Wujudkan Nasionalisme lewat Selembar Kaus

382
BERMULA DARI ISENG: Henry Gunawan dan kaus hasil karyanya. (MIFTAHUL A’LA/RADAR SEMARANG)
BERMULA DARI ISENG: Henry Gunawan dan kaus hasil karyanya. (MIFTAHUL A’LA/RADAR SEMARANG)
BERMULA DARI ISENG: Henry Gunawan dan kaus hasil karyanya. (MIFTAHUL A’LA/RADAR SEMARANG)

Be Proud of Indonesia merupakan komunitas cukup unik dan kreatif. Komunitas ini mengimplementasikan makna nasionalisme melalui selembar kaus. Bahkan dari hobi unik itu, komunitas ini bisa meraup omzet Rp 40 juta sebulan.

MIFTAHUL A’LA, Miroto
AWALNYA hanya iseng dan tidak sengaja. Begitulah kira-kira awal mula berdirinya Komunitas Be Proud of Indonesia. Komunitas yang mengemas nasionalisme dalam selembar kaus. Bermula ketika Kementerian Pendidikan tengah menggelar lomba kreativitas mahasiswa pada 2009. Saat itulah Henry Gunawan dan empat rekannya sesama mahasiswa Unika Soegijapranata iseng membuat proposal untuk mengikuti lomba tersebut. Mereka mengangkat usaha pembuatan kaus bergambar ciri khas Indonesia.

”Di luar dugaan, proposal kami lolos. Waktu itu, kami mengangkat tema kaus yang bergambar ciri khas Indonesia,” kenangnya kepada Radar Semarang.

Setelah proposal yang diajukan lolos, Henry Cs mendapatkan bantuan modal sebesar Rp 7 juta. Bantuan modal itu kemudian diputar untuk mendesain kaus yang bergambar berbagai ikon dan ciri khas Indonesia untuk dijual.

Tidak ingin hanya berhenti dalam lomba, Henry berusaha memutar otak agar bisnis kausnya itu bisa besar dan profesional. ”Tapi dari lima orang, hanya tinggal saya dan seorang teman, Felicia Amanda Inez yang bertahan,” katanya.

Dua mahasiswa ini lantas menggandeng sejumlah rekannya untuk urusan desain. Di luar dugaan, animo masyarakat terhadap kaus yang diciptakan cukup besar. Kausnya dinilai unik, karena semua gambar menunjukkan ikon kebesaran Indonesia. Mereka ingin mewujudkan nasionalisme dari selembar kaus. Kaus yang selama ini paling dekat dan selalu dibawa ke mana-mana oleh masyarakat Indonesia.

”Pikirannya ya tidak hanya sebatas lomba, jadi ingin mengembangkan kreativitas. Karena kalau hanya berhenti pada lomba, jelas tidak akan dapat apa-apa,” ujarnya.

Alumnus Arsitek Unika Soegijapranata Semarang ini menambahkan, pelan tapi pasti, ia mengembangkan usaha yang berawal dari ketidaksengajaan itu. Ia mulai menciptakan berbagai desain baru yang berbau Indonesia. Sejumlah gambar yang didesain dalam kaus itu di antaranya gambar Soekarno, bendera Merah Putih, lambang Garuda, dan kata-kata mutiara dari Soekarno.

”Kami ingin mengenalkan dan menggelorakan nasionalisme malalui kaus kepada orang-orang yang berjiwa muda. Ini menurut kami cukup bagus dan sangat efektif,” tambah Felicia Amanda Inez.

Kaus yang dibuat berbahan kain katun. Satu kaus dibanderol dengan harga antara Rp 109 ribu sampai Rp 245 ribu. Untuk pemasaran, ia lebih banyak menggunakan media sosial, seperti Facebook atau Twitter. Ia mengaku, setiap desain kaus yang dibuat tidak langsung laku di pasaran. ”Ya, wajar kalau harus jatuh bangun dalam berbisnis. Tahun 2013, usaha ini baru mulai memperlihatkan kemajuan,” katanya.

Agar lebih berkembang, ia menyewa kios di Jalan Suyudi Semarang. Produk kausnya sudah laku mulai Aceh sampai Papua. Tidak hanya itu, ada juga pembeli dari Jepang, Taiwan, dan Malaysia. Sekarang ia tengah mengembangkan sayap dengan memproduksi jaket.
”Sekarang setiap bulan yang terjual bisa mencapai 400-500 potong. Jumlah itu kadang naik turun. Kalau omzetnya mencapai Rp 40 juta,” katanya. (*/aro/ce1)