Ribuan Penumpang Angkutan Telantar

408
DIANGKUT MOBIL POLISI: Penumpang yang telantar karena aksi mogok masal awak angkutan akhirnya diangkut sejumlah mobil polisi dan TNI. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
DIANGKUT MOBIL POLISI: Penumpang yang telantar karena aksi mogok masal awak angkutan akhirnya diangkut sejumlah mobil polisi dan TNI. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
DIANGKUT MOBIL POLISI: Penumpang yang telantar karena aksi mogok masal awak angkutan akhirnya diangkut sejumlah mobil polisi dan TNI. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

UNGARAN – Aksi mogok beroperasi ribuan angkutan, Rabu (19/11) kemarin benar-benar dilakukan ribuan awak angkutan di Kabupaten Semarang. Akibatnya, ribuan penumpang angkutan yang kebanyakan pelajar dan pekerja pabrik telantar di tempat-tempat pemberhentian angkutan umum.

Sementara itu para awak angkutan memarkirkan angkutannya di pool, terminal dan tempat-tempat pemberhentian angkutan. Bahkan para awak angkutan yang mogok beroperasi mencegat angkutan-angkutan yang masih beroperasi dan menurunkan paksa penumpangnya.
Menyikapi aksi mogok operasi angkutan umum, Pemerintah Kabupaten Semarang bersama Polres Semarang dan TNI langsung mengerahkan sejumlah armada angkutannya untuk mengangkut para penumpang yang telantar. Para penumpang yang telantar itu pun harus rela berdesak-desakan di dalam bak mobil milik TNI, Polri dan Satpol PP.

Salah seorang penumpang angkutan, Slamet, 35, warga Tuntang mengatakan, dirinya dan beberapa orang penumpang angkutan sudah menunggu angkutan sejak pukul 06.00 di pertigaan Tuntang. Tetapi tidak ada satu pun angkutan yang lewat. ”Kami tidak tahu ada aksi mogok masal, jadi berangkat seperti biasa. Ternyata tidak ada angkutan,” kata Slamet.

Sejumlah pelajar juga telantar sehingga harus terlambat masuk sekolah. Banyak para pelajar yang terpaksa menggunakan jasa ojek dan meminta orang tuanya mengantar ke sekolah. Terutama para pelajar yang tidak terangkut oleh mobil angkutan yang disediakan pemerintah. ”Sejak pagi tidak ada angkutan. Pada nunggu lama akhirnya ada yang naik ojek dan diantar orang tuanya,” kata siswa kelas 6, SD Pangudi Luhur, Ambarawa, Bintang Pratama.

Kendati banyak yang melakukan aksi mogok, namun masih ada awak angkutan kota di Ungaran yang masih mengangkut penumpang. Alasannya, tidak tega melihat anak-anak sekolah yang telantar. Bahkan siang hari ketika jam pulang sekolah angkutan kota beroperasi kembali.

”Kita tetap mendukung, tetapi tetap narik. Kasihan mereka terutama anak saya juga sekolah. Tapi habis itu tetap mogok,” kata sopir angkutan kota jurusan Ungaran-Unnes Nuryanto, 40.

Menurut Ketua Sekar Ungu-Paguyuban angkot jurusan Ungaran-Unnes, Sujono, 43, masih adanya angkutan yang masih beroperasi karena miss-komunikasi. Pasalnya, instruksi mogok operasional baru diterimanya, Selasa (18/11) malam dalam rapat koordinasi Organda di Rawapermai. ”Sebagian teman yang masih narik karena tidak tahu ada intruksi itu, karena sulit dihubungi,” imbuh, Sujono.

Ketua DPC Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Semarang, Hadi Mustofa mengatakan, aksi mogok masal awak angkutan ini sudah menjadi instruksi dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) Organda. Rencananya, aksi mogok masal akan berlangsung selama sehari sembari menunggu hasil kesepakatan kenaikan tarif yang dibahas di Kantor Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Semarang.

”Kita masih akan membahas tentang kenaikan tarif angkutan. Dalam rapat dengan dishub pagi ini kita tetap usulkan kenaikan tarif 30 persen dari sebelumnya. Mudah-mudahan masyarakat mau menerima kenaikan tarif tersebut. Jika naiknya 30 persen saya rasa tidak berat, karena hanya naik sekitar Rp 1.000 dari tarif sebelumnya,” tutur Hadi.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang, Dewi Pramuningsih mengatakan, dari pantauan di lapangan memang banyak pelajar yang telantar, sehingga terlambat sampai di sekolah. Pihaknya memaklumi adanya keterlambatan pelajar tersebut.

”Kita memaklumi kalau ada siswa yang terlambat karena adanya mogok angkutan. Karena tidak terjadi setiap hari, sehingga sekolah memaklumi,” tutur Dewi.

Kondisi serupa juga terjadi di Kota Salatiga, ribuan calon penumpang pun telantar. Husna, mahasiswa STAIN menyayangkan aksi mogok tersebut. Pasalnya, gara-gara tidak ada angkutan umum, dirinya harus berjalan kaki dari Kembang Arum ke kampusnya di dekat alun–alun. ”Wah susah kalau begini. Apalagi saya tidak punya kendaraan pribadi, jadi harus jalan kaki,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan Afifah penumpang yang sehari-hari kerja di pabrik tekstil di Ungaran. Dirinya mengaku jadi terlambat datang ke tempat kerja, ”Dari Salatiga ke Ungaran kan agak jauh, jadi kalau naik motor sendiri agak takut. Kalau angkutan umum mogok, kita jadi repot,” katanya.

