Belajar Otodidak, Jadi Langganan Perusahaan Asing

473
KELAS INTERNASIONAL : Dirjen EKMDI, Hari Waluyo memberikan materi tentang desain kepada ‎warga Desa Kaliabu Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
 KELAS INTERNASIONAL : Dirjen EKMDI, Hari Waluyo memberikan materi tentang desain kepada ‎warga Desa Kaliabu Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)

KELAS INTERNASIONAL : Dirjen EKMDI, Hari Waluyo memberikan materi tentang desain kepada ‎warga Desa Kaliabu Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)


Kabupaten Magelang memiliki potensi besar di bidang desain grafis. Ratusan anak muda dari berbagai desa berhasil membuat desain kreatif untuk sejumlah perusahaan di luar negeri. Seperti apa?

MUKHTAR LUTFI, Mungkid

Dunia desain grafis awalnya menjadi hal yang asing bagi sebagian besar warga Desa Kaliabu Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang yang mayoritas petani. Tapi desain grafis telah mampu mengubah hidup warga, terutama kalangan muda.

Koordinator Rewo-Rewo Kaliabu Community Abdul Bar mengatakan di Desa Kaliabu Kecamatan Salaman tumbuh ratusan desainer muda. Mayoritas merupakan pemuda pengangguran yang akhirnya mau menekuni pekerjaan baru tersebut.

Setiap bulan para pemuda desa tersebut berhasil membuat desain dan logo untuk perusahaan-perusahaan besar di Australia, Belanda, Jepang dan negara-negara besar lainnya. “Kami belajar secara otodidak,” ungkapnya.

Dia berharap pemerintah ikut mendorong semangat pemuda desa tersebut. “Kami mengalami keterbatasan bahasa Inggris dan fasilitas internet. Maklum desa kami berada di pinggiran,” ungkapnya.

Kehidupan desainer grafis di Kaliabu juga sempat dibuat film dokumenter oleh Amron Muhzawawi dan M Aprianto. Film berjudul Desainer Kampung tersebut menjadi finalis kompetisi film dokumenter sebuah stasiun televisi swasta nasional.

Khoirul Muhibin atau yang biasa disapa Ibin adalah salah satu contoh yang berhasil mempelajari desain grafis secara otodidak. Buruh tani ini baru mengenal komputer sekitar setahun yang lalu. Ia tak pernah mengenyam pendidikan desain grafis secara formal. Tapi karyanya dan pemuda Kaliabu lainnya, sekarang banyak digunakan perusahaan-perusahaan besar di Amerika, Eropa atau Australia.

Fahmi Baehaqi juga memiliki kisah yang sama dengan Ibin. Hasil daya kreatifnya kini telah menghasilkan ribuan dolar Amerika. Ia bahkan pernah dicurigai oleh pihak bank karena banyak transaksi dari luar negeri ke rekeningnya. “Maksimal pendapatan satu bulan 20 juta,” aku Fahmi.

Guna meningkatkan keterampilan mendesain, Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Media Desain dan Iptek (EKMDI) Kementerian Pariwisata memberikan pelatihan di Desa Nusupan dan Desa Kaliabu Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Kegiatan ini diikuti oleh para desainer grafis asal kecamatan pinggiran itu.

“Saya sangat bangga melihat anak-anak ini. Ini jadi satu hal yang luar biasa. Mereka dari desa jauh dari fasilitas tapi mereka bisa berhasil menembus pasar internasional,” kata Dirjen EKMDI, Hari Waluyo di tengah-tengah lokakarya, Sabtu (29/11) lalu.

Melalui pelatihan ini, dia berharap bisa memberikan tambahan ilmu pengetahuan. “Apalagi mereka kan belajar secara otodidak, jadi mungkin ada tahapan-tahapan yang terlewati,” katanya.

Lebih lanjut, dia berharap kepada para desainer tetap mempertahankan ciri khas keindonesiaan meski telah memiliki klien di berbagai negara. Kekhasan Indonesia jangan dihilangkan, karena bagian dari identitas bangsa.

Melalui pelatihan ini, pihaknya juga mendorong supaya mereka mengaplikasikan desain ke dalam berbagai media. “Selama ini mereka justru belum menyentuh pasar lokal. Padahal sangat memungkinkan untuk dikerjakan,” kata dia. (*/ton)