Jalan Kendal-Semarang Macet Total

1095
 SEMRAWUT: Kemacetan panjang di Jalan Siliwangi, Jrakah, Semarang kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

SEMRAWUT: Kemacetan panjang di Jalan Siliwangi, Jrakah, Semarang kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

KALIBANTENG – Kemacetan jalan raya Kendal-Semarang semakin parah, Rabu (26/11) kemarin. Kali ini, kemacetan disebabkan adanya penyempitan Jalan Walisongo depan kampus I IAIN, dan Jalan Siliwangi depan Pasar Jrakah yang dibeton menjadi satu lajur. Akibatnya, laju kendaraan ke arah Semarang tersendat sejak dari Lingkar Arteri Kaliwungu, Kendal.

Pantauan Radar Semarang, kemacetan terjadi mulai Jalan Siliwangi Kalibanteng hingga pertigaan Jrakah. Sedangkan untuk arus sebaliknya, dimulai dari lingkar Kaliwungu Kendal hingga perempatan RM Ny Suharti Krapyak sejauh kurang lebih 15 km.

Aksi serobot yang dilakukan pengendara sepeda motor dan banyaknya kendaraan yang mogok di pinggir jalan membuat arus lalu lintas semakin semrawut. Beberapa jalan alternatif seperti via Pasar Mangkang ke arah Gondoriyo-Kedungpane–Ngaliyan pun terjadi kemacetan lantaran banyak kendaraan besar seperti bus yang melintasi jalur tersebut.

Jalur ’tikus’ lain melewati Karanganyar, Tambakaji, Ngaliyan pun mengalami ketersendatan. Kemacetan parah ini terjadi sejak Selasa (25/11) malam. Hal ini sempat dikeluhkan para sopir angkutan barang.

Priyo, 46, sopir truk pembawa sembako mengaku khawatir muatannya yang akan dikirim ke Madura akan rusak. ”Sejak Arteri Kaliwungu sudah macet, sudah 4 jam terjebak. Bahkan truk nyaris tidak jalan sama sekali,” keluhnya saat menunggu antrean panjang di depan Pasar Mangkang.

Suyono, 48, sopir truk asal Cirebon dengan tujuan Rembang mengaku sudah hampir 3 jam lebih terjebak kemacetan. Padahal dia membawa muatan sayur dan buah.

”Jangankan sampai tepat waktu mengirim barang bawaan. Keluar dari kemacetan pun sangat susah, apalagi tidak ada jalan alternatif. Saya khawatir muatan saya akan busuk di jalan,” keluhnya.

Menurutnya, kemacetan panjang juga membuat pengeluaran membeli solar lebih boros dibandingkan hari biasanya. ”BBM-nya tambah boros, karena jalannya macet begini. Apalagi harga BBM naik, semakin menambah pengeluaran kami,” katanya.

Nuraini, 36, sopir angkutan umum mengaku mengalami kerugian besar lantaran jalan macet. Sebab, dalam sehari, ia hanya bisa menarik dua kali (2 kali pulang pergi, Red). ”Biasanya bisa sampai 4 kali pulang pergi dalam sehari. Kalau macet begini, paling banyak cuma 2 kali. Itu pun penumpang sepi. Belum lagi solar yang makin boros karena macet,” keluh sopir bus kota jurusan Penggaron-Mangkang ini.

Menurutnya, sepinya penumpang lantaran lebih memilih naik kendaraan roda dua yang bisa melintas di jalan tikus dan menerobos kemacetan dibandingkan naik angkutan umum.

”Banyak yang naik motor. Jadinya, angkutan sepi. Mereka kan ingin cepet sampai tujuan, kalau naik bus kena macet. Selain itu, kalau nekat naik bus, biasanya lebih milih naik BRT karena ada pendinginnya,” ucapnya.

Kasatlantas Polrestabes Semarang AKBP Pungky Bhuana Santoso mengatakan, kemacetan terjadi bukan hanya disebabkan perbaikan jalan, tapi juga minimnya kesadaran pengendara untuk mematuhi peraturan lalu lintas dan mengantre.

Menurut dia, kemacetan yang terjadi kemarin, selain karena ada penyempitan lajur dan perbaikan Jalan Walisongo hingga pertigaan Pasar Jrakah, juga lantaran ada truk yang mengalami kerusakan hingga menyebabkan antrean yang cukup panjang.

”Kondisi jalan memang sangat berat, sehingga banyak truk yang mogok atau rusak, sehingga rawan terjadi kemacetan,” ujarnya.

Pihak Satlantas sendiri sudah mempersiapkan mobil derek untuk menyingkirkan truk yang mogok setiap harinya. Selain itu, Pungky juga mengaku telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Kota Semarang dan pihak kontraktor pembangunan jalan untuk mendesak percepatan betonisasi.

”Pihak kontraktor bersedia menambahkan sebuah cairan agar beton cepat keras. Sehingga cepat bisa dilewati kendaraan ketika umur beton menginjak 3 hari. Sistem buka tutup dan rambu-rambu tidak bisa kami lakukan lantaran perbaikan hanya bersifat sementara. Tapi kita selalu mengimbau kepada para sopir truk untuk tidak berjalan saat jam sibuk,” tandasnya.

Dikatakan, untuk mengurai kemacetan, Satlantas Polrestabes Semarang menurunkan 24 petugas selama 24 jam nonstop yang dibagi dalam beberapa shift, dibantu 6 petugas dari Polsek Ngaliyan, 6 petugas Polsek Tugu dan 8 petugas dari Polsek Semarang Barat.

”Petugas akan berjaga selama 24 jam untuk mengatur arus lalu lintas saat terjadi kemacetan ataupun tidak. Hal ini sengaja kami lakukan sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat,” katanya. (den/aro/ce1)