Bukaan Tiga, Ditolak RSUD Batang

1575
MERANA : Mina (memakai daster) ditemani sejumlah anggota keluarga saat berada di RSUD Kalisari Batang, Minggu (9/11) malam. (FAIZ URHANUL HILAL/radar semarang)
MERANA : Mina (memakai daster) ditemani sejumlah anggota keluarga saat berada di RSUD Kalisari Batang, Minggu (9/11) malam. (FAIZ URHANUL HILAL/radar semarang)
MERANA : Mina (memakai daster) ditemani sejumlah anggota keluarga saat berada di RSUD Kalisari Batang, Minggu (9/11) malam. (FAIZ URHANUL HILAL/radar semarang)

BATANG – Kondisi darurat seorang ibu hamil yang hendak melahirkan tak dihiraukan pihak RSUD Kalisari Batang, Minggu (9/11) malam. Alih-alih mendapatkan pelayanan, pasien bernama Mina Yuliana, 40, justru di tolak lantaran tidak membawa surat rujukan bidan persyaratan penggunaan BPJS Kesehatan.

Akhirnya, setelah terkatung-katung selama satu setengah jam, pasien hamil tua yang harus segera mendapatkan penanganan itu terpaksa dilarikan pihak keluarga ke rumah sakit swasta. Saat ditemui di lokasi, Mina ditemani keluarganya sedang duduk di kursi depan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), sekitar pukul 23.30. Warga Kelurahan Kecepak Kecamatan Batang itu hanya merintih kesakitan sembari memegangi perut buncitnya. “Saya sudah satu setengah jam menunggu, suami saya yang mengurusi. Tadi dari rumah sudah bukaan tiga,” ungkap Mina.

Kondisi itu, ternyata tetap membuat para perawat dan dokter jaga rumah sakit milik pemerintah itu berpendirian teguh. Pasien yang menyodorkan pelayanan kelas dua ke ruang pendaftaran itu tetap tidak bisa dilayani meski keadaannya darurat. “Awalnya saya pakai BPJS, karena tidak bisa akhirnya saya minta umum saja. Soalnya agar istri saya cepat ditangani,” ungkap suami Mina, Amad Rohamin, 45.

Namun, permintaan pelayanan umum juga tidak bisa dilakukan. Kembali, petugas rumah sakit juga meminta surat rujukan dari bidan. Saat itulah ketegangan terjadi. Amad yang kalut akhirnya meminta bantuan pihak keluarga lain untuk menggeruduk rumah sakit. “BPJS ndak bisa, umum juga tidak bisa. Tetap minta surat rujukan dulu baru dilayani. Padahal kondisi istri saya sudah mau melahirkan,” tandasnya.

Keluarga pasien yang terlanjur sakit hati akhirnya membawa Mina ke rumah sakit swasta. “Saya sakit hati sekali. Saya tidak mau ke rumah sakit itu lagi,” imbuh Amad dengan mata berkaca-kaca.

Saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (10/11), Direktur RSUD Batang, Bekti Mastiadji membenarkan kejadian itu. “Memang benar, mereka datang, tapi (untuk BPJS Kesehatan) membutuhkan rujukan,” ungkapnya.

Atas kejadian itu, Bekti mengaku akan melakukan perbaikan baik internal maupun eksternal terkait pelayanan publik tersebut. “Terimakasih sudah diingatkan, akan kami perbaiki untuk pelayanan,” imbuhnya.

Sementara itu sejumlah pegawai di RSUD Kalisari, Batang terancam dikenai sanksi Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) alias dipecat. Hal itu terkait adanya kasus “penolakan” seorang pasien pengguna BPJS Kesehatan yang hendak melahirkan, Minggu (9/11) malam. Sekda Batang, Nasikhin mengatakan, dengan adanya kejadian itu, pihaknya akan memanggil Direktur Rumah Sakit, Bekti Masdiadji. “Bahkan secara tidak langsung sudah kami panggil kemudian untuk segera mencari informasi yang lengkap,” ungkapnya, Senin (10/11).

Selain Dirut RSUD, sejumlah pegawai yang tidak memberikan pelayanan sebagaimana mestinya juga akan diberikan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. Hal itu didasarkan Peraturan Pemerintah nomor 53 tahun 2010 tentang pembinaan disiplin bagi PNS. Di antaranya memberikan pelayanan yang terbaik serta UU No. 20 tahun 2009, tentang pelayanan publik yang mewajibkan seorang PNS memberikan pelayanan terbaik dengan sejumlah standar tertentu dan jika tidak dilakukan maka akan dikenakan sanksi. Semua petugas yang terlibat persoalan itu, jelas Nasikhin, baik PNS maupun non PNS akan diberikan pembinaan yang sama. “Sanksi disesuaikan dengan derajat kesalahan yang dilakukan. Sanksi berat, bisa penurunan pangkat, penurunan gaji sampai dengan Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (dipecat-red),” jelasnya. (mg8/ric)