Puisi Rendra Bukan Puisi Lebay

572
KENANG RENDRA : Penyair Timur Sinar Suprabana saat membacakan puisi-puisi WS Rendra dalam acara Mengenang WS Rendra Jilid V di SMK N 4 Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
 KENANG RENDRA : Penyair Timur Sinar Suprabana saat membacakan puisi-puisi WS Rendra dalam acara Mengenang WS Rendra Jilid V di SMK N 4 Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENANG RENDRA : Penyair Timur Sinar Suprabana saat membacakan puisi-puisi WS Rendra dalam acara Mengenang WS Rendra Jilid V di SMK N 4 Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL—Siapa yang tak kenal sosok penyair kondang Willibrordus Surendra Broto Rendra atau biasa dikenal dengan nama WS Rendra. Bahkan karena kepiawaiannya meracik kata-kata dalam puisi, ia mendapatkan julukan Si Burung Merak.

Meskipun sudah meninggal Agustus 2009 lalu, nama WS Rendra dan karyanya tetap di kenang di kalangan penyair masa kini. Itulah yang tampak pada acara mengenang WS Rendra yang di gelar di SMKN 4 Kendal. Salah satu penyair yang memuji sastrawan pendiri Bengkel Teater di Jogjakarta itu adalah Timur Sinar Suprabana. Di hadapan ratusan pengunjung yang hadir, Timur dengan penuh semangat dan penghayatan membacakan beberapa puisi karya Rendra.

Diantaranya, puisi yang berjudul, “Sajak Joki Tobing Untuk Widuri”, “Rick dari Corona”, dan “Khotbah”. Dengan gaya khasnya, ayah dua anak itu masih terlihat enerjik. Bahkan ratusan pengunjung mampu terhipnotis mengikuti rima puisi yang dibacakannya. “Mas Wily, begitu saya biasa menyapa WS Rendra, adalah salah satu penyair hebat yang dimiliki bangsa ini. Sajak-sajaknya begitu tajam dan enak dibaca,” kata Timur.

Dia menambahkan hampir semua puisi Rendra sangat ia sukai. Termasuk puisi yang berjudul, “Nyanyian Angsa”. “Tapi kali ini, saya tidak membacakan puisi itu. Sebab sudah terlalu sering saya baca,” katanya.

Selain Timur ada penyair populer lain yang turut serta dalam acara adalah Handry TM. Handry mengatakan, WS Rendra adalah seorang budayawan yang hebat. Ia bisa membidik persoalan-persoalan negeri yang ia bungkus dengan puisi. “Hingga kini masih sedikit penyair yang bisa seperti Rendra,” katanya.

Selain itu, menurutnya, WS Rendra juga di puja oleh banyak wanita. Sebab selain puisi-puisi persoalan bangsa, ia juga menciptakan puisi-puisi cinta. “Puisi cinta Rendra bukan puisi lebay, yang banyak di buat oleh penyair-penyair muda sekarang ini. Puisi cinta WS Rendra tidak hanya bisa membuat seorang perempuan jatuh cinta, tapi juga tak berdaya,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menambahkan jika puisi-puisi Rendra terus hidup meskipun sang penciptanya sudah menghadap Sang Khalik. “Puisi-puisinya WS Rendra, adalah potret kehidupan,” tambahnya.

Mengenang WS Rendra Jilid V yang di gelar oleh Komunitas Sastra Tebing Kendal selain di hadiri penyair asal Semarang juga dimeriahkan oleh beberapa penyair asal Kendal. Diantaranya Kelana Siwi, Suniyya, Teater Soca dari SMKN 4 Kendal, dan Orkes Senggol Bacok (OGB). (bud/ric)