Sepakat Penyelesaian Secara Kekeluargaan

382

UNGARAN – Perjuangan janda empat anak bernama Sumariyah, 60, warga Kampung Sarowo RT 2 RW 3, Kelurahan Kalirejo, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, selama 11 tahun untuk mendapatkan hak tanah mendapatkan banyak dukungan. Setelah sebelumnya Ombudsman Republik Indonesia (ORI) ikut mendukung, kini LBH Lindu Aji Semarang akan mengajukan gugatan melawan PT Cendrateks Indah Busana (CIB) atas tanah 11.050 meter persegi peninggalan suami Sumariyah, Nasrudin.

Sengketa tanah antara PT Cendrateks Indah Busana (CIB) dengan keluarga Sumariyah akhirnya menemukan titik temu. Kedua belah pihak melalui kuasa hukumnya, Senin (1/12) sepakat untuk menyelesaikan sengketa tersebut secara kekeluargaan. Kuasa Hukum, Sumariyah, dari LBH Lindu Aji, Toni Triyanto mengatakan, mediasi pertama juga membicarakan masalah ganti kerugian lahan. Hanya saja, belum disepakati nominal uang ganti rugi tersebut.

“Kuasa hukum perusahaan CIB sudah ada itikad baik untuk menyelesaikan secara kekeluargaan. Kami tentu siap untuk menyelesaikan secara kekeluargaan,” ungkap Ketua LBH Lindu Aji, Toni Triyanto, yang mendampingi keluarga Sumariyah dalam mediasi dengan CIB di Ungaran, Senin (1/12) kemarin.

Toni menambahkan, jika nanti disepakati ganti kerugian tentunya tidak hanya dilakukan Cendrateks melainkan melibatkan Samsudin dan Muh Umar yang memalsukan dokumen tanah sehingga bisa beralih nama dan dijual kepada Cendratex. “Ganti ruginya kami belum menghitung berapa, yang jelas harus layak karena berada di pinggir jalan. Jika memang pada akhirnya tidak menghasilkan solusi yang baik kami akan mendesak kantor pertanahan membatalkan sertifikat dan dieksekusi nantinya,” ujarnya.

Sementara itu Kuasa hukum PT CIB, Heri Sulistyono menjelaskan pihaknya masih akan mengumpulkan data dan menginventarisir persoalan yang ada setelah mediasi kemarin. Menurut Heri, pihaknya belum membahas masalah ganti rugi. “Belum ada pengajuan nilai dari pihak ahli waris, kami juga masih akan menarik pihak yang bertanggungjawab di masalah ini untuk ikut mediasi, yakni pihak penjual tanah,” tutur Heri.

Seperti diberikan Radar Semarang sebelumnya, sengketa tanah keluarga Sumariyah dengan PT CIB telah terjadi sejak tahun 2003. Almarhum Nasrudin, suami Sumariyah memiliki tanah seluas 11.050 meter persegi di Desa Pringapus. Tanpa diketahui ahli waris, tanah tersebut beralih kepemilikan dengan munculnya HM 370 atas nama Samsudin. (tyo/zal)