Cabut Bendera di Pusara Makam

396
DEMO: Janda veteran almarhum Arie Soetanto eks TNI Brigade XVII Tentara Pelajar yang diusir dari rumahnya menggelar aksi demo bersama Koalisi Semarang Peduli Jasa Pahlawan, di depan gedung Gubernuran Jawa Tengah, kemarin (12/11). (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)
DEMO: Janda veteran almarhum Arie Soetanto eks TNI Brigade XVII Tentara Pelajar yang diusir dari rumahnya menggelar aksi demo bersama Koalisi Semarang Peduli Jasa Pahlawan, di depan gedung Gubernuran Jawa Tengah, kemarin (12/11). (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)
DEMO: Janda veteran almarhum Arie Soetanto eks TNI Brigade XVII Tentara Pelajar yang diusir dari rumahnya menggelar aksi demo bersama Koalisi Semarang Peduli Jasa Pahlawan, di depan gedung Gubernuran Jawa Tengah, kemarin (12/11). (NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)

GUBERNURAN – Pemerintah dituntut memperhatikan nasib Longga Maryketini Ritongga, 76. Janda veteran almarhum Arie Soetanto eks TNI Brigade XVII Tentara Pelajar yang diusir dari rumahnya.

Tuntutan tersebut disampaikan Koalisi Semarang Peduli Jasa Pahlawan yang terdiri atas LBH-YLBHI Semarang, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) saat menggelar aksi di depan gedung Gubernuran Jawa Tengah, kemarin (12/11). Aksi diisi dengan sejumlah aksi teatrikal dan membawa berbagai spanduk dukungan kepada Ny Arie.

Mereka prihatin, lantaran pasca Ny Arie Soetanto diusir oleh PLT Kanwil Bea dan Cukai Semarang dari rumahnya di Jalan Pandean Lamper I/45 Semarang sejak 3 juli lalu, harus hidup telantar dan berpindah-pindari tempat. ”Saya merasa sedih saja, jasa suami sebagai pahlawan veteran tidak dihargai. Bahkan saya istrinya diusir paksa dari rumah,” isaknya dalam aksi tersebut.

Sambil berkaca-kaca ia menceritakan bagaimana suaminya mengorbankan hidupnya melawan penjajah. Berkat perjuangannya, almarhum suaminya mendapat berbagai penghargaan dari negara. Mulai dari tanda jasa Satya Lencana PK 1 dan 2, Satya Lencana GOM 1 dan 2, Satya Lencana Penegak, Penghargaan dari Laksus/Pangkokamtib Jateng/DIJ, dan Gelar Kehormatan Veteran Pejuang Kemerdekaan RI. ”Yang tertinggi penghargaan Bintang Gerilya yang diberikan langsung Presiden Soekarno,” imbuhnya.

Tahun 1988, Arie Soetanto meninggal dunia di Rumah Sakit Telogorejo Semarang karena sakit. Setelah itu, Ny Arie Soetanto tetap tinggal di rumah negara itu bersama dengan enam putranya. Petaka muncul ketika petugas PLT Kanwil Bea dan Cukai Semarang datang ke rumahnya pada 3 Juni lalu. Beberapa petugas dari TNI dan Polri mengusir Ny Arie Soetanto dari rumahnya. Ironisnya, petugas sempat membentak dan menerjunkan puluhan anggota bak menangkap seorang teroris.

Ronald Marsius anak Ny Arie, mengaku sudah melakukan berbagai usaha untuk mempertahankan rumah mulai dari mengadu ke Pemprov Jateng, komans HAM, sampai Presiden RI. Tapi sayang, dari pihak Bea Cukai tidak mengindahkan dan tidak memberikan toleransi. Sebagai bentuk protes, ia pun mencabut bambu runcing dan bendera merah-putih di pusara makam alm ayahnya Arie Soetanto yang sudah tertancap sejak 1994. Bendera lambang penghargaan sebagai Eksponen Pejuang 45 itu sudah diserahkan kepada Ketua Umum Dewan Harian Nasional Angkatan 45. ”Ini bentuk protes karena saya sebagai janda pahlawan diusir paksa. Saya benar-benar kecewa,” tambah Ny Arie.

Kini setelah enam bulan diusir, Ny Arie Soetanto masih berusaha memperjuangkan dan menginginkan agar bisa tinggal di rumah tersebut. Ia mengaku banyak kenangan baik susah maupun senang selama menempatinya. Ia pun berharap pihak Bea Cukai tidak arogan bisa menyelesaikan masalah ini secara baik-baik. ”Saya hanya ingin kembali ke rumah itu. Barang-barang juga harus dikembalikan,” harap Ny Arie Soetanto. (fth/ida/ce1)