Satu Kucing Dimahari Rp 12 Juta, Butuh Perawatan Khusus

945
HOBI ADOPSI: Kartika Nur Sapto memamerkan kucing jenis british yang ia ternakkan di rumahnya, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
 HOBI ADOPSI: Kartika Nur Sapto memamerkan kucing jenis british yang ia ternakkan di rumahnya, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

HOBI ADOPSI: Kartika Nur Sapto memamerkan kucing jenis british yang ia ternakkan di rumahnya, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

Berawal dari hobi memelihara kucing, Kartika Nur Sapto kini mulai menekuni bisnis ternak dan adopsi kucing. Seperti apa?

BUDI SETYAWAN, Kendal

Di temui di rumahnya di Desa Ngampel Wetan RT 5 RW 1, Kecamatan Ngampel, tampak Kartika sedang sibuk memberi makan kucing-kucingnya. Berbagai ras jenis kucing ia pelihara. Mulai dari jenis Anggora, Persia baik medium, flat maupun peaknose.

Selain itu ada juga kucing yang tergolong berharga mahal seperti british dan jenis terbaru kucing bengal yang menyerupai macan. Kucing-kucing itu ia pelihara, bahkan kini jumlahnya sudah mencapai belasan. Kepada Radar Semarang, Kartika mengaku memang sejak kecil sudah cinta kucing. Namun baru beberapa tahun ini menekuni ternak dan adopsi kucing. “Yang bagus ada tujuh kucing british dan empat kucing bengal, sebagian lainnya sudah terjual,” katanya, Jumat (14/11).

Kartika mengaku, satu ekor kucing biasa ia lepas dengan mahar kisaran Rp 7 – 12 juta untuk jenis british dan minimal Rp 15 juta untuk kucing jenis bengal. “Dua kucing ini memang cukup mahal, apalagi jika kucing sudah bersertifikat (pedigree) mahar untuk mengadopsi bisa mencapai puluhan juta,” tuturnya.

Mahar tinggi dan keuntungan yang cukup menggiurkan itulah yang membuat ia kini mulai menekuni ternak dan adopsi kucing. Bahkan kucing-kucingnya sudah ia diadopsi sampai ke luar pulau Jawa dengan mahar belasan juta rupiah. “Biasanya upload gambar kucing di social media di antara para pecinta kucing dan mempersilahkan bagi yang ingin mengadopsi. Setelah sepakat, mahar di transfer, kemudian kucing saya kirim melalui paket khusus,” tandasnya.

Diakuinya memang tidak mudah merawat kucing. Sebab selain kesehatan juga perlu di jaga keindahan bulu-bulunya. Mulai dengan menjaga pola makan kucing, dan membersihkan kandang supaya bersih dan sehat.

Selain itu setiap grooming atau perawatan untuk menjaga penampilan kucing agar tetap indah juga harus diperhatikan. Seperti memandikan kucing dua minggu sekali dengan shampo khusus, pemberian vitamin, pemotongan kuku dan sebagainya. “Jadi biaya perawatan juga cukup mahal,” paparnya.

Hal lain, adalah mengetahui karakter kucing itu sendiri. Sebab menurutnya kucing memiliki karakter berbeda akan ketahanan dan lingkungan. Kucing persia dan anggora misalnya dua kucing ini tidak tahan terhadap cuaca panas. Kucing yang manja dan banyak digemari di Indonesia ini justru suka cuaca lembab dan dingin. “Kalau panas justru bulunya rontok dan tidak mengkilap,” jelasnya.

Sedangkan kucing bengal, karena ia berasal dari keturunan Asian Leopard Cat (ALC) dengan kucing domestik, ia lebih suka cuaca yang hangat dan lingkungan terbuka agar bisa berlari dan bermain bebas. “Karena kucing ini bukan tipe kucing manja,” tandasnya.
Kendati sebagai pehobi kucing, Kartiko sendiri mengaku sungkan melepas kucingnya jika ada yang hendak mengadopsi. Tentu, istilahnya harus mengganti biaya makan atau mahar. Ia berpesan, bagi para penghobi kucing yang baru untuk bisa memahami seluk-beluk kucing sebelum mengadopsinya. (bud/ric)