Tarif Angkutan Umum Naik 20 Persen

1270
NAIKKAN TARIF: Sejumlah sopir dan kernet bus jurusan Weleri-Semarang menaikkan tarif 20 persen secara sepihak. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
NAIKKAN TARIF: Sejumlah sopir dan kernet bus jurusan Weleri-Semarang menaikkan tarif 20 persen secara sepihak. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
NAIKKAN TARIF: Sejumlah sopir dan kernet bus jurusan Weleri-Semarang menaikkan tarif 20 persen secara sepihak. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL—Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi berimbas langsung pada kenaikan tarif angkutan umum di Kendal. Rata-rata angkutan umum menikkan tarif kisaran 10-20 persen dari tarif normal sebelumnya.

Kenaikan tarif angkot tersebut mulai Rp1.000-2.000 dari semula. Ricinannya, kenaikan tarif angkot yang beroperasi dalam dalam kota naik Rp 1.000. Sedangkan angkot yang beroperasi sampai sampai luar kota atau (AKDP) naik hingga Rp2000.
Angkutan Weleri-Semarang misalnya yang semula Rp 10 ribu kini setelah ada kenaikan para sopir dan kerenet bus menaikkan menjadi Rp 12 ribu. Sedangkan untuk penumpang lokal, dengan jarak sekitar tiga sampai enam kilometer dikenai biaya Rp 2.000. Yakni tarif disesuaikan dengan jarak tempuh penumpang.

Kebijakan kenaikan tarif tersebut diakui adalah inisiatif awak bus karena mengikuti harga BBM yang naik. Dalam arti, kenaikan tarif angkutan umum tanpa dilakukan tanpa melalui perda ataupuan keputusan bupati.

Roni Hidayat, salah seorang kernet angkot Weleri-Kendal mengaku nekat menaikkan tarif dilakukan karena para awak bus tidak bisa menunggu penyesuain tarif dari pemerintah daerah. Sebab, kenaikan sudah terjadi, sementara pemerintah belum menetapkan penyesuaian tarif. “Jika tidak dinaikkan, maka kami yang merugi. Karena harus membeli BBM solar dengan harga yang sudah naik. Yakni harga solar Rp 5.500 menjadi Rp 7.500 per liter,” tandasnya.

Selain kenaikan tarif angkutan umum sepihak dilakukan agar para awak bus bisa memenuhi uang seotra kepada pengusaha atau pemilik angkutaan darat yang disewanya. “Setoran dari pemilik belum naik Rp 120.000 per hari. Tapi kami kan harus menyesuiakn dengan tarif BBM agar tidak rugi,” tandasnya.

Hal senada dikatakan Sukatman, sopir bus Kendal-Weleri. Menurutnya, kenaikan tarif tidak semata-mata para awak bus ingin mencari keuntungan. Sebab, para awak bus juga hanya menaikkan tarif Rp 500 kepada pelajar dan buruh pabrik. “Kami sendiri juga memahami penumpang pastinya juga keberatan. Makanya kami menaikkan harga juga tidak tinggi jadi menyesuaikan. Kalau orang biasa kenaikan bisa Rp 1.000-2.000, sedangkan pelajar dan buruh pabrik hanya Rp 500,” tandasnya.

Rodhi, salah seorang penumpang bus mengaku tidak keberatan dengan adanya kenaikan tarif angkot. “Saya paham dengan kenaikan tarif ini karena harga BBM juga naik. Tapikan kalau langsung naik Rp 2.000 warga juga keberatan,” akunya. (bud/zal)