PKL Burung Cuekin Pemkot

347
OGAH PINDAH: Ratusan PKL pakan burung nekat berjualan di kanan-kiri Jalan Kartini kemarin. (Adityo Dwi/Radar Semarang)
 OGAH PINDAH: Ratusan PKL pakan burung nekat berjualan di kanan-kiri Jalan Kartini kemarin. (Adityo Dwi/Radar Semarang)

OGAH PINDAH: Ratusan PKL pakan burung nekat berjualan di kanan-kiri Jalan Kartini kemarin. (Adityo Dwi/Radar Semarang)

REJOSARI – Pemkot Semarang bakal kembali dipusingkan oleh keberadaan pedagang kaki lima (PKL) Jalan Kartini. Sebab, meski median jalan tersebut sudah dibersihkan dari PKL, tapi ternyata kawasan tersebut belum benar-benar bersih dari pedagang. Kemarin (19/11), ratusan PKL burung dan pakan burung masih nekat bertahan di kanan-kiri Jalan Kartini. Mereka masih enggan dipindah ke lantai II Pasar Karimata.

Pantauan Radar Semarang, sedikitnya 200 pedagang nekat berjualan di kanan-kiri Jalan Kartini. Mereka tak menggubris larangan Pemkot Semarang membuka dasaran di kawasan tersebut. Alasannya, berjualan di tempat itu ramai pengunjung.

Seorang pedagang burung, Mashudi, 48, mengaku, lebih memilih berjualan di pinggir Jalan Kartini. Menurutnya, jualan di tempat tersebut lebih menguntungkan ketimbang pindah di Pasar Karimata.

”Di sini masih banyak pembeli dan lebih laku. Pelanggan juga mudah mencari saya. Kalau di lantai II Pasar Karimata kemungkinan akan sepi. Apalagi tempatnya juga panas. Orang saja tidak betah tinggal di situ, apalagi hewan yang kita jual,” ungkapnya kepada Radar Semarang.

Dikatakan, saat ini Pasar Karimata hanya memiliki tiga anak tangga dengan ukuran lebar yang tidak maksimal. Selain itu, bangunan Pasar Karimata lantai II kondisinya juga tidak layak sepertinya bangunan pasar.

”Lebar anak tangga cuma 1 meter. Kalau untuk akses jalan dua orang saja tidak nyaman. Apalagi kalau sambil bawa barang-barang seperti sangkar burung atau barang lainnya yang agak besar sangat ribet. Makanya, para pedagang lebih nyaman berjualan di tempat ini meski di pinggir jalan,” terangnya.

Hal sama diungkapkan pedagang pakan burung (kroto), Parti. Dia mengatakan, tempat relokasi di Pasar Karimata lantai II tidak nyaman. Selain itu, bangunan tersebut juga tak mampu menampung para pedagang burung yang jumlahnya mencapai 200 orang.

”Untuk menaruh dan menata tempat saja susah. Kalau pun bisa, paling cuma barangnya saja. Itu pun nantinya umpel-umpelan, sedangkan pedagangnya bagaimana, apa harus berdiri terus. Ya, lebih baik jualan di pinggir jalan saja,” katanya.

Suparti menganggap kondisi bangunan Pasar Karimata masih ala kadarnya dan terlihat tidak terawat. Kondisi atapnya banyak yang jebol. Bahkan kayu penyangga sudah lapuk dan terlihat kurang terurus. Pedagang khawatir atap bangunan itu bakal ambruk lantaran sudah tidak kuat lagi menahan beban.

”Mungkin maksud pemerintah baik, menata dan memberikan tempat kepada kami. Tapi kalau tempat yang diberikan tidak layak, kan sama saja mematikan ekonomi pedagang,” keluhnya.

Ketua Paguyuban Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Pasar Karimata, Ngatman, mengatakan, para pedagang lama tidak keberatan apabila ada PKL Kartini dipindah ke lantai II Pasar Karimata. Sebab, itu sudah menjadi program pemerintah. ”Pedagang sini tidak keberatan. Justru nantinya tempat ini menjadi ramai, karena akan terpusat menjadi satu,” katanya.

