Pemkab Keluarkan Kenaikan Tarif 2 Versi

319
KOORDINASI: Rapat penyesuaian tarif antara Dishub Kendal, Organda Kendal, Paguyuban angkutan umum dan pelaku usaha angkutan umum di kantor dishub setempat, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
 KOORDINASI: Rapat penyesuaian tarif antara Dishub Kendal, Organda Kendal, Paguyuban angkutan umum dan pelaku usaha angkutan umum di kantor dishub setempat, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KOORDINASI: Rapat penyesuaian tarif antara Dishub Kendal, Organda Kendal, Paguyuban angkutan umum dan pelaku usaha angkutan umum di kantor dishub setempat, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL—Dinas Perhubungan Kendal menetapkan kenaikan tarif angkutan umum dua versi. Yakni sebesar 9,47 persen untuk angkutan umum dengan bahan bakar bensin dan 11,39 persen untuk solar. Kebijakan tersebut diputuskan setelah pemkab bermusyawarah dengan Organda dan paguyuban angkutan umum Kendal, kemarin.

Kepala Bidang Angkutan, Wahyu Yusuf mengatakan penyesuain tarif angkutan umum penumpang tersebut didasarkan pada naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Sehingga para pelaku usaha angkutan umum tidak dirugikan.“Rinciannya untuk gaji awak angkutan, BBM, penggantian suku cadang, perwatan dan perpanjangan izin operasional dan uji KIR. Sehingga nantinya dengan kenaikan BBM ini, tidak ada yang dirugikan baik masyarakat maupun pemilik angkutan,” ujarnya, Rabu (19/11).

Lebih rinci wahyu menjelaskan, kenaikan tarif untuk angkutan bahan bakar bensin tarif batas dari Rp 440,77 kini menjadi Rp 449,66 per kilometer. Sementara tarif batas bawah dari Rp 336,09 naik menjadi Rp 367,90 per kilometer. Sedangkan untuk angkutan bahan bakar solar, tarif batas atas yang semula Rp 280,83 menjadi Rp 312,81 per kilometer. Dan tarif bawah menjadi 255,93 dari sebelumnya Rp 229,77 perkilometer.

Tarif tersebut sudah disepakati bersama antara pengurus Organda Kendal, paguyuban pengusaha angkutan darat yang ada di kendal dengan Dinas Perhubungan Kendal. “Berlaku mulai besok (hari ini, Red),” tandasnya.

Ketua Organda Kendal Muhamad Jamaludin membenarkan kebiajakan kenaikan tarif tersebut. Namun demikian, ia mengatakan jika sebenarnya para pelaku usaha transportasi darat umum lebih menghendaki adanya subsidi. Sebab kenaikan harga justru selain memberatkan masyarakat, imbasnya akan kembali lagi kepada para pelaku usaha itu sendiri.“Ketika tarif dinaikkan praktis masyarakat keberatan, sehingga minat masyarakat terhadap angkutan umum ini berkurang karena terkesan mahal. Masyarakat justru memilih menggunakan kendaraan pribadi,” tandasnya.

Selain itu penyesuaian tarif yang lama, untuk batas bawah sebesar Rp 255,93 per kilometer selama ini para awak angkutan tidak ada yang berani memberlakukan. “Misalnya saja tarif Kaliwungu-Boja, sedianya Rp 5.000, tapi di lapangan awak angkutan hanya memungut Rp 3.500-4.000 saja,” akunya. (bud/zal)