Demo Ricuh, Satu Mahasiswa Terluka

450
DIWARNAI ADU JOTOS: Demo menolak kenaikan harga BBM yang dilakukan puluhan mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Semarang, Rabu (19/11) kemarin, berlangsung ricuh. (Adityo Dwi/RADAR SEMARANG)
 DIWARNAI ADU JOTOS: Demo menolak kenaikan harga BBM yang dilakukan puluhan mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Semarang, Rabu (19/11) kemarin, berlangsung ricuh. (Adityo Dwi/RADAR SEMARANG)

DIWARNAI ADU JOTOS: Demo menolak kenaikan harga BBM yang dilakukan puluhan mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Semarang, Rabu (19/11) kemarin, berlangsung ricuh. (Adityo Dwi/RADAR SEMARANG)

GUBERNURAN – Nyaris merobohkan gerbang pagar kantor Gubernuran Jalan Pahlawan Kota Semarang, aksi demonstrasi puluhan mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Semarang, Rabu (19/11) kemarin, berlangsung ricuh. Bahkan aksi menuntut Presiden Jokowi-JK menganulir kenaikan harga BBM dan turun dari kursi kepresidenan, diwarnai adu jotos. Hingga seorang mahasiswa terluka akibat digebuki petugas polisi.

Sebelum bentrok, massa melakukan orasi penolakan dan sempat membakar ban. Ulah mahasiswa ini sempat membuat kondisi sekitar tegang. Puncaknya, emosi petugas polisi muncul ketika mahasiswa ramai-ramai naik gerbang dan berusaha merobohkannya. Sontak, puluhan personel polisi akhirnya membuka gerbang dan berusaha memukul mundur mahasiswa. Sempat kocar-kacir, hingga akhirnya mahasiswa melawan dan terjadi adu dorong. ”Jokowi harus turun, harga BBM harus turun,” teriak massa.

Koordinator Aksi, Taufan Ganefo mengatakan bahwa kenaikan BBM merupakan bukti pemerintah tak memihak nasib rakyat kecil. Ia mengibaratkan, pemerintah menjajah rakyat sendiri. Massa menilai Jokowi sudah mengingkari janjinya saat kampanye dalam pilpres. ”Slogan Jokowi salam dua jari, sekarang menjadi salam gigit jari. Dengan kebijakan kenaikan harga BBM,” katanya.

Indonesia sebagai negara kaya sumber minyak, tapi hampir semua dikuasai asing. Dari sekian banyak pengelolaan minyak, Indonesia hanya mendapatkan 30 persen, sisanya 70 persen dikuasai asing. Kondisi ini sangat berbenturan dengan UUD 45 pasal 33 ayat 3. ”Kami meminta pemerintah melakukan nasionalisasi aset asing di Indonesia. Jangan sampai rakyat selalu jadi korban,” teriaknya.

HMI mengklaim bentrok ini terjadi akibat polisi membuang bendera HMI ke selokan. Massa yang awalnya tenang langsung emosi. Bentrok sempat terjadi tiga kali hingga akhirnya kondisi bisa kondusif. Dan seorang mahasiswa dikabarkan mengalami luka akibat kena pukulan saat kondisi ricuh. (fth/ida/ce1)