Menanggapi masih banyaknya pedagang yang berjualan di pinggir Jalan Kartini, Kepala Dinas Pasar Kota Semarang Trijoto Sardjoko mengatakan, pedagang memang lebih suka mencegat pembeli. Sehingga mereka keberatan direlokasi ke Pasar Karimata, lantaran Jalan Kartini dinilai lebih mudah diakses pembeli.

”Keinginan pedagang seperti itu. Mereka juga memilih tempat di bantaran sungai depan Pasar Karimata. Tapi, itu tidak bisa. Padahal lantai II Pasar Karimata sudah saya fasilitasi listrik dan air. Nantinya kami juga membuatkan tangga di depan supaya bisa langsung masuk ke lantai II. Sedangkan atap yang jebol, nanti akan kami perbaiki jika mereka setuju dipindah,” katanya.

Terpisah, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi bersikukuh memindahkan PKL Jalan Kartini ke lantai II Pasar Karimata. Keputusan tersebut sudah menjadi kebijakan mutlak pemkot setelah menggelar rapat koordinasi antar SKPD (satuan kerja perangkat daerah) terkait.

Menurut Hendi, sapaan akrab wali kota, tempat relokasi yang ditunjuk itu sudah representatif. Sebagai konsekuensinya, pemkot akan melengkapi sejumlah fasilitas dan sarpras (sarana dan prasarana) yang dibutuhkan pedagang.

”Keputusannya relokasi tetap di lantai II (Pasar Karimata), jadi semua keluhan pedagang seperti suhu panas, akses tangga yang sempit, serta apa pun itu akan segera dilengkapi Dinas Pasar,” tegas wali kota kepada Radar Semarang, kemarin (19/11).

Wali kota meminta Dinas Pasar segera melakukan pembenahan, utamanya akses masuk ke lantai II yang lebih representatif. Untuk masalah udara panas di tempat relokasi, dinas diminta membuka dan menambah ventilasi. ”Kalau perlu ada subsidi dari kami untuk kipas angin di atap. Jadi kesimpulannya tetap begitu,” tandasnya.

Menurut Hendi, keberadaan PKL yang menempati median Jalan Kartini sangat mengganggu lalu lintas, estetika dan kenyamanan warga sekitar. Sehingga wali kota berharap pedagang bisa menyadari kondisi lingkungan sekitar. ”Masyarakat yang ada di sekitar PKL Kartini juga warga Semarang, mereka mengeluh tidak bisa beraktivitas dengan lancar karena banyaknya PKL yang tidak mau ditertibkan,” ujarnya.

Diketahui, sebagian pedagang yang sebelumnya juga menempati median Jalan Kartini sudah mau pindah ke Pasar Dargo, sedangkan yang ngotot adalah pedagang pakan burung. Mereka enggan pindah di lantai II Pasar Karimata karena takut tidak laku dan kalah bersaing dengan lantai I yang kebanyakan adalah pedagang grosir.

”Sebagian sudah pindah ke Pasar Dargo, mestinya yang lain bisa memahami. Bahwa di Kota Semarang ini yang hidup tidak hanya PKL, tapi semua bermacam warga dengan jenis pekerjaan yang begitu kompleks tinggal di sini. Harusnya bisa menciptakan situasi yang baik di Semarang,” tandasnya.

Menurut wali kota, lantai II Pasar Karimata merupakan tempat relokasi yang paling representatif. Sementara titik relokasi yang diinginkan pedagang, yakni di sepanjang bantaran sungai dekat bangunan Pasar Karimata tidak memungkinkan untuk ditempati PKL.

”Tempat yang mereka minta, di bantaran sungai dekat dengan bangunan pasar burung itu melanggar. Wong kapal (replika) Cheng Ho yang besar saja kita bongkar, masak ini diperbolehkan. Saya tidak mau mengambil kebijakan yang keliru dengan memindahkan pedagang di dekat saluran,” tegasnya. (mg9/zal/aro/ce1)