Psikotes SIM Dinilai Memberatkan

593
KESELAMATAN BERKENDARAAN- Petugas Satlantas Polres Semarang saat sosialisasi aturan lalulintas dan savety riding di sejumlah sekolah di Kabupaten Semarang. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
 KESELAMATAN BERKENDARAAN- Petugas Satlantas Polres Semarang saat sosialisasi aturan lalulintas dan savety riding di sejumlah sekolah di Kabupaten Semarang. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

KESELAMATAN BERKENDARAAN- Petugas Satlantas Polres Semarang saat sosialisasi aturan lalulintas dan savety riding di sejumlah sekolah di Kabupaten Semarang. (FOTO: PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

UNGARAN- Penerbitan Surat Izin Mengemudi (SIM) diperketat dengan menambah salah satu ujian yakni psikotes bagi pemohon SIM baru maupun perpanjangan. Rencananya psikotes untuk pemohon SIM A (pengemudi mobil) baru dan perpanjangan di Polres Semarang akan diberlakukan 1 Desember 2014 ini. Pemberlakukan psikotes bagi pemohon SIM tersebut banyak ditentang oleh sejumlah masyarakat. Sebab Psikotes selain memberatkan saat mengurus SIM, sehingga terkesan lebih mempersulit dalam memperoleh SIM.

Kapolres Semarang, AKBP Muslimin Ahmad melalui Kasatlantas Polres Semarang, AKP Alil Rinenggo mengatakan, di seluruh Indonesia akan diberlakukan Psikotes bagi pemohon SIM A, B dan C. Sementara ini di Polres Semarang per 1 Desember 2014 ini pemohon SIM A baru maupun perpanjangan harus menjalani Psikotes. Ke depan menurut Alil, tes untuk mengetahui kondisi psikologi pengendaranya juga akan diterapkan pada pengajuan SIM C. “Per 1 Desember ini permohonan SIM A baru maupun perpanjangan harus lulus Psikotes. Kita menggandeng dua lembaga psikologi untuk menguji para pemohon SIM tersebut. Jika tidak lulus, maka tidak dapat SIM, kalau perpanjangan SIM dan tidak lulus psikotes maka dipending dulu,” tutur Alil, kemarin.

Alil mengatakan, psikotes tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi kejiwaan para pengemudi atau sopir. Sehingga ketika diketahui kondisi kejiwaannya tidak memungkinan, maka SIM tidak dikeluarkan. Sebab ketika kondisi psikologisnya kurang bagus, sering kali emosionalnya tidak stabil. Banyak kasus kecelakaan disebabkan karena kesalahan sopir. Seperti melanggar marka dan rambu-rambu lalulintas.

Menanggapi rencana tersebut banyak warga yang keberatan. Alasannya penerapan psikotes dalam pengajuan SIM akan memberatkan para pemohon. Sebab dengan tes regular yang selama ini dilaksanakan saja, banyak yang tidak lulus. Apalagi ditambah dengan psikotes, sehingga akan lebih banyak lagi yang tidak lulus. “Menurut saya itu aturan baru yang lebay atau berlebihan dan bikin ribet. Dasar pemberlakuan psikotes itu apa? Kalau untuk antisipasi kecelakaan tidak harus diberlakukan psikotes. Sebab kecelakaan itu tidak terjadi karena human eror saja tetapi infrastruktur dan kelengkapan lalulintas jalan juga menjadi sumber masalah,” tutur Yudi Ashudi, 52, warga Perum Mapagan, Ungaran Barat, Kota Ungaran. Sementara itu Koko Komarullah, 37, warga Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang menilai pemberlakuan psikotes tentunya akan memberatkan para pemohon SIM. (tyo/zal)