Di-Bully Pedagang, Wali Kota Emosi

446
BERSITEGANG: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi sempat emosi saat bertemu PKL Kartini di lantai II Pasar Karimata sore kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
 BERSITEGANG: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi sempat emosi saat bertemu PKL Kartini di lantai II Pasar Karimata sore kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

BERSITEGANG: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi sempat emosi saat bertemu PKL Kartini di lantai II Pasar Karimata sore kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

REJOSARI – Pembongkaran paksa lapak pedagang kaki lima (PKL) yang menempati median Jalan Kartini oleh Pemkot Semarang, Selasa (18/11) kemarin, menuai protes keras dari para pedagang. Bahkan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi ’diserang’ bertubi-tubi oleh pedagang saat meninjau tempat relokasi di lantai II pasar burung Karimata. Karena dianggap tidak memberikan tempat pengganti yang layak.

Ratusan petugas Satpol PP-Linmas Kota Semarang didampingi aparat kepolisian dan TNI melakukan pembongkaran lapak PKL median Jalan Kartini subuh sekitar pukul 04.00. Proses pembongkaran berjalan lancar karena para pedagang belum beraktivitas.

Siangnya, pedagang kaget mendapati area jualannya telah porak-poranda. Median jalan sudah bersih dari lapak, bahkan di sisi kanan kiri median terpasang pagar kawat berduri.

Ketua Paguyuban Pesona Pasar Burung Semarang (P3BS), Wahyudi, menganggap, tindakan Satpol PP dalam merelokasi pedagang semena-mena. Bahkan, dalam mengambil alih lokasi PKL yang sudah ditempati puluhan tahun itu tidak manusiawi.

”Tempat kita sudah dibongkar, belum ada kepastian tempat relokasi. Kami menyayangkan sikap pemerintah yang arogan dan tidak manusiawi,” keluhnya.

Menurutnya, pemerintah akan menempatkan relokasi pedagang di Pasar Karimata lantai II. Namun tempat tersebut tidak layak untuk ditempati oleh pedagang.

PEDAGANG KARTINI _NURCHAMIM (1)web

”Tempatnya sangat panas dan sempit. Memang, kalau pedagang ditata rapi, tapi tidak bisa menjual barang, kan sama saja percuma. Ditempati orang saja mungkin tidak betah, apalagi hewan yang akan kita jual,” katanya.

Para pedagang menginginkan pasar yang layak dan tersentral seperti pasar burung Depok di Solo. Namun tuntutan itu belum terpenuhi, dan sekarang lokasi PKL yang masih ditempati sudah dihancurkan. Pihaknya akan mempertahankan PKL Kartini supaya bisa ditempati berjualan.

”Kita berjualan untuk makan. Kalau sekarang tidak berjualan bagaimana untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan membiayai anak-anak sekolah. Pak Wali juga pernah menyuarakan tidak menyakiti hati rakyat. Tapi pagi tadi tempat pedagang berjualan sudah berantakan. Kami merasa ditelikung,” ujarnya.

Merasa dirugikan, sekitar pukul 10.00 ratusan pedagang langsung mendatangi balai kota, untuk meminta kejelasan nasib. Para pedagang ditahan oleh petugas satpol PP dan hanya bisa menggelar orasi di depan pintu gerbang. Sesaat setelah itu, sekitar sepuluh orang perwakilan pedagang diminta masuk untuk beraudiensi langsung bersama wali kota.

Pedagang pun meminta agar pemkot mengevaluasi ulang tempat relokasi bagi pedagang pakan burung di lantai dua Pasar Karimata. Proses audiensi sempat memanas, karena kedua belah pihak saling mempertahankan argumen. Pedagang menuding tindakan pemkot sangat arogan. Karena belum ada titik temu, namun pedagang sudah digusur paksa.

Wali Kota Hendrar Prihadi yang mendengar keluhan pedagang pun menjanjikan akan meninjau lokasi pada sore harinya. Setelah dicapai kesepakatan, sekitar pukul 12.00, para pedagang membubarkan diri, dan meninggalkan balai kota.

Sekitar pukul 16.00, Hendi, sapaan akrab wali kota— menepati janjinya untuk meninjau tempat relokasi pedagang di lantai dua Pasar Karimata. Kedatangan orang nomor satu di Kota Semarang itu pun langsung disambut riuh para pedagang. Puluhan pedagang pun langsung mengerumuni wali kota yang sedang meninjau lokasi.

Di antara mereka ada yang berseragam putih-merah bertuliskan Paguyuban Pesona Pasar Burung Semarang (P3BS). Mereka menyampaikan uneg-uneg dan penolakannya menempati tempat relokasi yang dipilih pemkot, dengan nada tinggi.

kunjungi lokasiweb

”Di sini panas Pak, tidak layak. Lha wong di bawah saja banyak kios yang mangkrak, jadi gudang, apalagi yang di atas,” kata salah seorang pedagang dengan nada tinggi.

”Katanya panas, ini nyatanya juga tidak panas,” ujar wali kota.
”Pak wali datangnya sore, ya tidak panas. Coba besok datang jam 10.00 sampai jam 13.00,” timpal Partini, salah seorang pedagang pakan burung.

Mendapati ucapan pedagang itu, wali kota pun berencana datang kembali sesuai jadwal yang diminta pedagang.
Serangan pedagang kepada wali kota pun semakin panas. Sejumlah pedagang mulai berani mematahkan kebijakan wali kota. Mereka tetap tidak ingin menempati lantai dua, meski pemkot menjanjikan sejumlah fasilitas yang selama ini dikeluhkan pedagang. Seperti melebarkan ventilasi, menambah kipas angin, membuat saluran air dan sebagainya.

