Resahkan Kondisi Gunung Slamet Jadi Ide Awal

464
PESAWAT INTAI: Mahasiswa Undip menunjukkan purwa rupa Unmanned Aerial Vehicle (UAV), di kampus. (DOK PRIBADI FOR RADAR SEMARANG)
 PESAWAT INTAI: Mahasiswa Undip menunjukkan purwa rupa Unmanned Aerial Vehicle (UAV), di kampus. (DOK PRIBADI FOR RADAR SEMARANG)

PESAWAT INTAI: Mahasiswa Undip menunjukkan purwa rupa Unmanned Aerial Vehicle (UAV), di kampus. (DOK PRIBADI FOR RADAR SEMARANG)

Berangkat dari keinginan dan keresahan yang sama, mahasiswa asal daerah Gunung Slamet menciptakan pesawat yang dapat mengintai kondisi gunung. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO

MAHASISWA Fakultas Teknik (FT) Universitas Diponegoro (Undip), kembali terlibat dalam proyek rekayasa teknologi terbaharukan. Kali ini, berasal dari tangan dingin mahasiswa asal daerah sekitar Gunung Slamet. Adalah Hafidz Aly Hidayat, Rousyan Faikar, Aristya Panggi Wijaya, Aip Saripudin, dan Sumardi.

Mereka, merupakan mahasiswa semester akhir, yang merancang replika (purwa rupa) Unmanned Aerial Vehicle (UAV) demi sumbangsih kemanusiaan. ”UAV adalah semacam pesawat pengintai. Daya jelajahnya cukup bagus dan memungkinkan untuk mendukung misi-misi kemanusiaan,” tutur Aristya Panggi, kemarin.

Ide tersebut muncul lantaran ada keresahan empat mahasiswa di antaranya, yang berasal dari daerah Gunung Slamet. Yakni, di antaranya tinggal di kawasan Pantai Selatan dan Eks Karesidenan Banyumas. Jarak tempat tinggal mereka dengan gunung tertinggi di Jateng ini, cukup dekat.

Fenomena gunung yang selama ini terkenal pendiam, tiba-tiba sangat aktif turut mengusik nalurinya untuk meneliti. Setelah beradu gagasan, para mahasiswa brilian itu sepakat menemukan alat pemantau kondisi gunung.

Sebagai gunung tertinggi di Provinsi Jateng, Gunung Slamet dikenal memiliki medan pendakian dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Bila aktivitasnya meningkat, dibutuhkan alat khusus pemantau situasi.

”Peningkatan aktivitas kegunungapian diikuti dengan munculnya fenomena erupsi, guguran lava pijar, gempa tremor hingga fenomena awan panas. Tentunya fenomena tersebut sangat membahayakan dan tak boleh sembarangan orang mendekat,” imbuh Hafidz Aly.

Gambaran orang hilang, rumah terbakar, hingga lahar menerjang permukiman penduduk mendorong mereka menciptakan replika pesawat mini tanpa awak. Alat ini dilengkapi kamera sejenis Avsender Boscam untuk mentransmisikan gambar sejauh 0,9 kilometer di darat dan 0,4 kilometer di udara. Selebihnya mendapat dukungan baterai litium polimer, pengatur arah, dan motor penggerak.

Dikatakan Hafidz, kendala pembuatan pesawat tersebut adalah menyeimbangkan masing-masing sayap pada ketinggian tertentu. ”Kami jelas tetap menghitung dan menggunakan rumus fisika. Namun beberapa kali, tetap tidak bisa tepat. Terkadang pesawat seperti oleng sendiri,” ujarnya.

Namun dari hasil pengujian transmisi, kata Hafidz, radio pengendali akan mampu mengontrol pesawat sejauh 0,85 kilometer di darat maupun di udara. Kondisi ini bisa menjaga keselamatan operator yang menjalankan UAV dari kejauhan. Alat ini juga bermanfaat untuk melakukan pencarian melalui udara, jika muncul korban akibat letusan gunung berapi.

Mengandalkan pencarian korban melalui darat yang kurang cepat merupakan kendala. Medan hutan yang naik turun bukit dan penuh dengan semak belukar membuat perjalanan menjadi terhambat. ”Korban hilang di hutan perlu segera diselamatkan, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Medan hutan yang sulit ditebak, menjadikan mereka bisa jatuh ke dalam jurang atau diterkam hewan buas,”’ imbuh Aip.

Karena itulah, pemantauan udara merupakan hal yang bisa dilakukan untuk mempercepat pencarian awak hilang dan tidak cukup terganggu oleh medan hutan. ”Alat ini pernah kami diikutkan dalam Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) di Semarang, menyabet medali emas,” katanya bangga.

Ketika ditanya mengenai budget yang dikeluarkan untuk pembuatan pesawat tersebut, keempat mahasiswa enggan menyebutkannya. ”Habis berapa, kami lupa,” ujar Aip sembari saling menatap mata satu sama lain.

Para mahasiswa kreatif ini berharap, ke depan pesawat ciptaan mereka dapat lebih dikembangkan menjadi pesawat pengintai profesional yang dapat digunakan oleh instansi-instansi pemerintah. (*/ida/ce1)