Lahan Kritis Capai 208 Hektare

446
 HIJAUKAN LAHAN : Bupati Dachirin Said menanam pohon mahoni di turus jalan Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur, kemarin. (Wahib pribadi/radar semarang)

HIJAUKAN LAHAN : Bupati Dachirin Said menanam pohon mahoni di turus jalan Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur, kemarin. (Wahib pribadi/radar semarang)

DEMAK- Lahan kritis di wilayah Demak terus meluas. Kini, tercatat ada 208 hektare lahan kritis dan 15 ribu hektare lainnya berpotensi kritis. Terbanyak lahan kritis berada di daerah Kecamatan Karangawen dan Mranggen. Ini terjadi akibat alih fungsi lahan dan lahan yang belum dioptimalkan.

Kabid Perkebunan dan Kehutanan Dinas Pertanian (Dispertan), Suwarno, mengungkapkan, makin luasnya lahan kritis membuat pemerintah daerah terus berupaya menanggulanginya. Diantaranya dengan menggalakkan penanaman pohon keras. Kemarin misalnya, Dispertan menanam sebanyak 1.800 pohon mahoni dan 200 batang pohon buah mangga di Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur.

Dia mengatakan, desa tersebut kalau musim hujan rawan terjadi bencana banjir. Ini akibat tanggul sungai tidak kuat menahan arus air kiriman dari wilayah Salatiga dan Ungaran. “Desa Tlogoweru ini daerah tangkapan air sehingga kerap banjir lantaran tanggul sungai mudah jebol. Karena itu, selain memperbaiki tanggul kita juga menanam pohon keras sehingga bisa berfungsi menahan longsor tanggul,” katanya di sela penanaman 1 miliar pohon bersama Bupati Dachirin Said dan Sekda dr Singgih Setyono MMR, kemarin.

Selain menanam pohon, Dispertan sekaligus mengenalkan potensi burung hantu Tyto Alba yang dikembangkan di kampung yang dulunya berstatus desa tertinggal tersebut. Kepala Dispertan, Ir Wibowo mengatakan, sejauh ini pohon serupa sudah ditanam di lahan seluas 5.200 hektare, termasuk di kawasan hutan rakyat. Sedangkan, untuk mangrove yang ditanam sudah mencapai 6,2 juta batang. Jika dikonversi mangrove tersebut yang tertanam sudah mencapai 3.900 hektare. Meliputi, di wilayah Kecamatan Sayung, Karangtengah, Bonang dan Wedung. Kades Tlogoweru.

Sutedjo menambahkan, sudah 3 ribu lebih pengunjung dari luar daerah yang datang ke Desa Tlogoweru, termasuk 31 peneliti dari luar negeri. Antara lain, dari Singapura, Kanada, dan lainnya. “Di desa kami kita tanam 10 ribu pohon turi serta rumput gajah untuk ternak. Setiap tahun lahan pertanian disini bisa menghasilkan duit Rp 10,3 miliar,” katanya. Ini setelah banyak burung hantu yang membasmi tikus. Dampaknya, hasil pertanian meningkat.

Sekda dr Singgih Setyono mengatakan, penanaman pohon diharapkan bisa berfungsi menyerap emisi karbon. “Karena itu, tanam pohon yang dipusatkan di desa inovasi ini bisa mendukung sekaligus respon atas isu global tentang penanganan efek rumah kaca yang kini dilakukan berbagai negara di dunia,” jelasnya. (hib/ric)