Harga Bersaing, Produk Tembus Luar Negeri

737
 PENGUSAHA MUDA: Bagus Rahargya (kiri) dan kapal speedboat yang diproduksinya. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)

PENGUSAHA MUDA: Bagus Rahargya (kiri) dan kapal speedboat yang diproduksinya. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)


Barangkali istilah buah jatuh tak jauh dari pohonnya layak disematkan kepada Bagus Rahargya. Meski awalnya bercita-cita menjadi musisi, akhirnya terjun juga menekuni bisnis orang tua membuat kapal. Bahkan dari situ, usahanya semakin sukses. Seperti apa?


AHMAD FAISHOL
, Mijen

DI tengah upaya pemerintah meningkatkan bidang kemaritiman Indonesia, menjadi berkah tersendiri bagi para pengusaha kapal dalam negeri. Bagaimana tidak, peluang mereka memproduksi kapal lebih benyak semakin terbuka. Selain itu, mulai menggeliatnya kapal cepat (speedboat) untuk kegiatan memancing sebagai gaya hidup, juga menambah ramai pasar perkapalan Indonesia.

Hal itu juga yang dirasakan oleh Bagus Rahargya, 26, pengusaha muda asal Mijen, Semarang yang tengah mengembangkan bisnis pembuatan kapal cepat (speedboat) di tingkat nasional. Bisnis tersebut meneruskan usaha sang ayah, Pudjo Atmadji, 58, yang telah merintis berdirinya CV Cemani Berkah Marine.

”Awalnya, ayah saya itu hobi memancing. Meski bergelar sarjana hukum, ia memilih untuk menekuni bisnis kapal setelah sering melihat kapal di Tanjung Emas dan berkenalan dengan beberapa partner kerja,” ungkap Bagus bercerita kepada Radar Semarang.

Alasan utama ayahnya memutuskan membuat speedboat karena ia merasa kapal yang ada saat itu kurang bagus, dan membutuhkan bahan bakar yang banyak. Ia yakin dapat membuat yang lebih baik dengan kualitas di atas rata-rata. Sebab, sebelumnya ia pernah mengambil kursus tentang fiberglass di mana bahan tersebut sangat awet dan lentur bila terendam air.

”Waktu itu ayah saya masih join dengan temannya. Lantaran permintaan meningkat, kemudian mulai membuat kapal sendiri setelah sebelumnya hanya mereparasi,” ujarnya sambil mengingat-ingat usaha itu dimulai sekitar tahun 1990-an.

Karena niat itulah kemudian sang ayah mengarahkan Bagus untuk belajar di D3 dan S1 Fakultas Teknik Jurusan Perkapalan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Awalnya, ia sempat ragu karena melenceng dari cita-cita awal menjadi musisi. Namun setelah dijalani baru menyadari bahwa manfaatnya luar biasa.

Setelah lulus kuliah, ia didaulat sebagai direktur yang menangani marketing dan promosi. Sementara sang ayah bergerak dalam pengerjaan di lapangan. ”Jika sebelumnya promosi hanya lewat gethok tular (mulut ke mulut) sekarang mulai menggunakan website dengan desain yang beraneka ragam,” imbuh alumnus SMA Negeri 13 Semarang ini.

Dari situ, usaha Bagus mulai berkembang. Pesanan pembuatan speedboat mulai berdatangan. Tidak hanya di tingkat lokal Semarang dan Jateng, tetapi juga hingga nasional. Bahkan ada beberapa pemesan dari luar negeri seperti Tahiti dan Bulgaria juga pernah menggunakan jasanya.

”Mungkin yang membedakan dengan perusahaan speedboat yang lain adalah kualitas istimewa, namun dengan harganya yang lebih terjangkau,” ungkap Bagus yang membuka usaha di rumahnya Jalan Raya Mijen No 125 RT 02 RW 02 Mijen Semarang ini.

Untuk satu kapal, Bagus mematok harga berkisar Rp 40 juta-Rp 350 juta. Tergantung ukuran dan jenis kapal. Bagi kalangan menengah ke atas, harga tersebut masih bisa dijangkau. Sebab, untuk satu kapal di Jakarta minimal membutuhkan Rp 60 juta.

”Selama ini, pemesannya masih dari kalangan personal dan swasta. Namun ke depannya ada rencana untuk menyasar instansi pemerintah,” ungkapnya seraya menginformasikan dalam setahun mampu memproduksi 10-15 buah kapal.

Di antara nilai lebih yang ditawarkan Bagus adalah layanan custom order. Sehingga pemesan dapat menentukan model dan karakter sesuai dengan keinginannya. Namun tidak lepas dari rambu-rambu pembuatan kapal. ”Untuk pembuatan kurang dari 12 meter masih dapat dikerjakan di sini. Namun untuk ukuran lebih, kami kerjakan di Jakarta dengan membawa tenaga ke sana,” imbuh Bagus yang mengaku pasar pembuatan kapal di Semarang masih dapat dihitung.

Salah satu kendala yang masih dirasakan Bagus saat ini adalah terkait masih minimnya sumber daya manusia. Untuk pekerja yang ia miliki hanya 5 orang anggota inti. Sehingga untuk mengerjakan satu kapal membutuhkan waktu 2-3 bulan. Selain itu, lokasi pengerjaan yang masih jauh dari pantai menjadikan adanya ongkos tambahan. ”Rencananya tahun 2015 ini kami akan turun ke bawah (daerah pantai). Karena galangan yang ada di Mijen masih sangat sederhana,” akunya merendah.

Pengalaman yang paling mengesankan bagi Bagus adalah ketika produknya mulai diminati banyak pelanggan. Menurutnya, ada semacam kepuasan dan rasa bangga ketika hasilnya diapresiasi banyak kalangan. ”Saya ini belum bisa dikatakan sukses, baru merintisnya,” pungkas suami dari Ryma Puspa Melaty yang baru melangsungkan pernikahan sebulan lalu ini. (*/aro/ce1)