Ruwatan 728 Orang Pecahkan Rekor

897
TRADISI : Sukerto atau peserta ruwat menjalani prosesi siraman dalam ruwatan massal di Pendopo Notobratan, Kelurahan Kadilangu, Kecamatan Demak Kota, kemarin. (Wahib pribadi/radar semarang)
 TRADISI : Sukerto atau peserta ruwat menjalani prosesi siraman dalam ruwatan massal di Pendopo Notobratan, Kelurahan Kadilangu, Kecamatan Demak Kota, kemarin. (Wahib pribadi/radar semarang)

TRADISI : Sukerto atau peserta ruwat menjalani prosesi siraman dalam ruwatan massal di Pendopo Notobratan, Kelurahan Kadilangu, Kecamatan Demak Kota, kemarin. (Wahib pribadi/radar semarang)

DEMAK – Ruwatan Sukerto di Pendopo Notobratan Kelurahan Kadilangu, Kecamatan Demak Kota, kemarin berhasil memecahkan rekornya sendiri. Ini dilihat dari jumlah peserta ruwatan yang mampu menembus angka 728 orang dari 419 kepala keluarga (KK).

Dengan rincian, dari kelompok waris ada 268 sukerto, ontang anting 72, uger-uger lawang 31, kembang sepasang 19, kedono kedini 62, tali wangke 38, sendang kapit pancuran 27, pancuran kapit sendang 16, srimpi 4, pendowo limo 1, Seloso Kliwon 15 dan sarono ada 171. Para sukerto tersebut berasal dari berbagai daerah di nusantara. Yaitu, dari Demak tercatat ada 173 KK, Pati 77, Kudus 55, Purwodadi 42, Blora 11, Semarang 13, Jatim 3, Rembang 8, Jakarta 2, Solo 1, Wonogiri 2, Kendal 1, Madura 1, dan dari Bogor 2.

Ketua panitia Ruwatan, Suwadi mengungkapkan, dari ruwatan ini, sukerto tertua adalah Sudarto, usia 70 tahun dan termuda yaitu Azril Prasetyo umur 8 bulan. Keduanya dari Demak dengan jenis kelompok weton Seloso Kliwon. “Sukerto yang ikut ruwatan ini terbanyak dalam sejarah ruwatan yang kita gelar. Karena itu, kegiatan ini telah memecahkan rekornya sendiri. Sebelumnya jumlah sukerto hanya 650 an. Jadi, mereka sangat antusias untuk menjalani prosesi ruwatan yang telah menjadi tradisi bertahun-tahun ini,” terang Suwadi.

Menurutnya, di lihat dari latar belakang peserta itu, mereka berasal dari berbagai kalangan. Mulai pejabat hingga rakyat biasa atau petani. Pengetahuan mereka tentang ruwatan juga cukup sehingga telah mantap dalam memahami prosesi yang dilaksanakan secara bersama-sama. Dia mengatakan, ruwatan merupakan salah satu bentuk ikhtiar manusia untuk menggapai apa yang diinginkan atau di cita-citakan selama ini dikabulkan oleh Allah SWT. “Bentuk ikhtiar itu kan beraneka macam, termasuk melalui budaya ruwatan ini,” katanya.

Dalam ruwatan tersebut, sukerto datang dari lintas agama, suku, ras serta dari berbagai negara. Pernah ada yang berasal dari Malaysia dan Singapura. “Kalau yang dari luar negeri biasanya keluarga mereka sudah tahu tentang ruwatan ini,” jelasnya.

Menurut Suwadi, prosesi ruwatan diawali dengan siweran dengan memasang tali dan menebar sarono lain yang melingkari tempat ruwatan. Kemudian, di gelar wayangan yang di pimpin Dalang Kondobawono asal Gabus, Pati, yaitu Ki Muharso. Setelah itu, sukerto menjalani prosesi sungkeman dengan orang tua maupun sesepuh Kadilangu. Baru kemudian, sukerto menjalani siraman satu persatu dan ditutup dengan pemotongan rambut, kuku serta tali lawe. “Dengan dipotongnya tali lawe ini maka menjadi simbol hilangnya sesuker atau aura buruk yang sebelumnya menempel di jiwa raga sukerto,” ujarnya. (hib/ric)