RSUD Ketileng Ragukan Target 60 Persen

295

SEMARANG – Target pencapaian 60 persen pembangunan gedung paru dan jantung Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ketileng oleh PT Ghories hingga Desember mendatang, diragukan pihak RSUD Ketileng. Bahkan, Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) menilai, pencapaian proyek hanya berkisar 40 persen.

”Memang pelaksana proyek menjanjikan target 60 persen bakal selesai pada 10 Desember 2014 nanti. Namun saya menilai, target itu tidak mungkin tercapai. Paling banter, bisa tercapai berkisar 35-40 persen,” dr Sarwoko, selaku PPKom dari RSUD Ketileng kepada Radar Semarang, Jumat, (21/11) kemarin.

Keraguan itu cukup beralasan. Dr Sarwoko melihat dari segi mepetnya waktu serta belum siapnya pelaksana proyek dalam mendatangkan material. Bahkan pelaksana proyek terkesan lamban dalam menyelesaikan pekerjaan.

”Saya sudah sering merapatkan hal ini sejak awal. Yakni, pelaksana proyek harus menambah pekerja, menambah waktu kerja dengan 3 shift atau harus 24 jam, supaya pembangunan bisa selesai sesuai target. Namun kenyataannya, pelaksana proyek tak merealisasikan masukan tersebut. Bahkan material yang disediakan saja, seperti pasir kerap terlambat,” terangnya.

Ironisnya lagi, kata dr Sarwoko, dengan waktu yang tersisa 22 hari ini, akan dilakukan pembetonan pada lantai dua secara manual. ”Alasan dari pelaksana proyek, lantaran belum mendapatkan redimix. Mereka menjanjikan akan melakukan pembetonan menggunakan alat molen kecil dengan menambah 4 alat. Sementara yang ada, baru satu alat. Pelaksana juga berjanji akan menambah sebanyak 100 pekerja untuk mengerjakan pembetonan,” paparnya.

Meski demikian, pihaknya terus mendesak kepada pelakasana proyek supaya secepatnya menyelesaikan pekerjaan tersebut. Menurutnya, ini sudah tanggung jawab pekerjaan yang termaktub dalam perjanjian. ”Harus dikerjakan dan diselesaikan. Tidak ada alasan lagi. Sudah tanggung jawab pelaksana proyek. Bagaimanapun caranya,” tegasnya.

Penagawas pekerjaan dari PT Ediyasa, Ir Sumardi juga berpendapat sama. Pencapaian target dimungkinkan tidak mencapai 60 persen. Pasalnya, kendala material sampai sekarang terus berlanjut. ”Harusnya pelaksana memesan pasir jauh-jauh hari sebelumnya. Kalau pesannya sekarang sulit. Pemesanan material itu pun harus pakai deposit,” ujarnya.

Pihaknya memperkirakan, pencapaian target hanya berkisar 35-40 persen. Sebab, dalam kondisi seperti ini, pihaknya memperkirakan setiap harinya hanya mampu menambah 3 persen dalam pengerjaan.

”Kalau kondisi seperti ini, paling hanya mampu menambah 10 persen dari sisa waktu hingga 10 Desember. Meskipun dikebut dengan menambah pekerja, kalau material belum ada, sama saja tidak bisa mengerjakan,” tuturnya.

Pihaknya menyayangkan langkah kerja pelaksana proyek. Bahkan dari beberapa pertemuan evaluasi, pengawas sudah melakukan teguran hingga 6 kali. ”Mulai dari awal, kami selalu mendorong. Bahkan kurang lebih 11 kali pertemuan untuk evaluasi, saya sampai menegur pelaksana proyek sampai 6 kali. Mudah-mudahan pelaksana proyek bisa secepatnya membuat perencanaan supaya pekerjaan bisa rampung,” harapnya.

Sementara itu, Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang, HM Rukiyanto menyayangkan pihak PT Ghories yang hanya menyelesaikan pekerjaan dengan batas kemampuan 60 persen. Sebab, dalam perjanjian pihak pelaksana harus menyelesaikan pekerjaan 100 persen. ”Ya saya tidak setuju kalau hanya dikerjakan 60 persen. Sebelumnya ada perjanjian sanggup menyelesaikan 100 persen,” tegasnya.

Meski demikian, pihaknya terus mendorong supaya pembangunan terus dikerjakan dan diselesaikan paling tidak pada bangunan yang paling rawan korupsi. ”Paling tidak lantai dasar gedung dan atap gedung harus selesai. Ini untuk menghindari korupsi,” pungkasnya. (mg9/ida/ce1)