Gantung Ganjar di Gerbang Gubernuran

507
TUNTUT REVISI UMK: Ratusan buruh memprotes penetapan UMK oleh Gubenur Jateng, Ganjar Pranowo. Mereka melakukan aksi teatrikal dan menggantung topeng Gubernur Ganjar di pintu gerbang kantor Gubernuran. (Adityo Dwi/RADAR SEMARANG)
 TUNTUT REVISI UMK: Ratusan buruh memprotes penetapan UMK oleh Gubenur Jateng, Ganjar Pranowo. Mereka melakukan aksi teatrikal dan menggantung topeng Gubernur Ganjar di pintu gerbang kantor Gubernuran. (Adityo Dwi/RADAR SEMARANG)

TUNTUT REVISI UMK: Ratusan buruh memprotes penetapan UMK oleh Gubenur Jateng, Ganjar Pranowo. Mereka melakukan aksi teatrikal dan menggantung topeng Gubernur Ganjar di pintu gerbang kantor Gubernuran. (Adityo Dwi/RADAR SEMARANG)

GUBERNURAN – Tuntut Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo merevisi UMK 2015 yang sudah telanjur ditetapkan, ratusan buruh yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Buruh Berjuang (Gerbang) menggeruduk kantor Gubernuan Jawa Tengah, Jumat (21/11). Buruh menilai, nominal UMK masih terlalu kecil dan jauh dari kesejahteraan rakyat. Apalagi ada kebijakan pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Dalam aksinya itu, para buruh mengibaratkan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sebagai sosok banci. Karena itulah, para demonstran melakukan aksi teatrikal dengan membawa topeng bergambar Ganjar lengkap menggunakan pakaian perempuan. ”Itu sebagai simbol, jika Ganjar seorang banci yang tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Ganjar lebay dan hanya banyak omong, tanpa aksi,” kata koordiantor aksi, Nanang Setyono.

Lantas, buruh yang lengkap dengan gambar Ganjar itu, kemudian dikeroyok dan digantung di Gerbang Gubernuran. ”Revisi nominal UMK, revisi nominal UMK. Ganjar jangan ndobol,” teriak massa buruh.

Buruh kecewa dengan nominal UMK 2015 di Jateng yang sudah ditetapkan. Meski nominal sudah ditambah 2 persen, tapi dari 35 kabupaten/kota, hanya dua daerah yang UMK-nya layak dan sesuai dengan KHL di lapangan. Buruh mengaku kecewa, karena Ganjar tidak pernah mendengarkan jeritan kaum buruh. ”Ganjar sering bilang rembukan, tapi kenyataannya kami tidak pernah dilibatkan,” kata Nanang.

Nanang menegaskan bahwa buruh akan terus melakukan aksi menuntut agar UMK direvisi. Bukan tanpa alasan, rata-rata UMK di Jateng nominalnya lebih kecil dibandingkan Jawa Timur dan Jawa Barat. Di Surabaya saja, UMK yang ditetapkan sudah mencapai Rp 2,7 juta. ”Nilai UMK di Jawa Tengah selalu terendah di tingkat nasional. Karena survei KHL yang digunakan hanya sampai Juli-September,” imbuhnya.

Buruh menilai janji Gubernur Ganjar yang akan memfasilitasi buruh dan pengusaha pun tidak terealisasi. Pemprov Jateng dinilai lepas tangan dan hanya mengambil keputusan tanpa risiko. Bahkan janji menaikkan 2 persen dari UMK, masih belum direalisasikan. Tidak semua kabupaten/kota mengalami kenaikan tersebut. ”Pemprov Jateng hanya mementingkan pengusaha dan sengaja membunuh kaum buruh. Ini sangat ironis,” tambahnya.

Gerbang menuntut agar Ganjar membatalkan SK UMK 2015 dan mengganti dengan kebijakan yang rasional dan menyejahterakan buruh. Buruh juga berharap, DPRD Jateng menggunakan haknya untuk membela kaum buruh. Selama ini, buruh selalu dianaktirikan, dan tidak pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah. ”Ini bukan masalah puas atau tidak puas, tapi ini masalah wajib atau abainya Gubernur Jateng terhadap persoalan sosial dan hak kaum buruh,” tambahnya.

Nanang menengarai, Gubernur Ganjar bakal mengabaikan keinginan kaum buruh. Ia menilai, kejadian buruh terus terjadi hampir tiap tahun. Bahkan, ia mengklaim sebelum dilakukan revisi, buruh selalu berbeda pendapat terkait dengan angka UMK di Jateng. ”Selama dalam sejarah, selalu ada kejadian seperti ini. Dan selalu ada beda pendapat, termasuk ketika saya mengumpulkan buruh,” katanya.

Sementara itu, Ganjar mengaku sejak awal survei penetapan UMK selalu ada penolakan dari kaum buruh. Ia berharap ada formulasi yang satu dan cocok, agar bisa terjadi kesepakatan. Formula ini dibutuhkan kepala dingin dan tidak ada gontok-gontokan.

”Kalian boleh percaya atau tidak, sejumlah buruh di daerah Pekalongan, Karanganyar, SMS dan bilang terima kasih. Mereka bilang belum optimal, tapi UMK sudah dinaikkan,” tambahnya. (fth/ida/ce1)