Aksi mogok masal ribuan awak angkutan di Kabupaten Semarang, Rabu (19/11) kemarin, merugikan sejumlah perusahaan. Sebab, di Kabupaten Semarang ada ratusan pabrik yang ribuan karyawannya kebanyakan menggunakan jasa angkutan umum. Akibatnya, banyak karyawan yang telantar dan terlambat masuk kerja.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Semarang, Ari Prabono mengatakan, banyaknya karyawan yang terlambat masuk kerja menyebabkan jadwal produksi dan target produksi terganggu. Sebab, proses produksi molor dari jadwal yang ditentukan, karena banyak karyawan yang terlambat datang.

”Adanya aksi mogok masal angkutan umum menyebabkan, kacaunya proses produksi di sejumlah pabrik di Kabupaten Semarang. Jadwal produksi dan target penyelesaian produk akhirnya molor dari waktu yang ditentukan,” tutur Ari Prabono yang akrab disapa Kecuk ini.

Menurut Kecuk, tidak hadirnya tiga karyawan saja cukup mengganggu proses produksi. Sebab satu line produksi garmen dibutuhkan kelengkapan karyawan. Jadi, jika masih ada tiga hingga empat karyawan dalam satu line garmen akan mengganggu proses produksi, karena satu dan lainnya berkaitan. Jadi, aksi mogok masal tersebut menurut Kecuk sangat menghambat produksi.

”Yang jelas jadwal produksi molor, akibat banyak karyawan datang terlambat. Tentu berkaitan dengan buyer, karena target penyelesaian produksi molor. Tentu banyak perusahaan dirugikan. Kalau dihitung nominal belum bisa, karena kami belum menghitung,” ujar Kecuk.

Kapolres Semarang AKBP Muslimin Ahmad meminta agar aksi mogok para awak angkutan tidak terlalu lama. Sebab, akan merugikan masyarakat, terutama para pelajar dan pekerja yang akhirnya telantar. ”Kita upayakan agar tidak melakukan mogok lagi. Kasihan para pelajar dan pekerja jadi terlambat masuk kerja,” tutur Kapolres.

Maksimal 18 Persen
Terpisah, Pemkot Semarang memutuskan kenaikan tarif penumpang angkutan umum sebagai penyesuaian atas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), maksimal sebesar 18 persen. Pengawasan dan penindakan terhadap pengusaha dan awak angkutan yang melanggar akan dilakukan.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, pihaknya telah meminta Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) dan Organda mengadakan rapat koordinasi. Hasilnya, disepakati tarif angkutan umum di Kota Semarang naik 10-18 persen, karena penyesuaian naiknya BBM. ”Baik itu angkot maupun taksi, kecuali BRT kita pertahankan, tidak ada kenaikan tarif,” kata wali kota, kemarin (19/11).

Kepala Dishubkominfo Kota Semarang Agus Harmunanto mengatakan, berdasarkan kesepakatan bersama, tarif angkutan umum Daihatsu (kapasitas 12 penumpang), bus ¾, dan taksi rata-rata naik antara 10-18 persen. Kenaikan ini diakui lebih tinggi dari imbauan pemerintah pusat yang meminta kenaikan tarif angkutan umum maksimal 10 persen. ”Kita memang tidak bisa memaksakan, karena itu berdasarkan pertimbangan supaya daya beli masyarakat tetap menjangkau, tapi juga tidak memberatkan atau merugikan operasional pihak pengusaha angkutan,” ujarnya.

Dia mengatakan, kesepakatan kenaikan tersebut diputuskan bersama dalam rapat koordinasi. Rapat koordinasi telah diikuti oleh Organda, perwakilan usaha angkutan, dan Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K). Pengusaha angkutan juga sadar bahwa jika menaikan tarif terlalu tinggi, maka angkutannya akan ditinggal oleh masyarakat.

Untuk sosialisasi kenaikan tarif, pengusaha sudah langsung melakukan pemberitahuan kepada kru atau awak angkutannya. Pihaknya juga akan melakukan sosialisasi ke masyarakat dengan menempel kertas pengumuman tarif baru di setiap angkutan umum. ”Yang perlu diketahui, saat ini kalau tarif terlalu tinggi, angkutan juga akan ditinggal dengan sendirinya oleh penumpang, jadi pengusaha pasti juga akan meminta kepada kru angkutannya untuk menekan adanya pelanggaran,” tegasnya.

Ketua Organda Kota Semarang Wasi Darono megatakan, pihaknya memang telah menyepakati persentase kenaikan tarif tersebut. Tarif angkutan umum Daihatsu untuk batas bawah dari Rp 2.500 menjadi Rp 3.000. Sedangkan batas tertinggi maksimal Rp 6.000. Tarif angkutan umum bus ¾ untuk batas bawah dari Rp 2.500 menjadi Rp 3.000, tertinggi maksimal Rp 6.500. ”Itu untuk tarif dasar (Daihatsu 0-8 kilometer, bus ¾ 0-12 kilometer, Red), sementara tambahan per kilometernya dari Rp 125 menjadi Rp 160 untuk Daihatsu, dan dari Rp 150 menjadi Rp 180 untuk bus ¾,” terangnya.

Sedangkan tarif angkutan umum taksi, tarif buka pintu batas bawah menjadi Rp 5.500 dan batas atas menjadi Rp 7.000. Sedangkan pulsa tarif batas bawah menjadi Rp 350/km dan tertinggi menjadi Rp 475/km. Besaran kenaikan tarif tersebut telah diusulkan ke wali kota dan mulai efektif berlaku kemarin. (tyo/mg14/sas/zal/aro/ce1)