Demak Jadi Penyangga Peredaran Narkoba

413
 PENGEDAR : Kapolres Demak AKBP Raden Setijo Nugroho didampingi Kasubag Humas AKP Zamroni memintai keterangan tiga tersangka pengedar dan kurir narkoba, kemarin. (Wahib pribadi/radar semarang)

PENGEDAR : Kapolres Demak AKBP Raden Setijo Nugroho didampingi Kasubag Humas AKP Zamroni memintai keterangan tiga tersangka pengedar dan kurir narkoba, kemarin. (Wahib pribadi/radar semarang)

DEMAK- Demak menjadi daerah penyangga peredaran narkoba di wilayah Jateng. Ini diketahui setelah Polres Demak kembali berhasil menangkap tiga tersangka pengedar dan pemakai narkoba jenis sabu-sabu.
Mereka adalah Andi Riyanto, 34, warga Kampung Margorejo Timur, RT 5 RW 5, Kelurahan Kemijen, Semarang Timur. Kemudian, berdasarkan pengembangan pemeriksaan, polisi juga membekuk dua tersangka lainnya di Desa Purwosari, Kecamatan Sayung. Yakni, Budi Utomo, 22, warga Kelurahan Tambak Mulyo RT 7 RW 14, Semarang Timur dan Arif Wibowo, 28, warga Kelurahan Ngemplak Simongan, RT 6 RW 1, Semarang Barat.

Para tersangka tersebut sebelumnya diketahui mengedarkan dan memakai narkoba di Desa Pilangsari, Kecamatan Sayung. Kepolisian juga mengamankan beberapa barang bukti (BB) hasil kejahatan narkoba tersebut. Yakni, 13 bungkus sabu dalam plastik klip kecil, 3 pipa kaca, 1 ATM BRI dan BCA, 3 korek api gas, 4 potongan sedotan plastik, 1 selang karet, 1 bong botol kaca, 1 timbangan merek CHD, 1 botol kecil sumbu pembakar, 2 buah ponsel merek Oppo warna putih dan nokia hitam, 1 ponsel smartfren hitam, 3 nokia hitam dan blackberry. Salah satu tersangka, Andi mengungkapkan, sebelum menjadi pengedar atau kurir narkoba lintas daerah, ia menjadi operator karaoke di kawasan lokalisasi Gambilangu. Sabu kulakan atau ambil dari seseorang di Semarang. “Biasanya dihubungi, barang langsung di taruh di tempat tertentu dan tinggal mengambil barang itu. Barang diletakkan begitu saja di tempat parkiran maupun tempat sampah sesuai yang disepakati,” jelasnya. Ini dilakukan supaya tidak terendus aparat.

Andi mengatakan, ia membeli sabu-sabu dengan harga Rp 1.150.000 dari seseorang di Semarang. Sabu itu kemudian dijadikan 8 paket hemat dengan harga Rp 200 ribu per paket hemat. Ia mengaku terpaksa mengedarkan sabu untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Menurutnya, menjadi operator karaoke per dua jam hanya Rp 10 ribu sehingga tidak cukup untuk kebutuhan keluarga. Apalagi, harga BBM naik.

Kapolres Demak AKBP Raden Setijo Nugroho mengungkapkan, para pelaku diminta untuk merenungkan apa yang dilakukan. Sebab, bila itu terjadi di Malaysia, maka pengedar sabu-sabu bisa di hukum gantung sampai mati. Kapolres menambahkan, Demak merupakan salah satu daerah penyangga peredaran narkoba di Jateng selain Kota Semarang, Kudus, Jepara dan Grobogan. “Demak sangat rawan menjadi tempat transit peredaran narkoba,” katanya didampingi Kasubag Humas AKP Zamroni dan Kasat Narkoba Iptu Maryanto.

Menurut Kapolres, dalam setahun terakhir tercatat ada 14 kasus narkoba yang ditangani. Ini menunjukkan Demak potensial menjadi ladang peredaran narkoba tersebut. Atas kejadian ini, ketiga tersangka dijerat dengan UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. (hib/ric)