”Namanya sebuah problem pasti harus dicarikan solusinya. Kalau tempatnya panas ya kita buat tidak panas, tambah ventilasi dan kipas angin. Kalau khawatir tidak laku ya kita tata manajemen mereka,” ujar Hendi.

”Di sini tidak akan laku, karena di bawah pedagang grosir, sementara kita eceran. Kita kalah saing. Kalau tidak laku nanti kami makan apa?” timpal Partini yang mengaku sudah berjualan pakan burung selama 15 tahun.

Mungkin karena sudah jengkel, wali kota lantas menawarkan tempat relokasi kepada pedagang yang dianggap layak. ”Kalau di sini tidak layak, terus maunya di mana? Silakan cari tempat sendiri yang bukan kawasan larangan,” tantang wali kota.
Pedagang pun langsung menunjuk lokasi yang diinginkan. Yakni, di sepanjang bantaran sungai, samping bangunan Pasar Karimata. Wali kota pun tidak bisa memutuskan begitu saja, karena harus berkoordinasi dengan pihak terkait, apakah memungkinkan kawasan tersebut ditempati pedagang.

Melihat suasana semakin tidak kondusif, wali kota meneruskan pantauannya di lantai I. Namun pedagang terus mengeluarkan keluhannya dengan nada ngotot. Bahkan ketika wali kota sedang diwawancarai sejumlah wartawan, pedagang masih terus berkomentar keras. Termasuk saat wali kota berjalan menuju mobil dinasnya, wali kota terus disemprot pedagang.

”Wali kota ora tau ngrasakke dadi wong cilik, dadi ora ngerti kondisine. Yen pas meh pilihan wae bagi-bagi bantuan, yen wes dadi lali,” celetuk pedagang.

PEDAGANG KARTINI _NURCHAMIM (3)web

Wali kota yang mencoba sabar begitu mendengar ucapan pedagang langsung berbalik arah, dan kembali mendatangi pedagang.
”Benar tidak mau bantu (pemerintah), kalau memang tidak mau membantu, saya juga tidak mau bantu (PKL Jalan Kartini),” ucap wali kota dengan nada kesal lantaran merasa telah di-bully pedagang.

Kepada wartawan, Hendi menyatakan pihaknya tetap akan merelokasi PKL Kartini. ”Sekali lagi, ini kan sudah direncanakan, ada penataan taman dan beberapa warga juga keberatan (adanya PKL di median Jalan Kartini, Red). Ya, kita akan berpikir malam hari ini (kemarin), kira-kira bagaimana caranya pedagang bisa menempati tempat yang sesuai harapan mereka,” ujarnya.

Menurutnya, lahan di lantai II Pasar Karimata masih sangat memungkinkan untuk pedagang. ”Tapi pedagang belum berkenan,” tandasnya. ”Relokasi sifatnya wajib dan mutlak harus dilakukan, karena untuk keindahan estetika kota,” imbuhnya.

Kepala Dinas Pasar Kota Semarang, Trijoto Sardjoko mengatakan, relokasi ini dilakukan karena median Jalan Kartini akan dibangun taman kota. Pembuatan taman itu sudah merupakan program Pemkot Semarang, dan sesuai jadwal seharusnya sudah mulai dikerjakan. Para pedagang sendiri akan direlokasi ke dua tempat, yakni Pasar Dargo dan lantai dua Pasar Karimata.

”Pedagang yang sebelah barat seperti penjual pakaian dan klitikan serta pedagang makanan dipindah ke Pasar Dargo. Sedangkan pedagang burung dan pakan burung dipindah ke Pasar Karimata,” terangnya.

Dikatakan, relokasi kemarin dilakukan sudah sesuai prosedur. Sebelumnya, telah dilakukan sosialisasi dan pertemuan antara pedagang dengan Dinas Pasar. Selain itu pemberitahuan juga sudah disampaikan kepada pedagang.

”Blok barat sudah menerima surat pemberitahuan. Bahkan SP (surat peringatan) 1 sampai SP 3 juga sudah kami berikan. Tapi di blok timur yang sebagian besar pedagang burung mengaku tidak pernah mendapat surat pemberitahuan dan surat peringatan. Padahal saya selau memberikan surat tersebut berkali-kali,” paparnya.

Kepala Trantibum Satpol PP Kota Semarang, Kusnandir mengatakan, relokasi pedagang sengaja dilakukan pukul 04.00 untuk menghindari terjadinya gesekan antara pedagang dengan petugas. Sebab, saat razia pada 30 September lalu, sempat gagal karena mendapat perlawanan pedagang.

PKL KARTINI DIBONGKAR-ADIT(4)web

”Hal itu memang disengaja. Dilakukan sebelum pedagang melakukan aktivitas di tempat PKL Kartini. Kegiatan ini memang lain daripada yang lain, seperti serangan fajar. Sebab kami juga meminimalisasi terjadinya kemacetan lalu lintas saat relokasi,” terangnya.

Dikatakan, saat reloksi kemarin, pihaknya mengerahkan ratusan personel satpol PP yang dibekali dengan peralatan lengkap, serta dibantu petugas gabungan lainnya.

”Seratus petugas satpol PP dengan seragam antihuru-hara sudah berjaga sejak pukul 04.00 pagi. Tapi, ternyata sudah ada sekitar 25 pedagang, sehingga kami minta untuk menepi dulu, dan membantu pengamanan pembuatan taman di median Kartini ini,” katanya.

Pantauan Radar Semarang di lapangan kemarin, lokasi PKL Kartini sudah dipagari dengan kawat berduri oleh petugas. Sebuah alat berat beghu juga terlihat berada di lapangan untuk membongkar cor semen dan sisa lapak yang ditempati pedagang. (zal/mg9/aro/ce1)