LP2K Cium Mandiri Tak Beres

329
FOTO: IST
FOTO: IST
FOTO: IST


”Jika ternyata hanya dicairkan oleh satu orang sementara tiga lainnya tidak mengetahuinya, maka memang ada yang tidak beres di dalamnya (Bank Mandiri, Red).”

Ngargono
Ketua LP2K Jateng

SEMARANG – Kasus dugaan pembobolan rekening nasabah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk di Jalan Pemuda No 73 Semarang senilai Rp 8 miliar menimbulkan polemik di kalangan masyarakat. Apalagi dana yang diduga raib itu merupakan warisan dari almarhumah Sri Rahayu yang dibagikan kepada 4 ahli waris, yakni Widiyanto Agung Widodo, Indah Kuswati, Teguh Santoso, dan Bogie Sri H.

Dalam kasus ini, sebagai terlapor adalah Direktur PT Semarang Makmur, Teguh Santoso (TS), 44, warga Jalan Teuku Umar No 105 A RT 2 RW 4 Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Semarang, yang tak lain adalah adik kandung pelapor, Widiyanto.

Ketua Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Jawa Tengah, Ngargono menilai, jika memang tabungan itu adalah hak dari empat ahli waris, maka sebagai nasabah keempatnya dapat dikategorikan sebagai konsumen. Karena itu, semuanya harus dilibatkan dalam pencairan.

”Jika ternyata hanya dicairkan oleh satu orang sementara tiga lainnya tidak mengetahuinya, maka memang ada yang tidak beres di dalamnya (Bank Mandiri, Red),” ujarnya kepada Radar Semarang.

Menurut Ngargono, hal ini merupakan kasus kesekian yang pernah ia temui. Karena itu, pihak bank, dalam hal ini Bank Mandiri, harus segera mengakhirinya dengan melakukan evaluasi, selain pengawasan kepada internal karyawan. Sehingga tingkat kepercayaan (trust) masyarakat terhadap bank tidak akan menurun.

”Selama ini persepsi mereka (para nasabah) sudah sangat buruk akibat sering terjadinya kasus yang sama. Dalam hal ini pihak perbankan harus proaktif membongkar dalam kasus tersebut,” paparnya.

Merujuk kepada Undang-Undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Ngargono menegaskan bahwa sebagai konsumen tiga dari empat ahli waris berhak mendapatkan keamanaan, kenyamanan, dan kepastian mendapat ganti rugi.

”Jika berdasarkan penelusuran terbukti adanya pembobolan, maka pihak bank wajib mengganti kerugian yang terjadi kepada nasabah sebagai sanksinya,” ungkapnya.

Disinggung pernyataan pihak bank yang tidak akan membuka kerahasiaan data nasabah penyimpan dan simpanannya, Ngargono menilai ada benarnya. Sebab, hal itu telah diatur dalam UU Perbankan dan peraturan pelaksanaan terkait lainnya.

”Meski begitu, sebagai konsekuensinya pihak bank wajib memberikan kepastian kepada masyarakat bahwa mereka tidak akan membocorkan data kepada siapa pun. Pasalnya, selama ini kasus tersebut masih terus terjadi,” katanya.

Terpisah, Kepala Regional IV Jateng-DIJ Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Y Santoso Wibowo mengungkapkan hasil pemeriksaannya terhadap Bank Mandiri terkait kasus pencarian harta waris yang masuk ke ranah kepolisian, tidak ditemukan adanya kesalahan prosedur.

”Sebenarnya kasus penarikan dana miliaran tersebut dilakukan sejak tahun 2001 hingga 2006. Pada saat itu, yang menarik salah satu anak dan ibunya langsung. Secara prosedur, penarikan dilakukan langsung oleh pemilik nasabah, yakni ibunya itu. Sedangkan ibunya baru meninggal pada tahun 2010. Sehingga tidak ada yang salah dalam penarikan tersebut,” kata Santoso ketika dimintai konfirmasi Radar Semarang, kemarin.

Menurutnya, saat dilakukan penarikan pada 2001-2006 situasinya normal-normal saja dan tidak ada komplain. ”Kami memastikan tidak ada pelanggaran yang dilakukan Bank Mandiri. Kalaupun muncul perseteruan, kan baru-baru ini,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus dugaan pembobolan rekening Bank Mandiri Rp 8 miliar ini dengan terlapor Direktur PT Semarang Makmur, Teguh Santoso (TS), 44, warga Jalan Teuku Umar No 105 A RT 2 RW 4 Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Semarang, yang tak lain adik kandung pelapor, Widiyanto.

Pihak Widiyanto melaporkan atas tindak pidana pencurian pasal 362 jo 367 (2) KUHP dengan kerugian Rp 8 miliar, yang sedianya menjadi hak empat ahli waris dari Sri Rahayu, masing-masing Widiyanto Agung Widodo, Indah Kuswati, Teguh Santoso, dan Bogie Sri H.

Uang tersebut diduga dicairkan oleh Teguh Santoso secara bertahap dalam kurun waktu 2000-2004 silam, tanpa mengetahui ahli waris yang lain. Barang bukti dua kasus yang berkaitan ini berada di rekening bernomor 135-00-1140118 milik almarhumah Sri Rahayu Binti Soemoharmanto, salah seorang nasabah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk di Jalan Pemuda No 73 Semarang. (fai/ida/aro/ce1)