Fransisca Etty Siap Buktikan Novum

369

KRAPYAK – Fransisca Etty, terpidana kasus perkara pencemaran nama baik terhadap mantan General Manager (GM) Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) Undaranto Pudjiharmoko siap membuktikan novum (bukti baru). Atas permohonan upaya hukum luar biasa Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan di Pengadilan Negeri (PN) Semarang.

Menurutnya, novum tersebut yang akan membuktikan bahwa putusan majelis hakim terhadapnya tidak tepat. Alasannya, ia hanyalah korban dari tindak kriminalisasi. ”Pada persidangan yang lalu, JPU (Jaksa Penuntut Umum) menilai memori PK yang saya ajukan mengada-ada. Nanti akan saya buktikan tentang kebenaran novum itu,” ungkapnya kepada Radar Semarang, Minggu (30/11).

Fransisca menjelaskan, novum yang dimaksud adalah tidak ditemukannya berkas perkara Nomor BP/97/K/BAP/ VIII/2006/Reskrim tertanggal 10 Agustus 2006 dalam bundel A perkara Nomor 916/Pid-B/2006/ PN.Smg yang digunakan sebagai bahan penuntutan dan penjatuhan pidana atas dirinya. Sehingga majelis hakim dinilai telah khilaf dalam memutus perkara ini.

”Dalam Bundel A itu, yang ada hanya lembar-lembar fotokopi yang tidak memiliki nilai yuridis sama sekali dan dibukukan menyerupai berkas perkara tanpa segel resmi dari kepolisian,” bebernya.

Dalam tanggapan atas memori PK tersebut, lanjut Fransisca, JPU pada Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang, Rilke Djenri Palar SH mengakui bahwa menyeret seseorang ke pengadilan dengan berkas perkara fotokopi tidaklah mungkin. Oleh karena itu, ia akan berusaha membuktikannya dengan menghadirkan dua saksi lain. ”Nantinya akan ada ada tiga saksi termasuk saya sebagai penemu novum. Sesuai jadwal, sidang yang akan datang digelar Selasa (2/12) besok,” imbuhnya.

Ditambahkan, pihaknya juga telah secara khusus mengirimkan surat resmi permohonan kepada Ketua PN Semarang bernomor 097/XI/FE/2014 tertanggal 27 November 2014 untuk menghadirkan barang bukti berupa bundel A perkara Nomor 916/Pid-B/2006/ PN.Smg dalam persidangan bersama dengan Staf Arsip PN Semarang. ”Mengingat barang bukti tersebut disimpan di arsip PN Semarang. Demi terangnya masalah, transparansi, keadilan dan kebenaran yuridis,” tegas Fransisca. (fai/ida/ce1)