Kecam Oknum Polisi Brutal

375
AKSI SOLIDARITAS: Puluhan wartawan Kota Semarang mengecam aksi brutal oknum polisi di Bundaran Eks Videotron Jalan Pahlawan, Semarang, Jumat siang (14/11). (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
 AKSI SOLIDARITAS: Puluhan wartawan Kota Semarang mengecam aksi brutal oknum polisi di Bundaran Eks Videotron Jalan Pahlawan, Semarang, Jumat siang (14/11). (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

AKSI SOLIDARITAS: Puluhan wartawan Kota Semarang mengecam aksi brutal oknum polisi di Bundaran Eks Videotron Jalan Pahlawan, Semarang, Jumat siang (14/11). (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

SIMPANG LIMA – Puluhan wartawan dari berbagai media, baik cetak, online maupun elektronik di Kota Semarang, mengecam insiden kekerasan yang dilakukan oknum polisi terhadap empat wartawan di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (13/11) lalu. Aksi brutal yang dilakukan oleh oknum polisi tersebut telah melukai profesi jurnalis di Indonesia.

Kasus tersebut juga menunjukkan bahwa masih ada anggota polisi yang seharusnya menjadi penegak hukum dan melindungi rakyat, justru bertindak arogan tanpa perikemanusiaan. ”Kejadian itu bentuk kebrutalan yang tidak patut dicontoh,” tegas Deo, salah satu wartawan televisi swasta di Bundaran Eks Videotron Jalan Pahlawan, Semarang, saat melakukan orasi, Jumat siang (14/11).
Dikatakan dia, seluruh wartawan di Kota Semarang menyampaikan dukungan kepada wartawan Makassar, yang menjadi korban kekerasan oknum polisi. ”Jangan sampai aksi kekerasan seperti itu terulang,” katanya.

Selain melakukan orasi, para wartawan juga melakukan aksi teatrikal yang menggambarkan kebrutalan oknum polisi saat melakukan pemukulan terhadap sejumlah wartawan. Sedangkan beberapa wartawan lainnya, membawa poster bertuliskan ”Save Jurnalis!”.
Dalam aksi tersebut, sejumlah polisi dari Polrestabes Semarang tetap melakukan penjagaan. Salah seorang wartawan media elektronik, Jebs Roy mengatakan, aksi kekerasan terhadap wartawan merupakan bentuk kemunduran. ”Kepolisian harus mengusut tuntas kasus kekerasan terhadap wartawan. Ini bukan kali ini saja terjadi, jangan sampai tindakan brutal menjadi virus menular,” katanya. (mg5/ida/ce1)