Dirintis sejak Kuliah, Kini Terkenal di Indonesia

366
KREATIF: Imron Wahyu Wicaksono di showroom tas kamera produksinya. (AKBAR SATRIAWAN/RADAR SEMARANG)
 KREATIF: Imron Wahyu Wicaksono di showroom tas kamera produksinya. (AKBAR SATRIAWAN/RADAR SEMARANG)

KREATIF: Imron Wahyu Wicaksono di showroom tas kamera produksinya. (AKBAR SATRIAWAN/RADAR SEMARANG)

Imron Wahyu Wicaksono boleh dibilang seorang fotografer yang berjiwa entrepreneur. Sebab, dia tak hanya pintar memotret, tapi juga menggeluti bisnis pembuatan tas kamera yang beromzet besar tiap bulannya. Seperti apa kisahnya?

AKBAR SATRIAWAN

JIWA entrepreneur Imron Wahyu Wicaksono sudah muncul saat masih kuliah di jurusan Teknik Informatika (TI) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus). Kala itu, sambil kuliah, pria bertubuh subur ini menyalurkan hobinya di bidang fotografi yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Nah, saat menjadi fotografer itu, Imron –panggilan akrabnya— membeli sebuah tas kamera.

”Saat membeli tas kamera itu, iseng-iseng saya amati desain dan bentuknya. Saya kok langsung tertarik untuk bisnis tas kamera, karena banyak pencinta fotografi yang membutuhkan,” kenang alumnus Udinus 2011 ini.

Begitu lulus kuliah, mimpi Imron berbisnis tas kamera pun diwujudkan. Dengan modal tabungan dari hasil memotret, ia kulakan tas kamera dari distributor, kemudian dijual lagi. Tak disangka, tas kamera yang dijual laku keras di pasaran. Apalagi dirinya mematok harga bersaing.

”Melihat pasar yang bagus, saya pun berpikir kenapa tidak memproduksi tas kamera sendiri? Saya pun membeli bahan mentah sendiri, lalu saya jahitkan ke penjahit tas. Desainnya saya gambar sendiri,” kenangnya.

Lagi-lagi, Imron tak menduga ternyata tas kamera produksinya laku keras di pasaran. Setiap hari order berdatangan. Banyaknya pesanan ini membuat penjahit tas langganannya kewalahan.

”Order banyak tapi penjahit yang saya bayar mulai kewalahan. Itu sempat membuat saya pusing. Karena semua pemesan kan penginnya jadi cepat,” katanya saat ditemui Radar Semarang di rumahnya Jalan Trajutresno No 6 Semarang Barat.

Karena itulah, Imron memutuskan membeli mesin jahit sendiri. Ia juga mempekerjakan seorang penjahit di rumahnya. Sejak itu, order tas kamera yang diterima semakin banyak. Ia pun kembali menambah mesin jahit dan karyawan. ”Awalnya hanya ada satu mesin jahit, sekarang sudah 11 mesin jahit dengan 15 karyawan,” akunya.

Imron mengakui, kesuksesannya berbisnis tas kamera juga berkat dukungan sang istri, Dini. Sejak awal, kata dia, istrinya membantu dalam memasarkan produknya. Sang istri juga membantu setiap pengiriman barang ke pemesan.

”Order datang dari seluruh Indonesia. Biasanya barang saya kirim lewat paket,” imbuh Dini, yang kini telah dikaruniai seorang anak, Marsello.

Selain membuka showroom di rumahnya, Dini memasarkan produk tas kameranya lewat situs jejaring sosial, seperti Facebook, Instagram, Twitter, blog, dan yang paling ampuh lewat BlackBerry Messeger (BBM).

”Pemasarannya lewat sosial media pastinya, tapi paling ampuh lewat BBM. Hanya dengan mengganti display picture (DP) saja, pasti ada yang tanya. Kalau broadcast sekarang sudah jarang,” tambah Imron.

Imron mengakui, selama 5 tahun berbisnis tas kamera, ia kerap terkendala sulitnya mendapatkan bahan baku tas, serta kebingungan mencari desain baru. Selain itu, pernah beberapa kali desain tas kamera hasil karyanya dibajak oleh orang lain untuk komersial. Namun baginya hal itu tidak diambil pusing. Pasalnya brand yang dimiliki sebagai ”Juragan Tas Kamera” sudah sangat melekat. Tak heran, jika dalam sebulan, ia bisa membukukan omzet penjualan antara Rp 30 juta-Rp 40 juta.

Saat ini, selain membuat tas kamera, Imron juga melebarkan sayapnya dengan memproduksi kaus, jaket bergambar kamera, serta strip untuk kamera. ”Alhamdulilah bisnis saya berjalan lancar. Setiap hari pasti ada yang pesan. Ke depan mudah-mudahan akan semakin besar lagi sehingga bisa membuka lapangan kerja bagi banyak orang,” harapnya. (*/aro/ce1)