Riset selama 3 Bulan, Habiskan Rp 12 Juta

348
 INOVATIF: Ariyadi menunjukkan game Atlas War karyanya. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)

INOVATIF: Ariyadi menunjukkan game Atlas War karyanya. (ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG)


Untuk memudahkan anak-anak belajar sejarah, alumnus Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Ariyadi, membuat aplikasi game. Namanya Atlas War. Seperti apa?


ADENNYAR WYCAKSONO

SAAT kuliah di semester akhir, saat itu Ariyadi diwajibkan membuat sebuah project sebagai persyaratan kelulusan. Cowok 23 tahun yang tinggal di Jalan Kyai Tohir RT 3 RW 5 Pedurungan Lor, Semarang ini pun berpikir untuk membuat sebuah aplikasi game tentang sejarah Kota Semarang yang semakin dilupakan generasi muda. Khususnya, sejarah pertempuran 5 hari di Semarang.

Kenapa memilih tema itu? Ariyadi mengaku hal itu didasari oleh rasa keprihatinan dirinya terhadap generasi muda sekarang yang tidak tahu siapa tokoh penting dalam pertempuran 5 hari di Semarang itu.

”Pertempuran 5 hari di Semarang itu setiap tahun diperingati. Tapi banyak generasi muda sekarang yang tidak paham sejarah di balik pertempuaran tersebut. Makanya, saya pun tergerak untuk membuat game yang mengangkat sejarah pertempuran 5 hari itu,” katanya kepada Radar Semarang.

Dalam game yang dibuat sederhana itu, ia mengangkat sosok remaja yang melawan para penjajah dengan sebuah pistol demi menyelematkan Gubernur Jateng kala itu, Wongsonegoro.

”Game ini menceritakan seorang bocah yang melawan penjajah dengan gagah berani. Dia diharuskan melewati rintangan sekaligus menambaki para penjajah. Setting-nya di Tugu Muda dan Lawang Sewu,” jelasnya.

Game Atlas War itu dibuat Ariyadi selama setengah tahun. Sebab, ia harus melakukan riset selama 3 bulan dengan mencari sejarah dan referensi di Museum Mandala Bhakti. Ia juga harus melakukan wawancara kepada guru dan siswa di sejumlah sekolah untuk membuat game.

”Pembuatan game-nya sendiri selama 3 bulan. Rinciannya, 1 bulan desain, 1,5 bulan progam, sisanya testing. Tapi, sebelumnya saya melakukan riset hampir 3 bulan agar game ini bisa lebih diminati anak-anak. Dari riset tersebut didapat kesimpulan jika anak-anak lebih memilih game yang sederhana dan cenderung lucu. Itulah kesulitannya,” paparnya.

Saat pengerjaan, ia mengaku sempat menemui beberapa kendala. Bahkan, game yang menelan biaya hingga Rp 12 juta itu nyaris terhenti lantaran kerumitan program dan kesulitan dalam recording.

”Semua kesulitan akhirnya bisa diatasi. Game ini bisa dimainkan di komputer (PC) ataupun lewat smartphone dan android,” katanya bangga.

Saat mengikuti pameran teknologi industri di Gedung Lawang Sewu, ia sempat memamerkan game karyanya tersebut. Ia tidak menyangka game yang dibuat mendapatkan sambutan hangat dari para pengunjung.

”Banyak yang antusias buat mencobanya. Itu yang membuat saya ingin mengembangkan game ini agar lebih sempurna dan bisa meningkatkan rasa nasionalisme sekaligus mengajarkan generasi muda untuk belajar sejarah,” ujarnya.

Sayangnya, kata dia, hingga kini belum ada pihak yang bersedia menjadi donatur untuk biaya pengembangannya. Sebab, untuk penyempurnaan game itu butuh dana tidak kecil.

”Game ini hanya terdiri atas 5 level, seperti pada pertempuran yang terjadi selama 5 hari. Jika pemerintah mau membiayainya, saya bersedia untuk membuat game ini lebih menarik agar bisa disebarluaskan dan menjadi sarana meningkatkan nasionalisme dan mengajak generasi muda belajar sejarah lewat game,” katanya. (*/aro/ce1)