Waspadai Ikan Berpengawet Mayat

402

REJOMULYO – Ratusan pedagang di Pasar Ikan Rejomulyo Semarang, Rabu (12/11) malam sekitar pukul 22.00, mendadak kaget dan bertanya-tanya. Aktivitas jual beli ikan sejenak terhenti saat puluhan petugas dari Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan melakukan monitoring atau inspeksi mendadak (sidak) terkait dugaan penggunaan zat formalin di pasar ikan terbesar di Kota Semarang tersebut. Zat formalin atau zat kimia yang sering dikenal untuk pengawet mayat tersebut dinilai masih rentan digunakan oleh para pedagang ikan untuk mengawetkan ikan dagangannya.

Sidak tersebut dipimpin langsung oleh Direktur Pengolahan Hasil, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Abdul Rokhman. Didampingi sejumlah staf, rombongan ini berkeliling di kios-kios pedagang ikan di Pasar Rejomulyo, Semarang.

Selama kurang lebih satu jam, tim yang melibatkan sejumlah peneliti dari Laboratorium Pengujian dan Pengawasan Mutu Hasil Perikanan Kota Semarang meneliti sampel ikan yang diambil secara acak dari pasar tersebut. Ikan-ikan sampel itu langsung diteliti menggunakan alat khusus. Hasilnya, ikan-ikan di Pasar Rejomulyo Semarang dinyatakan steril dari zat formalin.

”Jika hasil tester menjadi warna ungu tua, maka ikan tersebut mengandung formalin. Di sini, ada tiga ikan sampel yang kami teliti tidak ditemukan zat formalin. Hal itu bisa dilihat dari kertas tester yang tidak berubah menjadi ungu tua,” jelas Abdul Rokhman, di sela-sela sidak di Pasar Ikan Rejomulyo.

Salah satu kios yang dinyatakan steril formalin adalah milik Romanah. Hasil tester itu pun disambut tepuk tangan oleh sejumlah pedagang di pasar tersebut. ”Horeeee….aman, aman, semoga laris, laris, laris….,” teriak sejumlah pedagang.

Abdul Rokhman kemudian menempelkan stiker bertulis ”Jangan Menggunakan Formalin!!!” di sejumlah kios.

Dikatakan Abdul Rokhman, sidak tersebut dalam rangka melakukan pemantauan di bulan mutu perikanan 2014. Kegiatan itu juga menjadi sosialisasi terkait bahayanya penggunaan zat formalin.

”Pedagang ikan masih rentan menggunakan larutan berbahaya tersebut sebagai pengawet ikan. Padahal jika dikonsumsi 2 sendok atau 30 ml saja, formalin bisa mengakibatkan kematian,” terangnya.

Dijelaskan, penggunaan formalin mengakibatkan perut terasa panas, mual, muntah, hingga kejang-kejang. Bahkan, lanjutnya, penggunaan formalin bisa menyebabkan kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat, hingga ginjal.

”Hingga kini masih banyak masyarakat yang belum bisa membedakan antara ikan yang dilumuri formalin dan ikan segar biasa,” ujarnya.

Dia menerangkan, ikan yang mengandung formalin mempunyai ciri-ciri warna insang tua, daging berwarna putih bersih, bau menyengat, bau formalin, kulit cerah, daging kenyal, tidak mudah busuk, serta tidak dihinggapi lalat. ”Sedangkan ikan yang bebas formalin adalah warna insang merah segar, bau khas ikan, mudah busuk dan dikerubuti lalat,” tandasnya.

Sidak tersebut memang sengaja dilakukan malam hari, karena aktivitas pedagang ikan di Pasar Rejomulyo tersebut hanya malam hari, sejak pukul 20.00 hingga 04.00. Pagi harinya, ikan-ikan berbagai macam jenis itu telah beredar di pedagang pasar-pasar tradisional, ataupun konsumen ikan lain di Kota Semarang. (mg5/aro/ce1)