Jalan Sempit, Mobil PMK pun Sulit Masuk

399

Penduduk Kota Semarang semakin padat. Dampaknya, gang-gang di perkampungan pun semakin sempit. Banyaknya gang sempit di sejumlah perkampungan ini menjadi persoalan serius. Sebab, sewaktu-waktu bahaya mengancam akibat gang sempit. Misalnya jika terjadi kebakaran, membuat petugas pemadam kebakaran (PMK) kesulitan mendekat lantaran gang tak bisa dilewati mobil blanwir. Perlukah standardisasi lebar jalan kampung?

HIDUP di perkampungan dengan jalan sempit memang serba merepotkan. Seperti di Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah. Hampir semua jalan kampung di wilayah ini jauh dari standar. Selain sempit, juga hampir di semua mulut jalan dibangun gapura yang semakin mempersempit akses masuk. Jangankan dilewati mobil, kendaraan roda dua pun terkadang harus dituntun jika masuk ke dalam kampung. Sebab, lebar gang di kampung ini rata-rata hanya 1–1,5 meter.

Bagaimana jika terjadi kebakaran di dalam kampung? Jelas mobil PMK tak bisa menjangkau sampai ke dalam. Biasanya warga memanfaatkan pompa air, yang tentu saja kurang maksimal dalam memadamkan api jika terjadi kebakaran.

Ketua RW 03 Kelurahan Purwodinatan, Wahyuno, mengaku cukup kerepotan jika ada hal-hal emergency, seperti kebakaran ataupun ada warganya yang sakit dan perlu dilarikan ke rumah sakit menggunakan mobil.

”Setiap hari di Kampung Bustaman digunakan untuk memasak gulai kambing. Perapiannya cukup besar, karena untuk memasak banyak. Artinya, risiko terjadi kebakaran juga besar,” katanya kepada Radar Semarang.

Menyadari hal itu, sementara ini warga hanya mengandalkan pompa air dari dua titik mata air di sumur umum. Wahyuno mengaku sudah mengajukan permintaan pengadaan pompa portable untuk pemadam kebakaran berkapasitas besar yang bisa dipindah-pindah kepada pemerintah kota. ”Tapi hingga sekarang belum ada tanggapan,” ujarnya.

Kemungkinan melebarkan jalan kampung, menurut Wahyuno, agaknya sulit terelaisasi. Sebab, kampung yang dihuni 11 RT atau sekitar 400 kepala keluarga (KK) tersebut sudah terlalu padat. ”Tidak mungkin menggusur warga di kanan-kiri jalan yang memang punya hak tinggal di sana,” katanya.

Basirun, salah satu warga di Kampung Bustaman mengatakan, sudah jadi risiko tinggal di kampung yang jalannya sempit. Ia mengaku pernah punya pengalaman ketika salah satu anggota keluarganya butuh pertolongan medis. Saat itu, salah satu keluarganya harus digotong hingga di pinggir jalan raya, karena mobil tidak bisa masuk ke dalam kampung.

”Di sini mobil biasa saja tidak bisa masuk kampung, apalagi ambulans. Mau tidak mau, pasien yang tidak bisa berjalan harus digotong atau dinaikkan becak sampai Jalan MT Haryono, sebelum akhirnya dinaikkan mobil,” jelasnya.
Perkampungan dengan jalan yang sempit juga ditemukan di Margoyoso, Tambakaji, Ngaliyan.

Effendy, 35, warga Margoyoso mengatakan, gang sempit di mana pun menjadi persoalan. Baik persoalan penanganan kebakaran, maupun apa saja. ”Saya sendiri penginnya punya kampung yang memiliki gang lebar. Tapi, kalau di kampung kami mempunyai gang sempit ya harus bagaimana lagi? Lha wong sudah lama seperti itu,” katanya pasrah.

Menurutnya, semua warga di perkampungan tempat tinggalnya sebenarnya menginginkan ada gang yang lebar. ”Namun gang sempit itu karena keterbatasan lahan untuk jalan. Ini sudah turun-temurun seperti itu,” ujarnya.

