Minta Disperindag Tekan Kenaikan Harga

285
PANTAU HARGA : Bupati Kendal Widya Kandi Susanti saat melakukan pemantauan harga sembako di sejumlah pasar tradisional kemarin. (Budi setyawan/radar semarang)
 PANTAU HARGA : Bupati Kendal Widya Kandi Susanti saat melakukan pemantauan harga sembako di sejumlah pasar tradisional kemarin. (Budi setyawan/radar semarang)

PANTAU HARGA : Bupati Kendal Widya Kandi Susanti saat melakukan pemantauan harga sembako di sejumlah pasar tradisional kemarin. (Budi setyawan/radar semarang)

KENDAL—Rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) berpengaruh langsung terhadap harga sembako, terutama cabai yang naik 100 persen lebih. Hal tersebut tentu saja membuat pedagang dan konsumen mengeluh karena lonjakan harga yang terkesan mendadak.
Bupati Kendal, Widya Kandi Susanti, Selasa (11/11) melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah pasar tradisional. Bupati ingin memastikan langsung harga sembako dengan berkomunikasi langsung dengan para pedagang. Hasilnya, kenaikan harga sembako terutama beras dan cabai merata di sejumlah pasar tradisional di Kendal. Di Pasar Gladak, Kaliwungu harga cabai merah mencapai Rp 60 ribu dari sebelumnya hanya Rp 25-28 ribu per kilogram. Harga cabai rawit hijau dan merah mencapai Rp 40 dan 55 ribu. Padahal harga sebelumnya Rp Rp 22 dan 35 ribu per kilogram.

Sudaryanto, 45, salah seorang pedagang cabai di Pasar Gladak mengatakan kenaikan harga lantaran harga sudah naik dari pengepul. Sehingga untuk mendapatkan keuntungan ia juga ikut menaikkan harga. Selain itu, menurutnya cabai dari petani sudah langka karena banyak yang gagal panen akibat musim kemarau panjang tahun ini. “Yang mengeluh bukan hanya pembeli saja, tapi juga pedagang karena daya beli menurun,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah segera melakukan pencegahan agar harga cabai tidak naik lagi. “Kalau bisa turun di harga normal, jadi petani diuntungkan, pedagang juga banyak pembeli, dan pembeli juga tidak mengeluhkan harga,” tandasnya.

Hal senada dikatakan Atik Lestari, pedagang beras. Ia mengatakan harga beras jenis C4 dan 64 mengalami kenaikan kisaran Rp 1.000-2.000. Yaki beras 64 dari Rp 7.500 menjadi Rp 8.500. sedangkan beras C4 dari Rp 8.500 menjadi Rp 10 ribu. “Kenaikan harga karena mau ada kenaikan BBM,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Widya mengatakan kenaikan harga tersebut dinilainya masih normal karena masyarakat masih banyak yang membeli. “Selama masih ada yang beli, kenaikan harga menurut saya normal,” timpalnya.

Kendati demikian, Widya mengaku akan melakukan penyelidikan terhadap penyebab kenaikan dengan memerintahkan Disperindag untuk melakukan pemantauan harga dan menekan kenaikan harga. Perihal rencana kenaikan BBM, menurutnya pemerintah pusat harus melakukan kajian terlebih dahulu sebelum menaikkan. “Jangan masih rencana sudah diumumkan, pedagang pasar yang resah,” tandasnya.

Menurutnya Presiden Jokowi perlu blusukan lagi, sebelum menaikkan harga. Apalagi saat ini kabinet Jokowi-JK baru dibentuk, sehingga perlu di kaji lagi ke depannya. “Perlu waktu yang tepat dengan melihat realitas masyarakat yang ada saat ini,” tambahnya. (bud/ric)