Dekatkan Wayang Kulit ke Anak Muda

450
INOVATIF: Bayu Widagdo saat mementaskan wayang batik blues jazz. (dok. Pribadi)
INOVATIF: Bayu Widagdo saat mementaskan wayang batik blues jazz. (dok. Pribadi)
INOVATIF: Bayu Widagdo saat mementaskan wayang batik blues jazz. (dok. Pribadi)

Perkembangan zaman seolah menjauhkan anak muda dengan seni tradisional. Salah satunya kesenian wayang kulit. Namun Muhammad Bayu Widagdo meracik ulang kesenian wayang dengan bumbu modern hingga bisa diterima kalangan muda. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

GELAK tawa terdengar di kompleks Taman KB pada malam minggu lalu. Banyolan-banyolan yang dilontarkan trio lawakan dari Gambang Semarang Art Company (GSAC) cukup menghibur para penonton.

Dari belasan personel komunitas seni tersebut, Muhammad Bayu Widagdo agaknya yang pintar ngelawak. Sebab, selain aktif di komunitas ini, Mas Bayu –sapaan akrabnya- juga memiliki keahlian lain. Yakni, membuat dan memainkan wayang kulit. Namun, wayang yang dibawakan cenderung lebih fleksibel.

Ditemui di sela pementasan, pria yang juga dosen Universitas Diponegoro (Undip) ini menuturkan, sejak kecil ia memang sudah dekat dengan kesenian wayang. Sang ayah adalah dalang, dan Bayu juga sempat menjadi dalang cilik.

Saat menjadi dosen, di luar jam perkuliahan, sejumlah rekan mahasiswa kerap bertanya seputar wayang. Menurutnya, dari situ terlihat ada ketertarikan para mahasiswa akan wayang. Sayang, mereka kerap kali terhambat dengan bahasa Jawa maupun pakem lainnya.

”Saya lantas mencari cara agar dapat mendekatkan wayang ke anak-anak muda, namun tanpa merusak konsep wayang itu sendiri,” ujarnya.

Ia pun mulai membuat wayang dengan desain yang lebih sederhana. Berbahan dupleks, Bayu tetap menampakkan struktur dasar tokoh-tokoh wayang, namun tidak sedetail wayang kulit klasik.

”Meski saya sederhanakan, namun wayang tersebut tetap bisa dikenali. Nah, wayang ini dinamai wayang batik,” katanya.
Wayang tentu akan lebih seru kalau dimainkan. Untuk permainannya, Bayu juga menyesuaikan dengan selera anak muda, yakni dengan memasukkan musik bergenre blues jazz dikolaborasi dengan aransemen gamelan Jawa sebagai latar pementasan. Termasuk juga menambahkan animasi.

”Ceritanya tetap saya kembangkan dari cerita pewayangan. Hanya saja penyampaiannya lebih fleksibel. Bisa dengan pengantar bahasa Indonesia atau Jawa, kemudian musiknya dikolaborasikan dengan blues dan jazz, serta beberapa tambahan lain yang sedang tren di anak muda,” ujar dosen yang mengampu mata kuliah Strategi Kreatif ini.

Bayu juga mengakui, segala hal yang keluar dari pakem pasti tidak lepas dari kontroversi. Kendati demikian, ia tetap berpegang pada prinsip, bahwa apa yang ia kembangkan ini atas dasar kecintaannya terhadap wayang.

”Saya hanya berupaya menjembatani agar wayang kembali dicintai anak muda. Nggak mau juga dong, kita gembar-gembor wayang milik Indonesia dan marah kalau ada negara lain yang mengklaimnya, tapi saat diminta memainkan nyatanya kita nggak bisa. Jangan sampai,” tegasnya.

Namun begitu, lanjutnya, ia tetap mencintai dan menikmati wayang klasik. Ia juga memiliki dalang idola, Ki Narto Sabdo, yang menurutnya banyak menginspirasi. ”Kalau memainkan wayang, dramatisasinya bagus sekali,” puji Bayu.

Ke depan, ia berharap wayang lebih dapat dikenal dan kian dekat dengan anak muda serta terus berkembang. ”Karena fleksibel dari segi waktu juga musik, harapan saya ke depan wayang bisa dipentaskan di kafe atau tempat-tempat anak muda berkumpul. Sehingga bisa lebih dekat,” tandasnya. (*/aro/ce1)