Perluasan TPA Terkendala Lahan

425
OVER KAPASITAS: TPA Blondo, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang itu diperkirakan dalam waktu 2 tahun lagi akan penuh. Sehingga Pemkab. Semarang akan melakukan perluasan lahan. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
 OVER KAPASITAS: TPA Blondo, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang itu diperkirakan dalam waktu 2 tahun lagi akan penuh. Sehingga Pemkab. Semarang akan melakukan perluasan lahan. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

OVER KAPASITAS: TPA Blondo, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang itu diperkirakan dalam waktu 2 tahun lagi akan penuh. Sehingga Pemkab. Semarang akan melakukan perluasan lahan. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

BAWEN- Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Blondo, di Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang diperkirakan dalam dua tahun lagi akan penuh. Sehingga Pemerintah Kabupaten Semarang berupaya melakukan perluasan lahan sekitar 5 hektar. Namun perluasan lahan untuk mengolah sampah tersebut terkendala lahan. Sebab tinggal seorang pemilik lahan saja yang belum mau melepas lahannya untuk perluasan TPA.

Menurut Kepala DPU Kabupaten Semarang, Totit Oktorianto mengatakan, lahan TPA yang sudah ada saat ini sudah semakin sempit. Bahkan diperkirakan dalam dua tahun ke depan jika tidak diperluas maka TPA Blondo over load. Sehingga Pemerintah Kabupaten Semarang melakukan perluasan lahan untuk TPA. “Rencana perluasan sekitar 5 hektar, hampir seluruhnya sudah dibebaskan. Tinggal satu bidang saja yang belum bebas. Padahal kita sudah melakukan pendekatan terhadap pemiliknya, Pak Rastam,” kata Totit, Jumat (21/11) kemarin.

Totit mengatakan, anggaran untuk membebaskan lahan sudah disiapkan. Bahkan lahan milik Rastam sudah dihitung tim appraisal, namun pemilik tetap tidak mau melepaskan tanahnya. Totit menambahkan sekalipun ada mekanisme konsinyasi yakni menitipkan uang pengganti di Pengadilan Negeri, tetapi Pemerintah Kabupaten Semarang belum mengarah ke langkah tersebut. Pemerintah lebih mengedepankan musyawarah kepada pemilik lahan. “Sebenarnya hasil penghitungan tim appraisal sudah turun untuk satu bidang tanah itu sebesar sekitar Rp 160 juta lebih. Tapi pemilik tetap belum mau melepasnya,” imbuhnya.

Totit menambahkan, penanganan sampah di TPA Blondo sebenarnya masih belum ideal. Sebab penanganan sampah wajib menganut sanitary landfill. Semestinya sampah harus diurug tanah setiap 100 sentimeter agar gas metan tidak naik ke permukaan. Tetapi penanganan sampah Blondo, pengurugan dilakukan per 50 sentimeter. “Untuk pengurugan tanah sudah kita lakukan tetapi tidak maksimal, karena kita kesulitan mendatangkan tanah untuk urugan,” imbuhnya.

Ditambahkan Kabid Kebersihan, Taman dan LPJU, DPU Kabupaten Semarang, Pranoto, saat sudah dilakukan terobosan upaya pengurangan penumpukan sampah di TPA. Yakni dengan mengerahkan pemulung untuk memilah sampah organik dan unorganik. Selain itu mengolah sampah menjadi pupuk organik. Namun upaya membuat pupuk organis kesulitan melakukan pemasaran, sehingga upaya tersebut masih sulit dilakukan. (tyo/zal)