Jangan Sampai Ada Sanksi Lagi

465
HARUS EKSIS: Sebagai klub sepakbola dengan penggemar fanatic serta basis massa yang besar, sangat disayangkan apabila PSIS dibinasakan dan keluar dari persaingan sepak bola Indonesia. (BASKORO S/RADAR SEMARANG)
 HARUS EKSIS: Sebagai klub sepakbola dengan penggemar fanatic serta basis massa yang besar, sangat disayangkan apabila PSIS dibinasakan dan keluar dari persaingan sepak bola Indonesia. (BASKORO S/RADAR SEMARANG)

HARUS EKSIS: Sebagai klub sepakbola dengan penggemar fanatic serta basis massa yang besar, sangat disayangkan apabila PSIS dibinasakan dan keluar dari persaingan sepak bola Indonesia. (BASKORO S/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Sanksi diskualifikasi tim PSIS dari kompetisi serta sanksi personal kepada pemain, pelatih dan skuad lain terkait sepakbola gajah PSS versus PSIS lalu dirasa sudah cukup memberatkan bagi PSIS. Komisi Disiplin (Komdis) PSSI diharapkan tidak kembali menjatuhkan sanksi terutama ancama sanksi terberat yaitu degradasi.

Namun manajemen PSIS diminta tidak hanya menunggu. Yoyok Sukawi dkk harus bergerak melakukan lobi-lobi dan menerangkan sejelas-jelasnya perihal sepakbola aneh tersebut. “PSIS harus segera lobi ke PSSI agar sanksi dapat diringankan dan tidak terdegradasi ke Piala Nusantara. Kalau sampai terjadi, tentunya akan semakin memberatkan PSIS,” kata
pelatih senior asal Semarang Sartono Anwar.

Tak hanya berhenti disitu, Sartono juga berharap tim Mahesa Jenar tidak larut dalam sanksi. Mereka harus segera bangkit untuk mempersipakan diri menghadapi musim depan. Ini sebagai bentuk keseriusan manajemen untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan. “Jangan salah pilih pelatih, jangan salah pilih pemain. Musim depan, PSIS harus lebih baik dibandingkan saat ini. Kesalahan yang sama, jangan sampai terulang kembali pada musim-musim selanjutnya,” tegas Sartono.

Lebih lanjut Sartono juga mengatakan, PSSI justru belum mengungkap mafia sebenarnya. Menurutnya, orang kuat dib elakang Borneo FC yang membuat tim-tim enggan berjumpa, juga harus diusut. Dalam diskusi itu, nama Vigit Waluyo pun sempat menjadi perbincangan. “Sebenarnya, semua pelaku sepak bola di Indonesia sudah tahu siapa mafianya. Tinggal PSSI sebagai induk sepak bola Indonesia berani mengungkapnya atau tidak,” bebernya. (bas/smu)