Mantan Gigolo Ditembak

2667
 DIINTEROGASI: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono saat menginterogasi Iwan Agus Prasetyo kemarin. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)

DIINTEROGASI: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono saat menginterogasi Iwan Agus Prasetyo kemarin. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Seorang pria mantan pekerja seks atau gigolo ditembak oleh aparat Resmob Polrestabes Semarang. Dia diketahui eks kekasih Mayang Prasetyo, seorang WNI transgender (pria menjadi wanita, Red) yang tewas dimutilasi di Australia, beberapa waktu lalu.

Pria itu adalah Iwan Agus Prasetyo, 27, warga Jalan Saptamarga II, Kembangarum, Semarang Barat. Jumat (28/11) pagi, dengan tertatih dan kondisi tangan diborgol, Iwan digelandang ke Mapolrestabes Semarang. Dia ditangkap petugas Resmob yang dipimpin AKP Kadek dan Aiptu Janadi, terkait keterlibatan Iwan Agus Prasetyo dalam serangkaian aksi perampasan motor disertai pembacokan sadis di Semarang. Penangkapan itu sendiri dilakukan di rumah Iwan. Petugas terpaksa melumpuhkan menggunakan timah panas, karena tersangka berusaha kabur saat akan ditangkap.

Saat diperiksa penyidik, Iwan Agus Prasetyo mengaku punya latar belakang yang mengejutkan. Di antaranya, dia mengakui sebagai mantan pacar Mayang Prasetyo, seorang WNI transgender, yang telah berhubungan kurang lebih 7 tahun.

Iwan mengaku telah berpacaran dengan Mayang sejak 2004 hingga 2011. Alumnus SMP di Semarang yang memiliki tubuh atletis dan bertato ini mengenal Mayang saat merantau di Bali. Di Pulau Dewata itulah, Iwan bekerja menjadi gigolo atau pria pekerja seks komersial. Dari pekerjaannya tersebut, dia mengenal Mayang yang kemudian menjadi kekasihnya.

Sejoli ini tinggal serumah dan mengikat kisah asmaranya dengan saling bertukar nama tato di tubuhnya. Bahkan nama belakang “Prasetyo” juga disematkan di belakang nama Mayang, menjadi Mayang Prasetyo. ”Di punggung Mayang juga ada nama Prasetyo, sedangkan di tangan saya ditato tulisan nama Mayang. Tato itu dibikin dalam waktu bersamaan,” kata Iwan di Mapolrestabes Semarang, kemarin.

Dia mengaku mengetahui kalau Mayang adalah seorang transgender. Sejak berpacaran dengan Mayang, Iwan tidak diperbolehkan menjadi gigolo atau pria pekerja seks di Bali. ”Saya dilarang sama dia, dan diopeni (diberikan biaya hidup, Red) oleh Mayang,” akunya.

Iwan mengaku mengetahui seluk-beluk dan latar belakang Mayang Prasetyo. Dijelaskannya, saat itu, Mayang sendiri bekerja sebagai seorang pekerja seks melalui situs prostitusi online jaringan internasional. Khususnya, melayani pesanan seks untuk waria atau transgender. ”Saat itu, kami tinggal satu atap di rumah kontrakan di Jalan Imam Bonjol, Legian Kaje, Kuta Bali,” katanya.

Dijelaskannya, Mayang yang memakai akun Facebook Patricia Caramoi, sering melayani pesanan booking dari luar negeri, seperti Singapura dan Hongkong. Iwan mengaku sering menemani Mayang hingga tiga pekan di luar negeri. ”Kalau di Singapura, biasanya menginap di hotel daerah Bughis,” ujarnya.

Dikatakan Iwan, Mayang selama bekerja sebagai transgender mempunyai penghasilan besar. ”Tarif Mayang 1.500 USD per hari. Kalau 30 menit tarifnya 300 USD, 60 menit 500 USD,” bebernya.

Kendati demikian, kisah asmara sejoli tersebut akhirnya pupus. Hubungan cinta keduanya putus pada 2011 silam. Pria kelahiran Semarang, 8 Oktober 1983 ini mengaku, hubungannya dengan Mayang lambat laun mulai tidak harmonis. ”Dia over protektif dan temperemen tinggi,” imbuhnya.

Mayang juga dikatakannya, mempunyai selingkuhan pria lain yang kemudian menjadi suaminya. Mayang setelah putus, kemudian pindah ke Australia sebelum akhirnya diberitakan tewas dibunuh dengan cara sadis.

Setelah putus dengan Mayang, ia kembali ke kampung halamannya di Jalan Saptamarga II, Kembangarum, Semarang Barat. Dia kemudian mempersunting seorang perempuan asal Boyolali. Dia ingin mengubur masa lalunya yang kelam itu dan berusaha hidup normal dengan mencari nafkah sebagai penjual tahu. Buah perkawinannya itu, saat ini, ia telah dikaruniai seorang anak. Dia mengaku, mengetahui kabar kalau mantan kekasihnya tewas dibunuh dengan cara mutilasi dari berita televisi. ”Sedih mendengat kabar itu,” katanya.

Iwan sendiri akhirnya kembali terjerumus dalam dunia kejahatan di Semarang. Dia diduga terlibat komplotan perampasan motor yang dikenal sadis. Sebab, saat beraksi tak segan membacok korbannya menggunakan senjata tajam.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono mengatakan, berdasarkan pengakuannya, dia telah melakukan perampasan dan penjambretan sebanyak 12 kali. Di antaranya, di Sampangan, Banyumanik, dan Papandayan. Aksi terakhir dilakukan di Jalan Papandayan, Senin (29/9) sekitar pukul 19.30, dengan korban seorang pelajar, Dicky Aditya Putra, 17.

”Motor hasil rampasan dijual Rp 3 juta per unit. Tersangka tak segan membacok korbannya,” kata Djihartono.
Atas perbuatannya, Iwan dijerat pasal 365 tentang pencurian dengan kekerasan yang diancam hukuman paling lama 9 tahun penjara. (mg5/aro/ce1)