Tanggul Hantam Rumah Warga

327
TAK ADA KORBAN : Rumah Muji Iriyanto warga Gelangan, Magelang diterjang tanggul yang longsor Minggu sore kemarin. Warga tampak bekerja bakti. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
 TAK ADA KORBAN : Rumah Muji Iriyanto warga Gelangan, Magelang diterjang tanggul yang longsor Minggu sore kemarin. Warga tampak bekerja bakti. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

TAK ADA KORBAN : Rumah Muji Iriyanto warga Gelangan, Magelang diterjang tanggul yang longsor Minggu sore kemarin. Warga tampak bekerja bakti. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MAGELANG – Hujan deras yang mengguyur Magelang Minggu kemarin membawa musibah. Rumah Muji Iriyanto, 52, warga Kampung Gelangan RT 1 RW 5, Kelurahan Gelangan, Kecamatan Magelang Tengah yang dihantam tanggul milik Aminudin, 56, warga setempat. Akibatnya 45 persen bangunan rumahnya rusak.

“Kejadiannya Minggu (9/11), sekitar pukul 16.30 sore. Waktu itu hujannya deras sekali, saya mengamati saluran buangan air di tanggul itu yang berfungsi cuma 4 pralon. Sempat dag dig dug juga,” kata Muji Iriyanto. (10/11) siang lalu.

Sore itu dia sedang duduk bersantai bersama temannya di teras rumah dan isterinya sedang bekerja. Dia sempat berkeinginan memindahkan anaknya yang sedang tidur pulas di ruang tengah.

“Sempat terpikir mau mindah Bili (anaknya, Red) ke ruangan lain, tapi belum sempat saya pindah tiba-tiba bruk, tanggulnya roboh dan menghantam rumah saya. Saat itu saya panik dan lari menyelamatkan anak saya,” ceritanya.

Beruntung, bocah 4 tahun itu selamat dari musibah. “Ya kena batu bata yang ambrol tapi alhamdulillah tidak apa-apa, tidak terluka juga,” akunya.

Iriyanto memahami jika kejadian tersebut adalah musibah. Dan tidak mempermasalahkannya, karena diselesaikan secara kekeluargaan. “Tidak ada yang terluka, Pak Amin pun juga bertanggung jawab memperbaiki rumah saya yang sudah saya huni 40 tahun ini. Jadi saya sudah tenang. Sementara tinggal di rumah kakak dulu sambil menunggu selesai diperbaiki,” ungkapnya.

Sementara itu, Aminudin, pemilik tanggul mengatakan, tanggul itu dibangun baru 3 bulan yang lalu saat musim kemarau. Ketinggiannya sekitar 3 meter menopang tanah seluas 438 meter persegi.

“Sebetulnya tanah ini mau saya jadikan lahan hijau. Untuk menanam pohon-pohon dan tanaman yang bermanfaat sebagai kampung organik tapi belum dipakai sudah jebol,” ucapnya.

Dia sempat menjadi saksi longsornya tanah itu karena mengintip dari jendela rumahnya. Mengingat tidak semuanya tanah mati dan sekitar 2 meteran adalah tanah uruk.

“Hujannya memang deras sekali, saya juga khawatir drainase tidak berfungsi baik. Saya lihat airnya menggenang cukup banyak, tidak lama kemudian ambrol dan saya langsung terpikir keadaan tetangga saya (Iriyanto, Red) yang rumahnya tepat di bawah itu,” bebernya.

Menurut Amin sebelumnya tak ada tanda-tanda apapun bahwa tanah itu akan longsor. “Tidak ada tanda-tanda retak. Kalau saya mengira dari drainase yang kurang besar. Kemarin buatnya saat kemarau jadi selebar itu saya rasa sudah cukup, ternyata belum. Ya ke depan pasti akan dipikirkan lebih matang,” tambahnya.

Pria yang juga sebagai ketua rukun warga (RW) 5 ini tak bisa menaksir berapa kerugian materi akibat dari musibah itu. Baginya yang terpenting semua selamat dan tidak ada korban.

“Semua bisa diperbaiki, saya masih bersyukur semua tidak apa-apa,” tandasnya.
Aminudin mengaku, setelah kejadian tersebut, lurah, Basarnas, Kapolres Magelang Kota AKBP Zain Dwi Nugroho, sudah meninjau langsung lokasi. Selain itu kodim, LSM Gerakan Pemerdayaan Lingkungan dan Masyarakat (Garda 5) Indonesia, Guruh Merapi, GRIB, dan Tagar langsung turun tangan untuk membersihkan sekitar longsoran tanah dan membersihkan sisa bangunan yang runtuh.
“Saya berterimakasih semuanya ikut membantu,” pungkasnya. (put/lis)