Rekening Nasabah Bank

565

BARUSARI – Uang tabungan senilai Rp 8 miliar di rekening milik salah seorang nasabah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk di Jalan Pemuda No 73 Semarang, hilang misterius. Diduga, telah terjadi pembobolan di rekening bernomor 135-00-1140118 atas nama nasabah Sri Rahayu Binti Soemoharmanto yang kini sudah meninggal. Dugaan kasus pembobolan rekening itu mencuat setelah dilaporkan secara resmi di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang, dengan nomor LP/B/1489/IX/2014/jtg/Res Tbs Smg.

Pihak pelapor adalah salah seorang ahli waris, yakni putra sulung almarhumah Sri Rahayu, Widiyanto Agung Widodo, 49, warga Jalan Teuku Umar No 105 A RT 2 RW 4 Kelurahan Tinjomoyo, Banyumanik Semarang. Dia menilai adanya ”skandal” di balik raibnya uang Rp 8 miliar di rekening Bank Mandiri tersebut. Bahkan ada dugaan keterlibatan ”orang dalam” dalam proses penarikan uang nasabah sebesar Rp 8 miliar.

Pihaknya yang merasa dirugikan berharap kepada kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Namun entah kenapa, hingga saat ini, kasus yang ditangani Unit Reserse Mobil (Resmob) Polrestabes Semarang itu seperti terhalang tembok tinggi, sehingga penyelidikan tidak ada perkembangan berarti.

”Kasus ini telah dilaporkan sejak Selasa 16 September 2014 lalu. Namun hingga kini tidak ada perkembangan. Menurut penyidik yang kami tanya, pihak kepolisian kesulitan meminta akses data-data terkait rekening kami di Bank Mandiri,” kata Widiyanto kepada wartawan di Mapolrestabes Semarang, Selasa (18/11).

Pihak terlapor dalam kasus ini adalah Direktur PT Semarang Makmur, Teguh Santoso, 44, warga Jalan Teuku Umar No 105 A RT 2 RW 4 Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, yang tak lain adalah adik kandung pelapor.

”Kami ada print out resmi yang menunjukkan bahwa pernah terjadi transaksi, atau pernah diambil secara bertahap, yakni dalam kurun waktu 2000-2004 silam. Uang Rp 8 miliar itu telah habis. Transaksi penarikan tersebut tanpa sepengetahuan ahli waris,” beber Widiyanto.

Dijelaskannya, dugaan pembobolan uang di rekening bernomor 135-00-1140118 atas nama ibunya itu baru diketahui sejak 2010. ”Baru diketahui setelah ibu meninggal pada tanggal 28 April 2010. Sebelumnya, rekening itu sudah lama tidak pernah dicek,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskannya, uang Rp 8 miliar di rekening tersebut sedianya menjadi hak empat ahli waris, masing-masing Widiyanto Agung Widodo, Indah Kuswati, Teguh Santoso, dan Bogie Sri H. Keempat ahli waris tersebut telah mempunyai kekuatan hukum berdasarkan surat penetapan ahli waris dari Pengadilan Negeri/Niaga/HI/Tipikor Semarang dengan Nomor: 03/Leg/2014/PN/Semarang tanggal 22 Oktober 2014.

”Teguh Santoso sendiri selama ini kami percaya untuk mengawal ibu sejak sebelum meninggal. Namanya juga adik, saya ya percaya saja,” ujarnya.

Namun dalam perkembangannya, ada hal aneh ketika diketahui uang di rekening tersebut hilang misterius tanpa sepengetahuan ahli waris. ”Anehnya lagi, pihak Bank Mandiri saat dimintai untuk membantu pengecekan terkait rekening milik Ibu Sri Rahayu, justru tidak diperbolehkan tanpa alasan jelas. Kami mempertanyakan, ada apa ini?” ungkapnya.

Kuasa hukum korban, Sri Endang Listiyowati, mengungkapkan, kasus dugaan pembobolan rekening Bank Mandiri itu memang ada kejanggalan. ”Kami menduga, terlapor itu bukan pelaku utamanya. Ada dalang di balik kasus ini,” katanya.

Pihaknya juga mempertanyakan terlapor Teguh ini bisa melakukan penarikan uang rekening atas dasar apa? Sebab, ia tidak mendapat surat kuasa dari ahli waris yang lain. ”Kami maupun pihak penyidik kepolisian saat minta data ke Bank Mandiri tidak memberikan data print out terkait rekening atas nama Ibu Sri Rahayu. Ini kan aneh,” kata Endang.

Dijelaskan Endang, entah ada hubungannya atau tidak, antara istri Teguh yang juga karyawati di Bank Mandiri, dengan kasus ini. Menurutnya, kasus dugaan pembobolan rekening nasabah Bank Mandiri yang dialami kliennya tersebut menyimpan banyak kejanggalan yang harus dibongkar oleh pihak kepolisian.

”Apakah dugaan uang miliaran di rekening nasabah yang sudah meninggal itu digunakan atau dialihkan untuk penyertaan modal di bank tersebut, benar atau tidak, itu tugas kepolisian mengungkapnya. Kepolisian juga harus menemukan apakah ada unsur Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dalam kasus ini. Kami hanya mempertanyakan, kenapa Bank Mandiri tidak mengizinkan atau mengeluarkan data untuk kepentingan penyelidikan kepolisian? Apa yang terjadi di Bank Mandiri?” kata Endang mempertanyakan.

Atas dugaan kasus pembobolan rekening nasabah Bank Mandiri tersebut, pihaknya melaporkan Teguh Santoso dengan tuduhan tindak pidana pencurian pasal 362 jo 367 (2) KUHP dengan kerugian Rp 8 miliar. Pihak Bank Mandiri sendiri melalui surat bernomor 7Sp.SMP.SMG/1926/2014 tertanggal 31 Oktober 2014 menyampaikan, bahwa pembukaan Rahasia Bank terkait rekening atas nama nasabah Sri Rahayu itu antara lain memerlukan izin atau persetujuan dari empat orang ahli waris. Sehingga Bank Mandiri belum bisa memberikan keterangan atas data transaksi rekening dimaksud, karena ”payung hukum” belum ada sehingga ada risiko hukum. Surat tersebut ditandatangani oleh Kepala Cabang PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Cabang Semarang Pemuda, Sus Irwanto.

”Jika nasabah telah meninggal dunia, ahli waris mempunyai hak atas pembukaan rekening tersebut. Hal itu telah diatur oleh Undang-Undang Perbankan memperbolehkan untuk ahli waris, begitu pun untuk kepentingan proses hukum atau penyidik kepolisian yang menangani perkara,” ungkap Endang.

Terpisah, Pejabat Sementara (Pjs) Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, Kompol Sukiyono, mengatakan, kasus ini masih dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Pihaknya mengaku masih memeriksa beberapa saksi. ”Untuk membuka transaksi rekening di Bank Mandiri kami harus mendapat izin dari BI (Bank Indonesia),” ungkapnya. (mg5/aro/ce1)