Semarang Lebih Menantang

417
ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG
ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG
ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG

LAHIR dan besar di Denpasar Bali ternyata tidak membuat Christanti Putri, ingin mengembangkan karir di Pulau Dewata tersebut. Putri –nama sapaannya— lebih memilih Semarang lantaran ingin menjadi wanita yang sukses dan menggapai karir yang tinggi.

”Saya memilih Semarang karena merasa tertantang bekerja di sini,” kata wanita kelahiran Denpasar, 10 Mei 1983 ini.
Menurut Putri, bekerja di Bali relatif lebih mudah karena merupakan destinasi wisata yang terkenal sampai mancanegara. Namun tidak dalam segi karir. Lapangan pekerjaan di Bali, menurut dia, memiliki jenjang karir yang sangat terbatas, karena rata-rata pemilik usaha di pulau indah itu warga negara asing.

”Memang di sana cari uang dan pekerjaan lumayan mudah apalagi di bidang pariwisata. Tapi untuk memiliki jabatan atau untuk mengejar jenjang karir sangatlah susah. Jadi, saya putuskan untuk merantau dan kuliah di Semarang,” tandas sales executive @Hom Hotel Semarang ini.

Selepas lulus SMA, Putri kuliah di DIII Ekonomi Akuntansi Universitas Diponegoro (Undip) pada 2010. Begitu meraih gelar sarjana muda, Putri bergabung di E-Plaza Semarang selama 5 tahun dengan jabatan terakhir Supervisor Marketing and Promotion.

”Sempat kembali ke Bali selama setahun, tapi di sana saya tidak merasa tertantang. Akhirnya saya kembali ke Semarang,” kenangnya.

Puas berkarir di E-Plaza, Putri mencoba mengadu nasib dengan terjun di dunia perhotelan. Ia mengaku penasaran dengan perkembangan dunia perhotelan di Kota Atlas yang begitu pesat.

”Obsesi saya ke depan tentu ingin mengembangkan dan memajukan hotel tempat saya bekerja di tengah persaingan hotel berbintang di Kota Semarang,” ucap penyuka senam yoga.

Selain yoga, Putri kerap menghabiskan waktu santainya dengan membaca buku-buku tentang filosofi hidup. Salah satu buku kesukaannya adalah Chicken Soup for The Soul dan Benjamin of Button.

”Buku itu menceritakan seorang anak yang lahir dengan wajah yang tua. Tapi dari kekurangannya, ia tidak pernah ragu untuk melangkah dan meraih cita-cita. Dengan membacanya tentu bisa dijadikan motivasi hidup, apalagi dalam pekerjaan,” katanya. (den/aro/ce1)