Buka Galeri hingga Pameran di Argentina

509
KREATIF: Corry Yani dan contoh produk tas kulitnya yang sudah tembus luar negeri. (NURUL PRATIDINA/RADAR SEMARANG)
 KREATIF: Corry Yani dan contoh produk tas kulitnya yang sudah tembus luar negeri. (NURUL PRATIDINA/RADAR SEMARANG)

KREATIF: Corry Yani dan contoh produk tas kulitnya yang sudah tembus luar negeri. (NURUL PRATIDINA/RADAR SEMARANG)

Jeli melihat peluang menjadi kunci dalam usaha. Seperti yang dilakukan Corry Yani dengan menekuni bisnis kerajinan tas kulit. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

SEJUMLAH tas kulit terlihat berjajar di salah satu stan UMKM Centre. Sebagian besar modelnya klasik, namun dari yang simpel ini justru menarik perhatian. Bahkan kurang dari sejam, separo lebih tas yang dipajang tersebut ludes dibeli.
”Saat ini orang memang cenderung kembali menggemari model-model klasik,” kata Corry Yani, pemilik kerajinan tas kulit berlabel Corry Collection ini kepada Radar Semarang.

Perempuan asal Semarang ini memulai usaha kerajinan tas sekitar 4 tahun lalu. Namun demikian, sebelum beralih ke tas, Corry juga telah mencoba beberapa jenis usaha lain. Di antaranya, bisnis di bidang fashion.

Awalnya, ia sering berpindah-pindah tempat tinggal karena mengikuti dinas suami. Enggan berpangku tangan, perempuan berjilbab ini mulai merintis usaha.

”Sebelumnya saya bisnis baju, tapi karena hampir setiap tiga bulan modelnya berganti dan saya sudah tidak terlalu mengikuti, akhirnya usaha ini dipegang oleh anak saya,” ujar wanita yang tinggal di Jalan Tampomas Selatan 1 No 12
Semarang ini.

Corry lantas melirik usaha tas. Kali pertama ia bermain di bahan dengan corak batik dan kain nusantara. Hampir setahun lamanya. Namun saat tas jenis ini booming, Corry justru keluar dari segmen tersebut. ”Saat tas batik mulai booming, saya lebih memilih ke tas kulit,” katanya.

Jeli melihat peluang memang menjadi kunci dari usaha yang dijalani. Tas kulit dipilih dengan pertimbangan belum banyak yang menggarap segmen ini. Selain itu, risiko lebih kecil karena bahan yang dipilih lebih awet.

”Harganya memang lebih mahal, tapi lebih tahan lama. Sehingga jika produksi bulan ini ada yang belum laku terjual, masih bisa disimpan untuk edisi berikutnya tanpa perlu takut rusak. Jadi risiko ruginya minim,” ucapnya.

Namun demikian, harga bahan baku yang tinggi juga kerap kali menjadi tantangan. Ya, meski menyasar segmen kelas menengah ke atas, Corry harus memperhitungkah harga jual produknya agar bisa bersaing.

”Setahun ini saja, harga bahan kulit sudah naik tiga kali. Nah kalau mau naikin harga juga susah juga,” ujarnya.
Sedangkan untuk sistem pemasaran, ibu empat anak ini menggunakan berbagai metode. Mulai dari pemasaran langsung dengan membuka galeri di rumahnya, rajin ikut pameran, hingga melalui media online.

Pameran yang diikutinya pun tidak tanggung-tanggung, mulai dari Semarang, Jakarta, Bandung Ambon hingga Argentina. Untuk di luar negeri, Corry sengaja membawa desain etnik dengan berat yang lebih ringan.

”Kalau ke luar negeri modelnya saya padukan kulit dengan bahan rotan atau yang ringan-ringan lainnya. Selain selera mereka sukanya yang etnik, kita juga memperhitungkan berat, karena di pesawat ditimbang,” katanya.

Saat ini, Corry menarget per minggu bisa memproduksi setidaknya 15 buah tas. Terlebih jika akan mengikuti pameran. Sekali pameran setidaknya ia membawa 100-125 buah tas. Tas limited edition menjadi andalan dari produknya. ”Kita tidak produksi masal, paling setiap jenis hanya diproduksi 2 buah per warnanya,” ujar Corry.

Ke depan, Corry masih akan terus mengembangkan usaha ini, serta peluang-peluang usaha lainnya. “”Saya berharap usaha yang saya tekuni ini bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain sebanyak-banyaknya,” harapnya. (*/aro/ce1)