Pasar Inpres Dinilai Tak Layak

408
KUMUH: Kondisi bangunan Pasar Inpres yang akan menjadi tempat relokasi pedagang Pasar Peterongan selama dilakukan pemugaran. (M. HARIYANTO/RADAR SEMARANG)
 KUMUH: Kondisi bangunan Pasar Inpres yang akan menjadi tempat relokasi pedagang Pasar Peterongan selama dilakukan pemugaran. (M. HARIYANTO/RADAR SEMARANG)

KUMUH: Kondisi bangunan Pasar Inpres yang akan menjadi tempat relokasi pedagang Pasar Peterongan selama dilakukan pemugaran. (M. HARIYANTO/RADAR SEMARANG)

PETERONGAN – Kondisi Pasar Inpres yang akan menjadi tempat relokasi pedagang Pasar Peterongan dinilai tidak layak. Pasalnya, pasar dua lantai tersebut terlihat kumuh dan minim fasilitas. Bahkan bangunan yang berdiri di atas sungai yang usianya sudah mencapai 15 tahun itu dikhawatirkan tidak kuat menampung sedikitnya 1.500 pedagang yang akan direlokasi ke tempat tersebut.

Wakil Persatuan Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Pasar Peterongan, Margiono, mengaku resah dengan rencana relokasi pedagang yang ditempatkan di Pasar Inpres. Sebab, kondisi bangunan pasar dinilai sudah tidak layak.

”Bangunan itu usianya sudah 15 tahun, apalagi bawahnya sungai. Kami khawatir kalau bangunan itu tidak kuat menahan beban hingga akhirnya roboh,” kata pedagang pakaian ini kepada Radar Semarang, Senin, (10/11).

Karena itu, pihaknya mengusulkan sebelum menjadi tempat relokasi pedagang, Pasar Inpres dibenahi dengan melengkapi fasilitas yang masih kurang.

”Sebenarnya saya juga nggresulo. Tapi kepada siapa? Mau ke pemerintah juga percuma. Pedagang hanya bisa manut. Tapi kalau bisa, pemerintah mempersiapkan terlebih dahulu tempat yang layak,” harapnya.

Hal sama diungkapkan Ketua PPJP Pasar Peterongan, Widodo. Ia mengakui kondisi Pasar Inpres memang tidak layak. Pihaknya minta kepada pemerintah supaya memberikan tempat penampungan pedagang yang lebih layak.

”Lokasi penampungan harus betul-betul dipersiapkan terlebih dahulu. Sebenarnya Pasar Inpres itu tidak layak. Kalau bisa pembangunan Pasar Peterongan hanya lantai diganti keramik, gorong-gorong dilancarkan, dan atap pasar yang bocor dibenahi, itu saja,” katanya.

Pihaknya juga berharap, pembangunan Pasar Peterongan nantinya selesai tepat waktu. Pedagang khawatir pembangunan nantinya banyak mengalami hambatan dan terkatung-katung seperti halnya pembangunan Pasar Bulu.

”Kalau memang akan dibangun ya silakan. Saya mendukung pemerintah. Tapi kalau relokasi pedagang ditempatkan di Pasar Inpres, sebenarnya saya kurang setuju. Sebab, kondisinya tidak layak. Sebenarnya saya punya usulan tempat, yakni direlokasi di jalan dekat Kecamatan Semarang Selatan,” ujarnya.

Pedagang di Pasar Inpres, Rubiyati, 48, mengaku pasrah dengan rencana pembangunan Pasar Peterongan. Namun, pihaknya meminta pemerintah mengkaji ulang tempat relokasi pedagang di Pasar Inpres.

”Kalau direlokasi di tempat Pasar Inpres itu terserah pemerintah. Kalau pedagang di Pasar Peterongan mau, ya itu hak mereka. Tapi setidaknya nanti jangan malah membuat susah pedagang yang sudah ada di Pasar Inpres. Selain itu, pemerintah harus memikirkan nasib pedagang yang direlokasi di tempat yang kurang nyaman,” ujarnya.

Pihaknya juga berharap, pemerintah bisa melakukan cek kondisi bangunan Pasar Inpres yang usianya sudah tua. Khawatirnya, bangunan tersebut nantinya tidak mampu menahan beban pedagang dan pengunjung di lantai dua pasar tersebut.

”Jadi jangan asal tampung dan bisa memuat pedagang saja. Tapi, harus melihat kondisi bangunan juga. Sehingga pedagang yang berada di lantai bawah juga nyaman dalam berjualan. Selain itu, pembangunan nantinya harus selesai tepat waktu. Jangan sampai terkatung-katung,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pasar Kota Semarang Trijoto Sardjoko mengatakan, relokasi pedagang Pasar Peterongan tetap berada di Pasar Inpres. Menurutnya, lokasi tersebut sudah merupakan alternatif tempat yang paling dekat dengan Pasar Peterongan.

”Permintaan pedagang tidak mau direlokasi di tempat yang jauh dari lokasi Pasar Peterongan dengan alasan takut kehilangan pelanggan. Nantinya untuk menampung supaya pedagang bisa masuk ke Pasar Inpres, kami akan membuat dak pada lantai dua pasar tersebut. Selain itu, nantinya kami akan membuatkan lapak di sekitar Pasar Inpres,” pungkasnya.

Sementara itu, dalam rapat antara Kepala Dinas Pasar dengan Komisi B DPRD Kota Semarang kemarin, dewan meminta agar rencana revitalisasi Pasar Peterongan direncanakan dengan baik. Menurut anggota Komisi B DPRD Kota Semarang Danur Rispriyanto, pihaknya akan menyetujui rencana penganggaran untuk kegiatan revitalisasi Pasar Peterongan tersebut sebesar Rp 30 miliar pada APBD 2015 mendatang. Alasannya, revitalisasi itu sesuai dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah atau RPJMD. Setiap tahun harus dilakukan revitalisasi dua pasar. Namun dia memberikan catatan, berdasarkan pengalaman revitalisasi pasar-pasar sebelumnya yang sering molor, sehingga merugikan pedagang.
Karena itu, politisi Partai Demokrat ini mengingatkan agar sebaiknya revitalisasi Pasar Peterongan dilakukan dalam satu tahun anggaran. Tidak lagi dilakukan secara bertahap karena nanti akan terjadi molor lagi, seperti yang menimpa Pasar Bulu. ”Revitalisasi dalam satu tahun anggaran akan lebih efektif dan lebih efesien,” tegasnya dalam rapat yang dipimpin Ketua Komisi B, Mualim SPd, MM.
Selain itu, dia berharap persoalan pedagang dipikirkan secara matang. Tempat penampungan sementara harus yang representatif. Tidak menimbulkan dampak lain, seperti kemacetan di jalan sekitar pasar sementara. ”Molornya penyelesaian revitalisasi juga akan menyulitkan pedagang pasar yang menempati kios darurat,” ujar Danur. (mg9/aro/ce1)