Kesampingkan Pakem, Rusak Estetika

388
PERSIAPAN SERTIFIKASI: Para instruktur berbagi tip cara mendesain florial yang benar agar para floris bisa lolos sertifikasi Januari mendatang. (Ajie Mh/Radar Semarang)
 PERSIAPAN SERTIFIKASI: Para instruktur berbagi tip cara mendesain florial yang benar agar para floris bisa lolos sertifikasi Januari mendatang. (Ajie Mh/Radar Semarang)

PERSIAPAN SERTIFIKASI: Para instruktur berbagi tip cara mendesain florial yang benar agar para floris bisa lolos sertifikasi Januari mendatang. (Ajie Mh/Radar Semarang)

SEMARANG – Banyak desainer perangkai bunga (florist) yang mengesampingkan pakem dalam mengembangkan teknik merangkai bunga. Akibatnya, hasil rangkaian justru merusak estetika itu sendiri.

Hal itu terungkap dalam Sosialisasi Kompetensi Desain Florial yang digelar Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Seruni di Dekoning Jalan Pemuda, Selasa (2/12) kemarin. Acara ini sekaligus persiapan uji sertifikasi yang akan digelar di Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang, Januari mendatang.

Salah satu instruktur di LKP Seruni, Lili Kanggoana mengungkapkan bahwa membuat florial gampang-gampang susah. Setiap detil jenis bunga, kombinasi warna dan ukuran harus diperhitungkan. ”Mungkin bagi florist, florial karyanya sudah bagus. Tapi bagi penguji sertifikasi bisa dianggap salah, karena belum memenuhi pakem yang ditetapkan,” kata Lili.

Salah satu pakem yang kerap dilanggar adalah urutan penancapan bunga. Jika salah, menyebabkan kurang proporsional ketika dilihat dari sisi yang berbeda. Pendesain kadang hanya mempercantik bagian depannya saja tanpa mempertimbangkan bagian atas atau belakang.

Selain itu, peserta sertifikasi harus tahu nama-nama ilmiah setiap jenis bunga, terutama yang kerap digunakan dalam seni florial. Pasalnya, jika ada job dari luar negeri, bisa gampang mencari bahan bakunya. ”Orang luar tidak tahu bunga anyelir, kembang telek-telekan dan lainnya. Memang ada bahasa Inggrisnya. Tapi akan lebih mudah jika menyebutnya dengan bahasa latin,” pungkasnya.

Sementara itu, pelatihan tersebut diikuti 100 peserta yang terdiri atas anggota PKK, pengajar, dan ibu rumah tangga dari Kota Semarang dan sekitarnya. Mereka diberikan tip lolos sertifikasi oleh tim dari Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI) dan Dinas Pendidikan Semarang. ”Jika bisa lolos sertifikasi, florist dipastikan akan banjir job. Tidak hanya dari dalam kota, ada kemungkinan perusahaan-perusahan besar dari luar negeri pun ikut order,” kata Ketua Panitia Pelatihan, Muninggar Sutadi. Pihaknya mendapatkan suntikan dana dari pemerintah untuk memberikan sosialisasi atau contoh penilaian saat sertifikasi. (mg16/ida/ce1)