Harga Rumah Stok Tak Naik

256

SEMARANG – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi serta kenaikan BI Rate yang semula 7,5 persen menjadi 7,75 persen memengaruhi harga rumah. Namun demikian, hanya rumah baru yang dipastikan akan naik.

Ketua DPD REI Jateng MR Priyanto mengatakan, kenaikan BBM bersubsidi mendongkrak kenaikan harga material bangunan rumah, yang pastinya berdampak pada kenaikan harga jual rumah. Demikian halnya dengan kenaikan BI Rate yang berpengaruh terhadap kenaikan bunga kredit.

“Dengan dua hal tersebut, harga rumah mau tidak mau harus naik. Kenaikan bisa sampai diatas 10 persen, meskipun dari Menteri Perumahan Rakyat mematok kenaikan tidak lebih dari 8 persen,” ujarnya, kemarin.

Namun demikian, ucapnya, kalangan pengembang DPD REI Jateng hanya akan menaikan harga rumah baru, atau untuk pembelian setelah harga BBM bersubsidi naik. Sedangkan untuk rumah yang siap huni atau sudah jadi, belum akan diberlakukan kenaikan. “Untuk rumah stok masih menggunakan harga lama, tetapi jika rumah itu baru akan dibangun maka akan terkena dampak kenaikan,” jelasnya.

Ia berharap pemerintah dapat memberikan sejumlah kemudahan, sehingga pihaknya dapat menekan harga jual. Diantaranya dengan mengalihkan subsidi BBM untuk meningkatkan infrastruktur, serta memangkas perijinan yang selama ini cenderung sulit dan mahal. REI juga berharap pemerintah mempermudah pengadaan lahan, dengan membentuk Badan Layanan Umum (BLU) di masing-masing daerah.

Memang, lanjutnya, sebetulnya dari spesifikasi bisa turunkan, seperti mengurangi plafon dan lainnya. Namun REI meminta pengembang tidak melakukannya.

Wakil Ketua REI Bidang Perbankan, Pembiayaan dan Pasar modal Wibowo Tedjosukmono menambahkan, dengan adanya kenaikan harga rumah maka akan sangat berpengaruh terhadap penjualan rumah. “Sangat berpengaruh, terutama untuk penjualan rumah-rumah tipe kecil. Namun untuk rumah mewah saya rasa sudah punya segmentasi sendiri, jadi tidak akan pengaruh banyak,” tegasnya. (dna/smu)