Dia mengaku tidak terpikirkan andai saja suatu saat terjadi kebakaran. Menurutnya, rata-rata warga tidak sampai berpikir sampai di situ. ”Selama ini yang saya pikirkan, kondisi kampung aman, tertib, rukun, tentrem dan adem ayem saja. Itu sudah bagus. Tapi di lain sisi memang benar, jika bahaya kebakaran bisa setiap saat mengancam,” katanya.

Terpisah, Camat Semarang Utara, Djaka Sukawijana juga mengakui di wilayahnya masih banyak perkampungan padat penduduk yang rata-rata gangnya sempit. Kondisi itu jelas menyulitkan jika terjadi emergency, salah-satunya jika terjadi kebakaran.

”Memang hal itu belum terpikirkan oleh masyarakat. Dibutuhkan wacana untuk lebih menyadarkan masyarakat agar sadar lingkungan, termasuk dalam pembuatan gang,” katanya.

Dikatakan, dalam membuat gang, desain tata jalan, kawasan hijau, saluran air dan lain-lain, memang harus ada ketentuannya. ”Namun harus bagaimana lagi, persoalan gang sempit itu kan sudah berlangsung dalam kurun waktu yang lama,” ujarnya.

Menurut Djaka, pembangunan termasuk jalan, menyesuaikan lokasi geografis lahannya. Mereka berusaha memaksimalkan lahan di lokasi perkampungan padat penduduk tersebut. ”Masyarakat cenderung tidak tahu atau tidak memahami. Padahal ini mempunyai efek jangka panjang,” katanya.

Terkait hambatan penanganan jika terjadi kebakaran, menurut Djaka, petugas pemadam kebakaran barangkali harus mencari strategi khusus untuk menangani persoalan gang sempit. ”Barangkali butuh armada yang didesain khusus untuk menjangkau gang sempit. Butuh armada yang lebih kecil misalnya. Mungkin itu solusinya. Kalau mengubah desain gang, saya pikir itu sulit,” ujarnya.
Djaka mengakui beberapa titik perkampungan di Semarang Utara masih mempunyai persoalan gang sempit. ”Terutama di daerah Kebonharjo mulai RW 2 sampai RW 11,” katanya.

Portal Dibuka Paksa
Humas Kantor SAR Kota Semarang, Aris Triyono, mengaku sering menemui kasus ”gang sempit” pada beberapa kejadian. ”Kami kesulitan mendekati lokasi musibah karena gang yang sempit dan portal yang terkunci. Jadi, kami harus menempuh jalan kaki, dengan berlari untuk mencapai lokasi musibah,” ucapnya.

Persoalan yang sering ditemui, gang tersebut lebar, tapi diportal. Sedangkan di perkampungan tersebut cukup lama mengurus perizinan masuk.

”Terkadang harus menunggu terlalu lama portal untuk dibuka, kasihan korban. Apalagi kalau korban masih hidup, butuh pertolongan segera, kadang kami dengan berat hati harus membuka paksa portal itu,” ujarnya.

Aris mencontohkan pada kasus atau musibah orang tercebur sumur di daerah Gajahmungkur, Semarang. ”Jalannya sempit, kami sudah mentok, mobil tidak bisa jalan. Akhirnya, tim harus berjalan kaki, berikut peralatannya, sehingga membutuhkan waktu lama,” katanya.

Terkait ukuran jalan ideal, dia mengaku tidak bisa berkomentar. Pihaknya bersama tim SAR kadang memang menemui hambatan berkaitan dengan adanya gang sempit dan portal gang. ”Kalau soal ukuran ideal jalan, Dinas Pekerjan Umum (DPU) mungkin yang lebih tahu. Itu hanya keluhan kami saja,” ujarnya.

Menurutnya, selama ini, kebanyakan kasus yang terjadi adalah saat dilaporkan kepada tim SAR, korban sudah dalam kondisi meninggal. Sebelumnya, warga sudah berusaha menolong namun gagal, lalu mengundang Basarnas.

”Ada juga kasus korban masih hidup, biasa korban percobaan bunuh diri. Misalnya, panjat tower sutet, panjat pohon, ada juga yang coba dengan lompat ke sumur. Tapi kondisinya masih hidup.

Kalau yang kasus begini korban biasanya masih hidup, kami evakuasinya dengan pendekatan persuasif,” katanya. (mg16/mg5/aro/ce1)