Direktur CV Idola Perdana Tersangka

473
FOTO BERSAMA : Dari kiri Kepala Kejari Kendal Yeni Andriani, Kasipidsus Kirno beserta istri saat pisah sambut di RM Aldila, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
FOTO BERSAMA : Dari kiri Kepala Kejari Kendal Yeni Andriani, Kasipidsus Kirno beserta istri saat pisah sambut di RM Aldila, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
FOTO BERSAMA : Dari kiri Kepala Kejari Kendal Yeni Andriani, Kasipidsus Kirno beserta istri saat pisah sambut di RM Aldila, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL—Kejaksaan Negeri (Kejari) Kendal menetapkan dua tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan kursi tribun Stadion Utama Kendal sebesar Rp 2 miliar tahun anggaran 2013. Dua tersangka yakni, Direktur CV Idola Perdana inisial FH selaku pihak ketiga atau pelaksana pekerjaan pengadaan kursi tribun dan seorang PNS di Kendal berinisial CU selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom).

Kepala Kejari Kendal, Yeni Andriani mengatakan keduanya di jerat dengan pasal 2 ayat 1 dan Pasal 3 Undang-undang (UU) nomor 31 tahun 1999 sebagaimana ditambahkan dalam UU nomor 20 tahun 2001 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. “Ancaman pidana jeratan dua pasal tersebut adalah 20 tahun penjara,” katanya Jumat, (14/11) di sela acara pisah sambut Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejari Kendal dari yang lama Kirno ke yang baru Zaiful Alim Said di rumah makan Aldila.

Lebih lanjut, Yeni menjelaskan, keduanya secara bersama-sama di duga telah melakukan korupsi dalam pengadaan kursi tribun Stadion Utama Kendal. “Penetapan tersangka keduanya setelah penyidik melakukan penyelidikan dan menemukan dua alat bukti yang cukup,” jelasnya.

Yakni pada 2013 Dinas Pemuda dan Olahraga (Dinpora) Pemkab Kendal dengan pagu anggaran senilai Rp 2 miliar. Jumlah kursi untuk memenuhi tribun Stadion Kendal sebanyak 1.000 buah. Kemudian dilakukan lelang dan diikuti sebanyak 14 peserta. Dari jumlah peserta, panitia lelang menetapkan ada tiga peserta yang lolos kualifikasi. Yakni CV Idola Perdana dengan penawaran 1,87 miliar, CV Bina Tani (Rp 1,972 miliar) dan PT Anugerah Mega Gemilang (Rp 2,095 miliar). “Indikasi sementara ada dugaan pengaturan lelang, sehingga CV Idola Perdana bisa muncul sebagai pemenang. Karena CV Idola Perdana dengan CV Bina Tani pemiliknya ada hubungan keluarga, sedangkan PT Anugerah Mega Gemilang menawar diatas pagu, ini jelas aneh,” ujar Kasipidsus Kendal, Kirno.

Selain itu, lanjut Kirno, indikasi lainnya yakni barang tidak sesuai dengan spesifikasi dalam kontrak pekerjaan. Sedianya kursi harus mencantumkan Standar Nasional Indonesia (SNI). “Tapi ternyata dalam kontrak dan barang tidak ada logo SNI,” jelasnya.
Kirno juga membeber, yang lebih aneh pada saat lelang pekerjaan, panitia belum membuat Harga Perkiraan Sendiri (HPS). Padahal sebelum di lelang, harusnya HPS sudah di buat agar peserta lelang bisa memperkirakan kemampuan perusahaannya. “Munculnya HPS justru setelah ditetapkan pemenang lelang,” tandasnya.

Perihal kerugian negara yang dialami akibat kasus ini, Kirno masih enggan membeber. Sebab paska penetapan tersangka nanti masih akan dilakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi dan kedua tersangka. (bud/ric)