Sabar Layani Pasien Sakit Jiwa

950
Sri Widyayati. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
Sri Widyayati. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)
Sri Widyayati. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)

SUDAH tahun kelima, dr Hj Sri Widyayati, SpPK, MKes menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr Amino Gondohutomo, Semarang. Banyak suka dan duka dirasakan wanita kelahiran Kendal, 23 April 1959 ini selama mengabdi di institusi kesehatan yang merawat pasien sakit jiwa tersebut.

Bagi Sri –sapaan akrabnya— banyak pengalaman baru selama dirinya menjadi ’nakhoda’ RSJ Dr Amino Gondohutomo. Dia kerap turun langsung menangani pasien yang mengidap gangguan jiwa.

”Awalnya memang takut, tapi lama-lama sudah terbiasa. Penanganan pasien gangguan jiwa jelas beda dengan penderita sakit biasa. Mereka harus ada perawatan secara berkelanjutan. Tidak seperti pasien umum. Jika sudah sembuh ya sudah,” jelasnya kepada Radar Semarang.

Kelanjutan penanganan pasien gangguan jiwa sendiri, lanjut dia, bukan hanya peran dari pihak rumah sakit, tapi juga membutuhkan peran dari dinas terkait dan masyarakat.

”Terkadang yang sudah sembuh dikucilkan oleh warga karena pernah gila. Akibatnya, mereka bisa depresi dan kambuh lagi, itulah yang susah, kerena mindset mayarakat yang masih negatif. Bahkan ada orang tua yang tidak bisa menerima kenyataan kalau anaknya pernah gila,” kata mantan Direktur RSUD Tugurejo ini.

Sri mengaku senang jika bisa melayani masyarakat yang terserang gangguan jiwa dan berhasil disembuhkan. Namun ia sedih jika pasien tersebut kembali kambuh sakitnya, dan dibawa lagi ke RSJ.

”Saya juga sedih kalau ada pasien sudah sembuh, tapi tidak diterima di masyarakat. Sehingga pasien tersebut menjadi depresi dan sakit jiwanya bertambah parah,” tandasnya.

Sri mengakui, bekerja di RSJ terkadang membuatnya sedikit waswas, khususnya terhadap pasien gangguan jiwa yang kerap memberontak dan berbuat nekat.

”Pernah ada kasus, orang yang menangkap pasien sakit jiwa yang kambuh malah dibacok, itulah yang membuat saya miris,” tutur wanita yang pernah menjadi Kepala Puskesamas di Aceh ini.

Ibu rumah tangga yang punya moto hidup: merencanakan, melakukan, hingga sukses ini mengatakan, setiap penanganan pasien gangguan jiwa memiliki metode yang berbeda sebelum dilakukan rehabilitasi mental.

”Sakit jiwa pun ada diagnosanya. Sama seperti penyakit biasa, tujuannya agar bisa ditentukan metode penyembuhannya,” katanya.

Untuk pasien yang nekat dan mengalami gangguan jiwa berat usai didiagnosis, Sri menerangkan pasien harus mendapatkan perhatian khusus dengan merawatnya di Internal Care Unit (ICU) yang ada di RSJ.

”Terkadang pasien harus kita ikat. Kita berikan obat penenang. Setelah keadaannya stabil, baru dirawat di bangsal dengan metode yang sudah ditentukan,” jelasnya.

Meski gampang-gampang susah menjadi direktur rumah sakit jiwa, Sri tidak pernah sedikit pun merasa emosi dengan pasien rehabilitasi mental. Hal ini dikarenakan dirinya dan seluruh perawat yang ada cenderung melayani pasien dengan menggunakan hati.

”Kalau kita emosi, siapa yang gila. Masak iya, kita mau melawan orang gila, yang jelas harus sabar dan telaten,” katanya.

Selama karirnya, yang membuat Sri sangat bangga adalah ketika ada pasien yang pernah menderita gangguan jiwa bisa sukses seperti orang sehat biasanya. Menurut dia, kesembuhan pasien tidak bisa dinilai dengan uang berapa pun.

”Banyak kok lulusan (RSJ) yang sukses. Ada yang jadi pelukis, pegawai, bahkan pengusaha. Ada juga bekas pasien yang masih ingat dengan saya,” ujarnya.

Ditanya apakah merawat pasien gangguan jiwa, termasuk pahlawan, dirinya enggan disebut pahlawan. Menurut Sri, apa yang dilakukan adalah suatu kewajiban yang harus diemban dengan baik.

”Pahlawan menurut saya adalah seseorang yang punya impian dan bisa direalisasikan serta bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Hasilnya pun bisa dirasakan, tidak hanya ngomong saja,” jelas wanita yang sejak kecil bercita-cita menjadi dokter ini.

Sri mengaku meneladani sosok pahlawan wanita asal Aceh, Cut Nyak Dien. Sebab, ia rela meninggalkan suaminya demi bangsa dan negara.

”Jangan campurkan kewajiban dengan pengorbanan. Pengorbanan muncul ketika hati kita benar-benar tergerak melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak,” katanya. (adennyar wycaksono/aro/ce1)