adanak orang tua dan tenaga pendidik ABK. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
Ketua Penyelenggara Seminar dan Workshop Anak Berkebutuhan Khusus, Leila Nugroho menyerahkan ABK Kit pada peserta yang semuanya adanak orang tua dan tenaga pendidik ABK. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

UNGARAN- Sarana dan prasarana serta pendidikan bagia anak berkebutuhan khusus (ABK) di Indonesia masih sangat minim. Bahkan kepedulian terhadap ABK juga masih kurang karena masih ada yang diperlakukan tidak semestinya sesuai kebutuhannya.

Padahal Badan Kependududukan dan keluarga berencana Nasional (BKKBN) mencatat di tahun 2013 ada 4,2 juta anak memiliki kebutuhan khusus. Sehingga perlu dilakukan gerakan kepedulian untuk menangani ABK, para orangtua dan Guru yang mendidik ABK. Permasalahan tersebut terungkap dalam seminar dan workshop Anak Berkebutuhan Khusus, yang digelar Dreamlight World Media, siang kemarin, di Ungaran.

“Di Indonesia pendidikan Sekolah Luar Biasa (SLB) sangat diperlukan baik bahan dan materi, sebab di sini masih sangat minim. Jadi kami ingin membantu ABK agar mendapat pendidikan dan sarana tersebut. Kita lihat di mall atau tempat umum, masih ada yang belum menyediakan tempat khusus bagi ABK. Artinya masih butuh perhatian bagi para ABK,” tutur Ketua Penyelenggara Seminar dan Workshop Anak Berkebutuhan Khusus, Leila Nugroho.

Menurut Leila, kegiatan tersebut merupakan bentuk perhatian khusus Dreamlight World Media terhadap anak berkebutuhan khusus dengan membuat sebuah gerakan, everyone is special, yang menyatakan setiap anak diciptakan secara khusus oleh Tuhan. Setiap anak punya talenta dan setiap anak berhak atas pendidikan dan kesempatan, untuk menonjolkan apa yang mereka bisa.

 Ketua Penyelenggara Seminar dan Workshop Anak Berkebutuhan Khusus, Leila Nugroho menyerahkan ABK Kit pada peserta yang semuanya adanak orang tua dan tenaga pendidik ABK. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

Ketua Penyelenggara Seminar dan Workshop Anak Berkebutuhan Khusus, Leila Nugroho menyerahkan ABK Kit pada peserta yang semuanya adanak orang tua dan tenaga pendidik ABK. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

Sementara itu pengajar anak berkebutuhan khusus Salatiga yang berasal dari Amerika, BJ Amstrong mengatakan, yang utama adalah orang tua tidak malu dengan kondisi anak. Sebab perasaan malu itu membuat ABK tidak mengembangkan potensi dalam dirinya secara maksimal. Selanjutnya harus mampu berpikir bahwa anaknya yang terlahir dengan kebutuhan khusus mampu melakukan hal yang sama seperti anak umum lainnya. “ABK ini harus diberi motivasi agar mereka mampu seperti anak-anak lainnya dan bisa bergaul dengan teman-temannya. Orang tua tidak boleh berpikir anaknya tidak bisa, itu akan menjadi kendala bagi perkembangan anak,” kata Amstrong. (tyo/zal)